Thursday, 30 January 2014

Keberadaan Rumah Rakit di Tengah Ancaman Modernisasi

Nyaris Punah, Minim Perhatian



Keberadaan Rumah Rakit di Tengah Ancaman Modernisasi

Rumah apung atau lebih dikenal rumah rakit, hingga kini masih menghiasi Sungai Musi. Bentuknya yang unik menjadi daya tarik tersendiri. Tidak ada rasa takut penghuninya mendiami rumah tersebut. Sayang, jumlahnya tak banyak lagi.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •



Bagi masyarakat Palembang, sebutan rumah rakit tidak asing lagi. Bahkan pada zaman Kesultanan Palembang pendatang yang berkunjung harus menetap di atas rakit termasuk warga Inggris, Spanyol, Belanda, Cina, Campa, Siam, bahkan Kantor Dagang Belanda pertama berada di atas rakit, lengkap dengan gudangnya. Rumah rakit ini selain sebagai tempat tinggal, juga berfungsi sebagai gudang, dan kegiatan ekonomi.

Memang, keberadaan Sungai Musi kala itu sangat vital hingga menjadi urat nadi Kota Palembang. Bahkan, menjadi jalur transportasi perdagangan lintas negara. Hingga saat ini, rumah tersebut masih lestari. Tapi, jangan salah, lambat-laun terancam punah jika pemerintah enggan melestarikan rumah yang menjadi warisan turun-temurun masyarakat Palembang ini.

Rumah rakit sendiri pada dasarnya merupakan bentuk rumah yang tertua di Kota Palembang dan mungkin telah ada pada zaman Kerajaan Sriwijaya. "Rumah rakit sudah ada sejak dulu. Orang tua saya lama tinggal di rumah ini, kami sangat bersahabat dengan sungai," ujar Ridwan, warga yang bermukim di pinggiran sungai.

Keberadaan rumah rakit jangan dijadikan sesuatu yang aneh, justru ini menjadi aset daerah yang harus dipertahankan. Memang, zaman sekarang sedikit sekali yang mau tinggal di sungai, kebanyakan di darat. Tapi, itulah hasil karya masyarakat temp dulu. Artinya, patut dihargai, sehingga menjadi kebanggaan bersama.

"Itu ada jiwanya, jadi tidak bisa dipaksakan. Tentunya, rumah rakit ini harus dijaga kelestariannya. Jika tidak, maka hanya akan menjadi cerita bagi anak cucu kita," terangnya. Pemerintah tentunya jangan tinggal diam. Harus ada upaya pelestarian, dengan tetap menjaga kebersihan sungai. Karena pada dasarnya, rumah rakit itu terbilang unik.

Fondasi terbuat dari bambu yang menjadi bahan utama membuat rakit. Bahan bambu inilah yang membuat rumah rakit bisa mengapung. Naik serta turun, tergantung pasang surut sungai. "Terlepas dari apa yang melekat pada rumah rakit tersebut, tentunya menjadi catatan bersama, bahwa jika keberadaan rumah rakit tersebut berkurang, maka anak cucu kita hanya akan mendengar ceritanya saja, tanpa mampu menyaksikan bentuk rumah rakit dimaksud," katanya.

Hasyim (67), warga asli Palembang, punya cerita tersendiri tentang rumah rakit ini. Menurutnya, rumah yang berbahan baku bambu baratapkan kajang kala itu, kerap dihuni warga asing dari Cina. "Warga Cina yang hendak berdagang ke Palembang kala itu banyak bermukim di rumah rakit karena, permukiman di daratan belum ada. Itulah sebabnya, pada zaman Kesultanan Palembang, orang asing harus menghuni rumah rakit," ujarnya.

Masih kata dia, rumah rakit ini peninggalan nenek moyang yang harus dilestarikan. Memang, tidak semua orang mampu membuat rumah rakit, karena rumah tersebut membutuhkan dana besar. Terlebih, setiap tahun bambu sebagai bahan utama, harus dilakukan penggantian. Jika dibiarkan saja, maka berdampak pada kerusakan yang menimbulkan tenggelamnya rumah tersebut. (roz/asa/ce4)

Didesain Ikuti Pergerakan Air



Dahulu, rumah terbuat dari kayu dan bambu yang menggunakan atap kajang (nipah) dan sirap. Belakangan ini, menggunakan atap seng, karena bahan yang lebih ringan dan bisa menahan tiupan angin kencang. Rumah rakit memang hanya terdapat di Palembang, Sumsel. Konon, dahulu merupakan hunian keturunan Tionghoa.Rumah rakit merupakan bentuk rumah tertua di Kota Palembang dan telah ada pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Saat itu, penduduk asing yang berniaga harus tinggal di rumah rakit karena mereka tidak diberikan izin untuk menetap di daratan.

Rumah rakit ini tidak hanya dijadikan tempat tinggal bagi puluhan keluarga, tetapi menjadi lokasi strategis berniaga. Namun, puluhan rumah rakit di Sungai Musi sebagian besar berupa bangunan yang terbuat dari bahan kayu yang tampak rapuh.

Yanto (47), pemilik rumah rakit di kawasan Kertapati mengakui, tinggal di rumah rakit karena tidak mampu membeli rumah di darat. "Dulu, kami membangun rumah di atas sungai karena tidak mampu menyewa tempat tinggal di darat," ujarnya.

Ia menjelaskan membangun rumah rakit lebih dari 20 tahun lalu dan hanya cukup diketahui RT dan warga sekitar sungai. Rumah rakit tersebut terbuat dari kayu berupa papan seperti umumnya rumah di darat.

Di dalam ada ruang tamu, ada ruang tidur, ruang tengah untuk nonton TV, kamar mandi, dapur seperti layaknya rumah tinggal kita di daratan. Rumah Yanto tersebut diadaptasi dengan kondisi arus air karena didesain persis rakit kayu yang akan bergerak ketika air bergerak. "Ketika musim hujan, air sungai pasang, biasanya rumah berada di tengah sungai. Ketika sungai surut, rumah pun bergeser ke tepi," katanya lagi.

Menurutnya, rumah rakit dibuat dengan sistem knockdown. Maksudnya, bagian-bagian rumah, seperti pintu, jendela, dan lainnya sudah dibuat terlebih dahulu. Pemerintah harus benar-benar serius untuk melestarikan rumah rakit. (roz/ce4)

Jadi Ikon Sungai Musi

Pengamat budaya dan sejarah Palembang, Ali Hanafiah, mengatakan, rumah apung atau rumah rakit tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Sungai Musi sebagai jalur perdagangan internasional sejak zaman dahulu.

Ali yang menjabat Kepala UPTD Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang ini berharap, pemerintah kota memperhatikan dan melestarikan rumah rakit. "Pemerintah, warga, dan budayawan harus duduk bersama untuk mencari solusi terbaik agar rumah rakit tetap eksis dan menjadi ikon Sungai Musi. Misalnya, pemerintah bisa menjadikan rumah rakit sebagi hotel atau tempat penginapan yang menarik bagi para turis dan wisatawan yang ingin menikmati keindahan Sungai Musi," ungkapnya.

Ali menyatakan, pembangunan rumah rakit sangat jarang dan warga kurang meminatinya. Tapi, demi kelangsungan salah satu ikon budaya Palembang ini, maka mau tidak mau keberadaan rumah rakit tetap harus dipertahankan pemerintah.

Agar rumah rakit diminati banyak kalangan, maka rumah tersebut harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, walau tidaklah mengubah seratus persen bentuk dan struktur bangunan.

"Kalau bisa, isi dalam rumah rakit dibuat lebih modern biar warga atau turis merasa nyaman. Tapi untuk bagian luar tetap dipertahankan, yakni bahan utama bambu dan kalau bisa menggunakan atap dari nipah, biasanya dicat berwarna merah dan biru, sebagi ciri khas rumah rakit sejak zaman dulu," ujarnya.

Pada masa kini, rumah rakit lebih memilih menggunakan atap dari bahan seng dan genteng, sementara nipah sudah ditinggalkan. Alasannya, karena nipah rawan ditiup badai dan angin kencang. Selain atap nipah, salah satu ciri khas dari rumah rakit adalah adanya toilet terapung. (roz/ce4)

Sumatera Ekspres, Selasa, 28 Januari 2014

Thursday, 16 May 2013

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang (2/Selesai)

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang
Photo: Koleksi LEMABANG 2008. Musibah kebakaran yang terjadi di Jl Yos Sudarso, Lr Damai, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, Lemabang, Palembang, beberapa tahun lalu (8/9/2011)

Meski bukan aparat TNI atau Polri, tapi menjadi seorang anggota pemadam juga butuh nyali besar. Untung saja konsep pelatihan dan pendidikan yang diterapkan kepada seluruh anggota menggunakan metode semi-militer. Pasalnya, banyak sekali kendala dan rintangan dalam tugas di lapangan..

================================
================================

Dikejar waktu untuk tiba di lakosi dam kompleksnya lokasi, membuat anggota Badan Penanggunalangan Bencana Daerah dan Pemadam kebakaran (BPBD-PK) Palembang rentan terhadap kecelakaan.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang“Untung saja sejauh ini belum ada personel kita yang mengalami kecelakaan dalam tugasnya. Kalau yang terbakar ringan pada tangan ada. Kami menekankan prensip kehati-hatian dengan menggunakan safety first yang benar,” kata Kepala BPBD-PK Palembang, Dicky Lenggardi saat dibincangi santai di kantornya oleh wartawan koran ini, kemarin.

Karena menyangkut nyawa, baik personel maupun penghuni rumah/gedung yang terbakar, penting menekankan kepada seluruh personel pemadam kebakaran untuk tidak melakukan kesalahan. “Tidak boleh ada kesalahan sedkiti pun, karena akan berakibat fatal. Tidak hanya untuk dirinya, tapi juga personel lainnya,” jelasnya.

Semua personel BPBD-PK Palembang dituntut mampu bekerja sama dalam tim. Makanya, kata Dicky, ditanamkan rasa kebersamaan dan memiliki jiwa kesatuan (jiwa korsa), layaknya prajurit militer.

Ada banyak suka duka yang dialami jajarannya. Dicky mencontohkan, saat berusaha memadamkan kebakaran rumah di kawasan Ariodillah, terpaksa anggotanya menarik selang air melewati atas jenazah karena sempitnya akses masuk menuju lokasi yang terbakar.

“Alhamdulillah, keluarga yang berduka mengizinkan, jadi tugas tetap berjalan,” kenangnya. Belum lagi pengalaman paling heroik saat kebakaran Hotel King tahun 2007 lalu. Personelnya mampu menyelamatkan hingga 10-an nyawa menggunakan mobil tangga.

“Di sana kita tidak hanya bertugas memadamkan kebakaran, tapi juga menyelamatkan orang. Rasa bangganya luar biasa,” cetusnya. Kesedihan mendalam pun pernah dirasakan saat mereka gagal menyelamatkan nyawa pengunjung Happy Karaoke di kompleks Ilir Barat Permai, beberapa tahun silam.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang“Kami berusaha sekuat tenaga memadamkan api dan mencegah korban. Tapi kadang terbatas karena kekurangan alat,” imbuh Dicky. Banyak hal yang personelnya masih kesulitan untuk menyelesaikan tugas secepat mungkin. Selain ketiadaan alat, juga ketidaktahuan masyarakat menggunakan alat untuk melakukan penyelamatan pertama.

Belum lagi, jika akses menuju pemukiman padat penduduk berupa lorong sempit dan pemukiman yang mayoritas dari bahan kayu sehingga mudah terbakar. “Sering pula akses masuk terhalang portal atau gapura. Jelas mobil kita tidak dapat masuk dan hanya sampai di ujung lorong,” bebernya.

Meski peralatan BPBD-PK Palembang saat ini semakin mumpini, tapi harus diakui, kondisi lapangan kadang tidak semulus harapan. “Selang kita maksimal 500 meter panjangnya. Dalam kondisi tertentu, personel kita biasanya mengambil jalan alternatif untuk tiba di lokasi secara cepat dan dekat,” tutur Dicky.

Problem lain muncul jika lokasi kebakaran jauh dari sumber air. “Kita dituntut untuk berpikir cepat dan tanggap. Yang pasti, sejauh mana pun lokasinya, personel kita berusaha secepat mungkin tiba dan memadamkan apinya,” ujarnya.

Terkadang, karena saking ingin cepatnya melakukan pertolongan, beberapa insiden kecil seperti menabrak gerobak bakso, pejalan kaki, pengendara dan lainnya dapat terjadi. “Alhamdulillah, biasanya dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Masyarakat mengerti apa yang terjadi dan tidak pernah memperpanjang persoalan itu,” jelas Dicky.

Ia hanya kadang sedih ada masyarakat yang tidak paham perjuangan pemadam kebakaran. Sesuai prosedur, begitu ada panggilan kebakaran, personelnya hanya butuh waktu 5-15 menit untuk tiba di lokasi karena kecepatan mobil 80-100 Km per jam. Tapi, lagi-lagi, senua tergantung jarak dan hambatan di jalan.

“Tapi masih ada masyarakat yang berpikir kita bekerja maksimal dan selalu datang terlambat ke lokasi. Seperti kebakaran di Tangga Buntung, beberapa waktu lalu. Ketika kita tiba di lokasi, kaca mobil kita langsung dipecahkan warga yang mungkin kesal dan menilai kita lamban,” tukasnya. (*/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 16 Mei 2013

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang (1)

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota Palembang
Photo: Koleksi LEMABANG 2008. Musibah kebakaran yang terjadi di Jl Yos Sudarso, Lr Damai, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, Lemabang, Palembang, beberapa tahun lalu (8/9/2011)


Orang awam mengenal instansi ini pemadam kebakaran. Di lingkungan Pemkot Palembang, dinamakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran. Keberadaaan mereka begitu diperlukan. Telat tiba di lokasi, mereka pasti disalahkan. Namun tak jarang para petugas pemadam ini mendapatkan kabar hoax alias bohong.

================================
================================


Suasana kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Palembang di Jl Merdeka terlihat lengang. Markas ppemadam si jago mereh ini tidak begitu besar, namun di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki berjiwa pemberani.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota PalembangTampak berjejer delapan delapan unit mobil pemadam kebakaran (blanwir). Tak terlihat aktivitas mencolok saat kooran ini mampir ke sana, kemarin. Ternyata mereka ada di kantor, bersiaga dan stand by mengenakan seragam lengkap.

“Silakan masuk,” kata seorang staf yang berada di sana. Sekretaris BPBD-PK Kota Palembang, Romli Hopiah mengatakan, total personel yang dimiliki saat ini 90 orang. Mereka ditempatkan pada delapan pos yang tersebar di wilayah Palembang. Selain pos induk di Jl Merdeka, ada pos 5 Ulu, Sako, Alang-Alang Lebar (AAL), Gandus, 13 Ulu, Jakabaring, dan satu pos lagi di BKB

“Kita didukung dengan dua kapal air yang d tempatkan di pos BKB. Pos ini nantinya akan mengamankan kebakaran yang terjadi di pinggir Sungai Musi,” jelasnya. Ia mencontohkan, saat terjadi kebakaran di 4 Ulu, beberapa waktu lalu, peralatan dan tim pemadam kebakaran tidak hanya dikerahkan melalui jalur darat, tapi juga perairan.

“Kami menggunakan sistem double, darat maupun air, jika memang memungkinkan,” ucap Ramli. Seiring waktu, peralatan yang dimiliki semakin lengkap dan canggih. Ada 22 mobil pemadam, 15 mobil penembak, dan 7 mobil penyuplai (fire tangker), satu mobil bertangga, {rescue}, dua kapal pemadam, dan lima mesin pompa portable.

“Lima mesin pompa ini baru datang Februari lalu dan termasuk peralatan canggih yang kita miliki sekarang. Pompa ini mampu menyedot air dalam sekian detik hingga ribuan meter kubik,” bebernya. Tiap anggota telah pula dilengkapi safety first lengkap, mulai dari helm, live jacket, sarung tangan tahan panas dan api.

“Semua peralatan disebar di tujuh pos selain pos induk,” imbuhnya. Personel yang ada dibagi dalam tiga shift piket, pagi, siang, dan malam. Para petugas pemadam kebakaran ini selalu siaga dan tanggap dengan segala kemungkinan yang ada, khususnya kebakaran.

Suka Duka Personel Pemadam Kebakaran Kota PalembangMeski sudah cukup banyak dan lengkap, tapi Romli menegaskan, peralatan dan jumlah personel yang ada saat ini masih dirasakan kurang. Selama ini, pihaknya mencoba mengoptimalkan yang ada. Seiring perluasan ruang lingkup kerja, pihaknya telah meminta tambahan peralatan, khusus untuk penanggulangan bencana banjir. Mulai perahu karet, tenda, truk, truk evakusai dan tandu, termasuk personel. Idealnya, kata Romli, satu pos dijaga 15 orang petugas. Saat ini baru 10 orang.

Jumlah kapal pemadam untuk wilayah perairan juga kurang mengingat panjangnya bantaran Sungai Musi. “Selang kita paling panjang 500 meter. Selebihnya, harus menggunakan pompa,” cetusnya. Romli berharap bantuan dan dukungan dari masyarakat. Selama ini, setiap ada kebakaran lebih banyak menonton sehingga menyulitkan akses menuju lokasi. Banyak juga yang mau membantu, tapi minim mengetahui menggunakan alat.

“Ada yang mau bantu. Begitu kita tiba, mereka langsung menarik selangnya. Bagaimana mau mengalir kalau connecting antar pipa belum dipasang,” tuturnya. Belum lagi, kalau ada selang yang dipotong warga yang “nakal”. Dengan slogan Pantang Pulang Sebelum Padam, mereka berusaha keras menjangkau semua lokasi kebakaran, walau medan yang dilalui sulit.

Yang kadang membuat sedih, begitu tiba di lokasi, tidak ada kebakaran yang diinformasikan. “Pernah ada beberapa kali laporan kebakaran, saat ke lokasi ternyata tidak ada atau hoax saja,” tukas Romli. Karana itu, saat ini pihaknya menyiapkan dua juru telepon (jurtel) yang hafal semua kode area telepon di Palembang. “Petugas kita itu mampu mendeteksi info tersebut bohong atau benar,” pungkasnya. (*/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 15 Mei 2013

Tuesday, 9 April 2013

Pemilukada Kota Palembang Jadi Barometer Pilgub?

Sepakat Jual Figur



Pemilukada Kota Palembang Jadi Barometer Pilgub?Siapa yang memenangkan Pemilukada Kota Palembang hasil penghitungan suara KPU nanti, boleh jadi akan mempengaruhi peta politik pemilihan Gubernur Sumatera Selatan 6 Juni 2013. Itu lantaran dengan mata pilih 1 juta lebih, Kota Pempek ini menjadi barometer. Di samping daerah basis dengan jumlah pemilih siknifikan lain.

--------------------------------------------------



Dua pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota Palembang periode 2013-2018 berdasarkan hitung cepat (quick count) sejumah lembaga survei mendapat raihan suara yang sangat ketat. Mereka pun saling klaim menang hingga keputusan final menang "sesunggh-nya" berada di tangan KPU.

Kedua kandidat yang dimaksud yakni pasangan nomor urut 2, Romi Herton-Harnojoyo dan pasangan nomor urut 3, Sarimuda-Nelly Rasdiana.

Nah, siapa pun pemenang nanti, banyak yang menganalisis kalau hasil pemilukada kota ini akan berpengaruh pada dukungan terhadap bakal calon gubernur (balongub) Sumsel yang menjadi parpol pengusung kedua pasangan calon wali kota tersebut.

Sekedar diketahui, sejumlah partai besar seperti PDI Perjuangan plus partai koalisi PAN, PKS, Partai Demokrat menjadi pengusung pasangan Romi Herton - Harnojoyo. Di belakang kandidat ini, ada Wali Kota Palembang Ir H Eddy Santana Putra MT yang akan maju sebagi bakal calon gubernur. Juga ada balon wakil gubernur (balonwagub) dari barisan parpol pengusung itu, yakni Hafiz Tohir (PAN-PKS) dan H Ishak Mekki.

Sebaliknya, pasangan Sarimuda - Nelly Rasdiana yang diusung Partai Golkar tentu mendukung jagoannya balongub incumbent Ir H Alex Noerdin. Retentan latar belakang kandidat wako-wawako ini, menjadi penting lantaran Palembang memiliki mata pilih terbesar dengan jumlah daftar pilih tetap (DPT) mencapai 1.113.488. Hampir 20 persen dari total mata pilih dalam daftar pemilih sementara (DPS) 6.574.384.

Banyak yang memprediksikan siapa yang menjadi pemenang apakh itu Romi ataukah Sarimuda sedikit banyak akan mempengaruhi penunjukkan jabatan pemerintahan di Pemkot Palembang hingga ke lini camat yang berhubungan langsung dengan massa. Kebijakan itu, menyusul adanya dugaan terkait dengan kepentingan Pilgub nanti.DAri isu yang beredar misalnya, jika Romi terpilih maka bisa dikatakan para camat hingga lurah akan didominasi orang-orangnya untuk pemenangan pilgub Eddy Santana, ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel. Lantaran Romi, merupakan ketua DPC PDI Perjuangan kota.

Isu lain, Romi akan bersikap netral mengingat dalam dalam barisan parpol pengusung juga ada kandidat yang ikut bertarung pada pilgub nanti. Sebaliknya, kalau hasil penghitungan KPU nanti memenangkan Sarimuda, "katanya" dukungan akan diberikan kepada kandidat Partai Golkar dalam hal ini incumbent Alex Noerdin.

Lantas bagaimana tanggapan para balongub dan balonwagub yang akan maju? Balon Gubernur dari PDI Perjuangan, Eddy Santana Putra mengatakan, kemenangan Romi Herton-Harnojyo jelas akan berpengaruh pada Pemilihan Gubernur , 6 Juni nanti. "Palembang harus tetap merah, kemenangan Romi-Harno juga akan mempengaruhi Pilgub dan Pemilihan Legislatif 2014 nanti," kata Eddy Santana di kediamannya, kemarin.

Eddy yang berpasangan dengan Anisja Wiwiet Tatung, pada Pilgub nanti optimis akan meraih 70 persen suara di Palembang. "Angka kemenangan pemilukada Palembang 43 persen tidak bisa menjadi patokan, saya yakin khusus di Palembang akan memperoleh suara minimal 70 persen," tukasnya.

Senada diungkapkan Balonwagub yang diusung PAN-PKS koalisi, Hafisz Tohir. Katanya, hasil pemilukada Kota Palembang jelas berpengaruh pada peta Pilgub nanti. "Sarimuda merupakan tim inti dari balongub incumbent Alex Nordin. Di lain pihak Romi didukung salah satunya skuad PAN. Selain dari figur Romi sendiri, saya melihat dongkrakan suara pada Romi-Harno ini, juga ada kaitan dengan tokoh-tokoh nasional parpol pengusung. Ada Megawati, Hatta Rajasa, Taufik Kiemas."

Meski demikian, kata Hafisz, dia lebih yakin warga Kota Palembang akan membutuhkan figur fresh dalam memimpin Sumsel nanti. "Hasil survei kita, Insya Allah, 70 persen responden menginginkan figur baru untuk memimpin Sumsel nanti. Baru di sini, dalam artian orang yang benar-benar baru dalam dunia pemerintahan, namun punya kemampuan untuk itu," kata pria yang berpasangan dengan balongub Iskandar Hasan, mantan Kapolda Sumsel ini.

Alex Noerdin, balongub incumbent yang berpasangan dengan Ishak Mekki (Bupati OKI) melalui juru bicara Partai Golkar RA Anita Noeringhati mengatakan, hasil Pemilukada Palembang tidak akan berpengaruh signifikan pada pilgub nanti. Pasalnya, pada pemilukada Palembang dan Sumsel figurnya berbeda. "Pemilukada itu yang ditampilkan adalah figur. Di samping, elaktibilitas calon juga berbeda," kata Anita.

Ia menambahkan, Palembang tidak menjadi tolak ukur pasti pada Pemilukada Sumsel 6 Juni. Terlebih partai pengusung antara Pilgub dan Pemilukada Palembang berbeda, jelas akan berpengaruh juga. "Calon yang diusung Golkar (Sarimuda) mendapatkan kisaran suara 43 persen tidak mesti nanti pilgub juga akan sama. Kami telah melakukan survei, khusus untuk di Palembang optimis mampu meraih 70 persen suara," pungkasnya.

Balongub Herman Deru yang tidak ada kaitan sama sekali dengan parpol pengusung baik Romi maupun Sarimuda, berpendapat siapapun yang menang nanti menjadi kredibilitas buat lembaga survei. Paling tidak, lembaga survei bisa diakui akurasinya kalau hasil perhitungan cepat (quick count)-nya mendekati perhitungan KPU nanti.

"Yang jelas, kalau saya melihat hasil perhitungan sementara quick count memang dua kandidat saling klaim dan diprediksi raihan suaranya ketat. Antara pasangan Romi-Harno dengan Sarimuda-Nelly Rasdiana," ujar Deru lagi. Nah, perolehan suara kedua pasangan kandidat nomor urut 2 dan nomor urut 3 itu, lebih dominan karena figur keduanya. "Ini bukan berarti saya menafikan parpol pendukung. Apalagi, yang mendukung dua pasangan itu, multipartai. Jelas, dalam setiap pemilukada faktor figur-lah yang menjadi penentu."

Begitu pula pada pemilihan gubernur nanti. Deru yakin masyarakat Kota Palembang dalam melilih Gubernur Sumsel ke depan, tidak melihat dari partai mana pemimpin Kota Palembang yang lagi berkuasa. "Ya, kalau saya tidak muluk-muluk. Dalam kota dapat 30-40 persen suara sudah Alhamdulillah." (mik/cj4/nur/ce3)

Sumatera Ekspres, Selasa, 9 April 2013


Pertarungan Eddy-Alex

---------------------------------------------------


Pengamat politik dan hukum dari Universitas Sriwijaya, Prof Amzulian Rifai SH LLM PhD mengatakan hasil pemilihan wali kota dan wakil wali kota Palembang tentu akan berpengaruh terhadap pemilihan gubernur, 6 Juni nanti. "Setidaknya wako terpilih akan berjuang keras dengan fasilitas dan kapasitas yang dimiliki untuk memenangkan calon gubernur yang satu haluan dengan wali kota terpilih," kata Amzulian kepada Sumatera Ekspres, tadi malam.

Menurut Dekan Fakultas Hukum Unsri ini, sulit mengukur secara pasti seberapa besar pengaruh pada pilgub nanti. "Tapi yang jelas akan berpengaruh walau tidak signifikan hasilnya secara menyeluruh di Sumsel. "Ada faktor lain juga yang akan mempengaruhi gubernur terpilih nanti. Antara lain, seberapa besar pemilih golput, pemilih fanatik dan mesin partai yang bergerak hingga sampai ke akar rumput," pungkasnya.

Hal senada diungkapkan Dr Febrian. Menurut pengamat politik dari Unsri ini, hasil Pemilukada Palembang sangat mempengaruhi pertarungan pemilukada gubernur nanti. "Sesungguhnya pertarungan Pemilukada Palembang ini, bukan hanya figur."

Lanjutnya, Pemilukada Palembang sesungguhnya merupakan pertarungan antara PDI Perjuangan dan Golkar. "Nanti jika PDI Perjuangan menang akan berpengaruh pada Eddy Santana. Sebaliknya, jika Golkar menang akan berpengaruh dengan Alex Nooerdin," katanya.

Jika lihat konfigurasi hasil Pemilukada, lanjutnya, tentu sangat menarik dan akan berpengaruh pada basis-basis dukungan partai. "Menang figur akan lebih menonjol. Tapi, sesungguhnya ini pertarungan parpol juga," pungkasnya. (mik/nur/ce3)

Sumatera Ekspres, Selasa, 9 April 2013

Wednesday, 3 April 2013

Parkir Sembarangan

Parkir Sembarangan

Pemandangan ini hampir setiap hari menjelang sore terlihat di dalam Terminal Lemabang, di sepanjang lajur bebas angkutan umum. Para pengguna sepeda motor ini seperti tidak peduli kalau mereka memarkirkan kendaraan di jalur bebas angkutan umum, akibatnya kendaraan umum pun terpaksa ngetem di pintu masuk terminal untuk menaikan penumpang.

Posted by: LEMABANG 2008, Kamis, 4 April 2013 02.12 WIB



Parkir Sembarangan

Tuesday, 12 March 2013

Mengenal Tempoyak

Tempoyak adalah masakan yang berasal dari buah durian yang difermentasi. Tempoyak merupakan makanan yang biasanya dikonsumsi sebagai lauk teman nasi. Tempoyak juga dapat dimakan langsung (hal ini jarang sekali dilakukan, karena banyak yang tidak tahan dengan keasaman dan aroma dari tempoyak itu sendiri). Selain itu, tempoyak dijadikan bumbu masakan.

Citarasa dari Tempoyak adalah masam, karena terjadinya proses fermentasi pada daging buah durian yang menjadi bahan bakunya. Tempoyak dikenal di Indonesia (terutama di Palembang, Lampung dan Kalimantan), serta Malaysia. Di Palembang sendiri, makanan ini dimakan bersama ayam. Di Lampung, Tempoyak menjadi bahan dalam hidangan Seruit atau campuran dalam sambal.

Sejarah tempoyak
Tempoyak diriwayatkan dalam Hikayat Abdullah sebagai makanan sehari-hari penduduk Terengganu. Ketika Abdullah bin Abdulkadir Munsyi berkunjung ke Terengganu (sekitar tahun 1836), ia mengatakan bahwa salah satu makanan kegemaran penduduk setempat adalah tempoyak. Berdasarkan sejarah yang ada dalam Hikayat Abdullah, tempoyak merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu Indonesia (antara lain Palembang, Lampung dan Kalimantan) dan Malaysia.

Cara pembuatan
Adonan tempoyak dibuat dengan cara menyiapkan daging durian, baik durian lokal atau maupun durian monthong (kurang bagus karena terlalu banyak mengandung gas dan air). Durian yang dipilih diusahakan agar yang sudah masak benar, biasanya yang sudah nampak berair. Kemudian daging durian dipisahkan dari bijinya, setelah itu diberi sedikit garam. Setelah selesai, lalu ditambah dengan cabe rawit yang bisa mempercepat proses fermentasi. Namun proses fermentasi tidak bisa terlalu lama karena akan memengaruhi rasa akhir. Setelah proses di atas selesai, adonan disimpan dalam tempat yang tertutup rapat. Diusahakan untuk disimpan dalam suhu ruangan. Bisa juga dimasukkan ke dalam kulkas (bukan freezer-nya) namun fermentasi akan berjalan lebih lambat. Tempoyak yang berumur 3-5 hari cocok untuk dibuat sambal karena sudah asam namun masih ada rasa manisnya. Sambal tempoyak biasanya dipadukan dengan ikan Teri, ikan mas, ikan mujair ataupun ikan-ikan lainnya.

Sumber: Id.Wikipedia.org

Friday, 18 January 2013

Tambah 30 Transmusi - 20 Ribu Smart Card



PALEMBANG -- Direktur Operasional PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J), Yusransyah Ishak mengatakan, pihaknya dalam proses penambahan armada BRT Transmusi sebanyak 30 unit pada tahun ini. Dimana, 20 unit bus besar dan 10 unit bus sedang.

Bus-bus tersebut akan melayani koridor yang membutuhkan tambahan. Tentu saja disesuaikan dengan tingkat permintaan (load factor) dan kapasitas jalan. Diperkirakan, bus ukuran besar beroperasi di koridor I dengan rute Jakabaring - Simpang Tegal Binangun. Sedangkan yang sedang melayani koridor 7 dan 8.


Tambah 30 Transmusi - 20 Ribu Smart Card
Kata Yusransyah, saat ini sudah beroperasi 120 unit, 40 bus besar dengan kapasitas dua kali bus sedang dan 80 unit bus sedang. "Kalau disetarakan, total Transmusi yang operasionalnya ada 160 unit sedang," bebernya. Untuk mengcover semua koridor, dibutuhkan tambahan 250 unit lagi.

Pihaknya juga akan menambah sekitar 20 ribu
smart card lagi pada Februari nanti. Yang sudah tersebar sekarang ada 40 ribu smart card. "Nantinya smart card Transmusi dapat di beli di toko modern seperti Alfa Mart dan Indomaret," jelasnya. Mulai 24 Desember lalu, pada Transmusi diberlakukan sistem transit dua jam.

"Warga yang menggunakan Transmusi dapat turun dulu dan naik lagi tanpa membayar. Tentu saja untuk perhitungannya terekam dalam
smart card," beber Yusransyah. Saat ini semua koridor telah menerapkan smart card. Ia mengatakan, jumlah pengguna Transmusi saat ini terus meningkat. Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra membenarkan akan adanya penambahan armada Transmusi untuk menunjang kebutuhan transportasi publik masyarakat. (yun)

Sumatera Ekspres, Kamis, 17 Januari 2013