Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Sunday, 10 August 2014

Melihat Objek Wisata Monpera Palembang

Minim Kunjungan, Areal Dijadikan Taman Publik



Melihat Objek Wisata Monpera Palembang

Barang Rawan Dicuri, Pasang CCTV
Monumen Perjuangan Rayat (Monpera) menjadi simbol perjuangan para pahlawan asal Palembang dalam mengusir penjajah dari bumi pempek. Monpera terus dipercantik oleh Pemerinta Kota (Pemkot) Palembang.

Areal Monpera yang dulunya ditutup pagar, kini sudah dibuka menjadi ruang publik sehingga warga bebas masuk ke dalam areal Monpera tanpa terkecuali.

Meski masyarakat bebas bersantai di areal Monpera, namun pihak UPTD Pengelolaan Sarana Objek Wisata Kota Palembang tetap memonitoring aktivitas warga di sekitar areal untuk memberikan keamanan dan kenyamanan.

Agusti SH MH, Kepala UPTD Pengelolaan Sarana Objek Wisata Kota Palembang, mengatakan, Monpera saat ini terus dibenahi dan dipercantik sesuai agenda utama Pemkot Palembag. "Monpera sekarang memiliki tinggi 17 meter, dengan 8 lantai, dan mempunyai 45 bidang dan sisi. Sesuai dengan tanggal kemerdekaan Indonesia 17 bulan 8 tahun 45," ujar Agusti.

Berdasarkan data yang ada, tercatat rata-rata tingkat kunjungan pelancong masih relatif sepi, yakni berkisar 15 orang per hari. Paling ramai saat hari libur dan saat perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Aguustus. Sementara saat libur Lebaran masih sepi karena lebih memilih mudik. "Paling banyak mengunjungi Monpera adalah siswa-siswa sekolah," ujar Agusti.

Monpera berdiri kokoh di pinggir Jalam Merdeka. Ciri khasnya adalah cagak (tiang) beton yang kokoh bertautan di bagian samping kiri dan kanannya. Monpera kini sudah dilengkapi kamera CCTV dan dimonitor di lantai satu. Namun, meski sudah terpasang kamera CCTV masih saja ada kejadian, lampu di dalam lantai Monpera yang hilang diduga dicuri.

Saat kunjungan Koran Ini, Monpera sangat sepi dikunjungi. "Tingkat keamanan Monpera sudah jauh lebih baik dengan pemasangan kamera, selain tu kita pasang AC agar pengunjung nyaman dan tidak kepanasan," kelasnya.

Tiket masunk untuk siswa sekolah Rp 1.000, bagi mahasiswa Rp 2.000, umum Rp 5.000 dan turis asing Rp 20.000 sesuai Perda Kota Palembang No 2 Tahun 2012 tentang Retribusi Pemakaian aset Daerah.

Sumatera Ekspres menelusuri delapan lantai. Hingga kini di monumen yang disebut juga palagan Palembang itu, hanya terdapat sekitar 30-an koleksi. Hampir semua lantai memiliki koleksi foto dan lukisan perjuangan kemerdekaan.

Lantai pertama atau lantai dasar terdapat ruang pnitipan barang dengan monitor CCTV disertai foto masa perjuangan. Terdapat pula buku-buku sejarah dan perjuangan yang bsa dibaca pengunjung.

Pada lantai dua terdapat foto-foto pahlawan, lukisan perjuangan, pucuk senjata dan mata uang dari tahun 1945 sampai dengan sekarang. Lantai tiga terdapat patung setengah badan pahlawan Palembang yakni dr AK gani, drg M Isa, Residen Abdul Rozak, pakaian subkos dan foto pahlawan.

Lantai empat terdapat ranjau hingga alat pelontar bom yang kerab dipakai pejuang tempo dulu. Lantai lima replika patung setengah badan pahlawan Palembang yakni Mayjen TNI H Bambang Utoyo, Brigjen TNI H Hasan Kasim dan Kolonel H Barlian.

Lantai enam terdapat lukisan perjuangan kemerdekaan. Lantai tujuh gudang yang berisi buku sejarah dan perjuangan. Sedangkan lantai delapan juga terdapat foto dan lukisan para pahlawan. Para pengunjung juga bisa naik ke atap Monpera dan bisa melhat dari atas keadaan Kota Palembang terutama Jembatan Ampera. "Nah, kalau sudah di atap Monpera, siswa dan pngunjung suka foto-foto," tutupnya. (roz/nni/ce1)

Ikon Baru Palembang



Sebagai salah satu perwajahan Kota Palembang, selama ini Monpera terkesan tidak dianggap. Selain itu sepi kunjungan, juga kurang menarik untuk dikunjungi. Hal itu yang mendorong Pemkot Palembang melakukan revitalisasi. Konsep ke depan Monpera jadi kawasan dan taman terbuka untuk publik.

Kepala Dinas Tata Kota, Isnaini Madani, mengakui belum optimalnya fungsi dan keberadaan Monpera. Padahal, secara lokasi sangat strategis karena terletak di pusat kota. "Saat ini, terus dikerjakan perbaikan Monpera. Monpera akan menjadi taman dan kawasan terbuka untuk publik," bebernya.

Selain pagar, objek revitalisasi lainnya seperti penghijauan di seluruh area dan keliling Monpera. "Akan disediakan tempat foto-foto dengan view langsung ikon Palembang dan Ampera," tuturnya. Untuk menarik minat masyarakat agar berkunjung ke museum, akan dibangun lift, namun di lantai lima. Masyarakat yang ingin naik ke rooftop (puncak Monpera) harus berjalan kaki.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palembang, Yanurpan mengatakan, Monpera memang harus segera direvitalisasi mengingat kondisi fisik bangunan sudah banyak tidak prima lagi. Banyak batu alam yang terkelupas. "Revitalisasi akan melibatkan Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) terkait, sesuai dengan tugas dan fungsi," cetusnya.

Misalnya, Penerangan Jalan, Pertamanan, dan Pemakaman (DPJPP) yang akan melakukan penambahan lampu, taman, dan air mancur. Kemudian Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PU BM) membangun jalan dan lainnya. "Pengerjaan Monpera akan dilakukan secara bertahap," sebutnya.

Dia menambahkan, kenyamanan yang meliputi kebersihan, keindahan, dan keamanan Kota Palembang akan menjadi daya pikat investasi dan kunjungan wisata ke Palembang. "Palembang harus dibuat senyaman mungkin sehingga warga maupun pendatang merasa betah," kata Yanurpan. (yun/ce1)

Monpera-Museum SMB II Jadi Satu Kawasan



Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palembang, Yanurpan Yany, melalui sekretaris Ahmad Zazuli mengungkapkan, Monpera terus dibenahi oleh Pemkot Palembang. Meskipun anggaran masih terbatas, pemkot berencana menjadikan Monpera sebagai destinasi tujuan wisata unggulan dan sebagai taman kota selain Kambang Iwak.

Tahap awal, Monpera sudah dibenahi dan dipercantik dengan menambah fasilitas. "Sudah dua tahun belakangan ini, Pemkot Palembang melakukan pembenahan secara bertahap, sekarang sudah lumayan bagus," ujar Zazuli.

Tahun 2014 ini, fasilitas terus ditambah seperti AC dalam ruangan Monpera agar pengunjung merasa betah dan nyaman. Selain itu, penambahan daya listrik untuk menerangi kawasan Monpera. "Sesuai perintah Wali Kota Palembang, menjadikan areal Monpera sebagai ruang publik yang terbuka untuk umum. Jadi publik bebas memasuki areal tersebut kecuali jika mau masuk monumen harus bayar tket," ucapnya.

Langkah awal yang sudah dilakukan ialah membuka pagar yang membatasi Monpera, dan mengubahnya menjadi tempat duduk untuk bersantai warga. Untuk menambah kecantikan areal Monpera, Disbudpar berkoordinasi dengan instansi dari beberapa SKPD seperti Dinas Pertamanan, Dinas Tata Kota dan lainnya.

Nah, dalam waktu dekat ini, pemkot akan menjadikan Monpera menjadi satu kawasan dengan Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMBV) II yang tepat berada di belakang Monpera. "Ke depan, Monpera dan Museum SMB II akan menjadi satu kawasan, nanti kita akan buka pagar yang memisahkan kedua bangunan tersebut. Hal ini supaya kawasan taman semakin luas bagi pelayanan publik," terangnya.

Menurut Zazuli, hal itu akan mulai terlihat pada akhir tahun 2014 dan diupayakan pada tahun 2015 sudah menjadi satu kawasan. "Ini adalah gebrakan dari Wali Kota Palembang," pungkasnya. (roz/ce1)

Sumatera Ekspres, Minggu, 10 Agustus 2014

Sunday, 3 August 2014

Warga Lebih Tertarik Kunjungi Wisata Modern Ketimbang Wisata Sejarah

Orang Tua Harus Ikut Andil



Warga Lebih Tertarik Kunjungi Wisata Modern Ketimbang Sejarah

Nasib wisata seperti berada di ujung tanduk. Setiap hari libur, tingkat kunjungan wisata tak seramai dengan wisata modern. Selain minim promosi, fasilitas yang disediakan pun terkesan minim. Bagaimana pemerintah menyikapinya?

________________________________________



Berlibur itu menyenangkan. Banyak warga berbondong-bondong membawa anggota keluarga menikmati beragam paket wisata. Baik itu, wisata alam, wisata sejarah hingga wisata modern. Belakang, wisata mocern yang didominasi hasil karya manusia cenderung diminati warga. Sementara, wisata sejarah maupun wisata alam sangat minim. Padahal, banyak edukasi yang didapat melalui wisata sejarah maupun wisata alam ini. Terutama bagi anak usia dini. Dengan demkian, para orang tua harus ikut andil meramaikan wisata sejarah. Di Sumsel misalnya, wisata alam cukup banyak. Tetapi, hanya dikunjungi saat libur hari-hari besar. Sementara wisata modern hampir setiap akhir pekan diserbu pengunjung.

Seperti halnya pada libur Lebaran tahun ini. Tingkat kunjungan pada sejumlah objek wisata alam seperti di Gua Putri di Kabupaten OKU, Air terjun Bedegung di Kabupaten Muara Enim, Danau Ranau di Kabupaten OKU, Bukit Siguntang di Palembang hingga lokasi wisata alam lainnya di Sumsel tak seramai dibanding wisata modern Amanzi Waterpark, OPI Waterfun maupun Fantasy Iceland.

Semestinya, para orang tua memberikan keseimbangan kepada anak-anaknya untuk mengenal semua jenis wisata. Sehingga, akan memberi memori yang baik bagi perkembangan anak. "Memang harus seimbang sih. Sehingga anak-anak dapat memahami sejarah, terutama bagi mereka yang sudah sekolah," ujar Fatmawati, ibu rumah tangga yang sengaja membawa anaknya ke Monpera Palembang untuk melihat sejarah perjuangan kemerdekaan.

Ia mengakui, wisata sejarah amupun wisata alam banyak dikunjungi saat hari libur tertentu. Seperti halnya libur Lebaran saat ini. "Ya kerena banyak waktu luang. Jadi, anak-anak dibebaskan untuk memilih. Selain itu, kalau wisata sejarah tidak terlalu berdesak-desakan dibanding wisata modern," katanya.

Semenatara di Museum Balaputr Dewa, Km 5, Kota Palembang. Meskipun tidak signifikan, tapi warga asli Palembang yang kebetulan mengajak saudara berlibur ke Palembang memilih museum tempat penyimpanan peninggalan sejarah itu sebagai tujuan.

"Banyak dari luar Palembang, seperti Bogor, Bandung dan Jakarta. Tapi sebenarnya mereka asli Palembang, tapi berlibur dan mengajak keluarga ke sini (museum, red) sebagai edukasi," ungkap Beni, pemandu wisata Museum Balaputr Dewa Palembang.

Dijelaskan, selama masa liburan Lebaran tahun ini, dalam sehari jumlah kunjungan mencapai 60 orang dari umum. Jumlah kunjungan yang sulit dicapai pada hari-hari biasa. "Kalau hari biasa untuk umum sulit mencapai jumlah kunjungan 50 orang, tapi kalau anak sekolahan biasanya datang berombongan. Rata-rata mereka yang datang memang ingin mengetahui sejarah Kerajaan Sriwijaya, bahkan ada seju,lah backpacker dari Belanda," ucapnya.

Indah pengunjung museum yang dibincangi Sumatera Ekspres mengaku, sengaja memilih museum untuk memberikan pengetahuan kepada anaknya tentang Sriwijaya. Maklum, saat ini menetap di luar Kota Palemban. "Penting untuk mengetahui sejarah, makanya saya ajak ke museum selama liburan jga bisa belajar," tukasnya.

Sementara di Taman Wisata Punti Kayu, sejak dibuka 29-31 Juli lalu, sudah tembus 4 ribu pengunjung dengan rata-rata 1.300 pengunjung setiap harinya. Mayoritas warga yang datang dari luar Kota Palembang yang berlibur bersama keluarga. "Kalau har biasa hanya 4 ratus pengunjung setiap harinya, terjadi peningkatan 200 persen pengunjung," kata Humas Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Antony, kemarin (2/8).

Menurut Antony, dipilihnya Punti Kayu oleh warga untuk menghabiskan liburan karena selain posisi letak yang strategis di tengah kota juga tiket masuk rekreasi yang terjangkau oleh masyarakat. "Tiket masuk dewasa Rp 10 ribu dan anak-anak Rp 5 ribu. Tapi memang sepertinya masyarakat lebih menikmati wisata alam ketimbang buatan, lebih alami dan bisa dinikmati semua kalangan," urainya.

Marwan, warga Banyuasin yang berwisata bersama keluarga mengaku lebih memilih Punti Kayu yang notabene wisata alam ketimbang mengunjungi mall dan lainnya karena mencari suasana yang kekeluargaan. "Di sini (Punti Kayu, red) kita bisa mengenal alam dan bisa santai berkumpul bersama keluarga, tidak di mall yang bersifat individual dan tidak bisa santai sambil gelar tikar," ungkap Marwan yang datang bersama anak dan istrinya.

Sementara pengamat pendidikan Prof Dr H Sirozi menilai wajar jika ada kecenderungan orang tua mengajak anggota keluaganya ke wisata modern. Kondisi ini tentunya sudah sesuai perkembangan zaman. "Saya kira sebenarnya orang tua mengajak anak ke tempat hiburan modern itu sesuai tren perkembangan di masyarakat," ujar Sirozi.

Ia mengatakan, untuk wisata alam (historis) pemerintah belum maksimal mempromosikan aset wisata alam, tak hanya sebatas itu saja manajemen pengelolaan hanya sekedarnya, segi keamanan juga kurang. "Di Sumsel pengelolaan potensi wisata alam di setiap daerah sangat banyak tapi cenderung promosi dan pengelolaan kurang. Sehingga orang tua terkadang lebih suka memperkenalkan anaknya ke wisata modern," ucap Sirozi.

Selain itu, untuk ke daerah belum lagi jarak tempuh yang jauh memakan waktu lama. Segi keamanan kurang terjamin. Makanan juga sulit di dapat. "Harapan ke depannya pemerintah dapat melakukan pengelolaan dan pengembangan lebih baik lagi sehingga menjadi pilihan dari orang tua," katanya.

Tidak hanya sebatas itu, wisata alam juga dapat diinformasikan dengan pendidikan misalnya dengan keberadaan museum itu bisa memaksimalkan potensi museum yang saat ini masih kurang diminati. "Kurang peminat karena belum maksimal pengelolaan," tandasnya. (mik/cj9/nni/asa/ce1)

Momen Kumpul Bersama Keluarga



Warga Lebih Tertarik Kunjungi Wisata Modern Ketimbang Sejarah | Momen Kumpul Bersama Keluarga
Ramai: Pengunjung asyik bermain di wahana permainan yang berada di Amanzi Waterpark

Kunjungi Tempat Wisata dan Mall
Momen liburaan sekolah dan Lebaran banyak dimanfaatkan keluarga untuk berkunjung ke tempat pariwisata. Puncak liburan diprediksi akan berakhir hingga besok (hari ini, 3/8), sebab Senin (4/8) masyarakat sudah kembali beraktivitas.

Kepala Bagian (Kabag) Humas OPI Waterfun, Novi mengatakan, sehari setelah Lebaran permintaan kunjungan mengalami peningkatan signifikan bahkan mencapai 50 persen. "Kemarin pengunjung yang datang mencapai dua ribu orang. Jumlah itu meningkat dibanding kondisi normal yang berkisar 1.000 pengunjung per hari," ujarnya kemarin.

Dikatakan, tingkat kunjungan didominasi dari kalangan keluarga yang mencapai 95 persen. "Pengunjung mayoritas dari dalam Kota Palembang. Ada dari luar daerah tetapi tidak terlalu banyak, mungkin hanya 10 persen," ungkapnya.

Menurutnya, saat ini masyarakat cenderung menghabiskan waktunya bersama keluarga untuk melakukan refresing. "Tetapi kami prediksi lonjakan ini hanya akan terjadi hingga minggu nanti kemudian kembali normal lagi," tukasnya.

Selain tempat wisata tujuan masyarakat menghabiskan waktu bersama keluarga di pusat-pusat perbelanjaan. Seperti di Palembang Indah Mall (PIM) nampak sangat ramai. Selain lalu lalang pengunjung banyak ke restoran dan wahana permainan. Event dan Promotion PIM, Intan mengatakan, hari ini traffic pengunjung masih sangat ramai yang mencapai 10 ribu pengunjung. "Jumlah ini meningkat 50 persen dari kondisi normal yang berkisar diangka 6 ribu-7 ribu pengunjung per hari," ungkapnya.

Namun, mulai Senin mendatang pihaknya optimis pengunjung akan kembali stabil. Itu dikarenakan masyarakat mulai masuk kerja. Corporate Manager Palembang Square (PS) Mall, Ghufron menambahkan, mulai Lebaran hingga H plus 4 pengunjung sangat lebih dari 60 ribu pengunjung per hari. "Untuk memfasilitasi pengunjung semua tenan juga tetap beroperasi selama Lebaran," ungkapnya. Selain berbelanja pengunjung memilih ke restoran dan ke tempat hiburan seperti menonton bioskop. (cj9/asa)

Tingkatkan Promosi Wisata



Butuh peran bersama dalam upaya memajukan sektor wisata. Baik itu wisata alam maupun wisata daerah. Sebab, kesiapan masyarakat juga dibuthkan. "Kalau wisata alam pengunjung kebanyakan orang kota yang bosan dengan suasana perkotaan, tapi kalau wisata modern kebanyakan pengunjung dari daerah," ungkap Sekretaris Dinas Pariwisata dan Budaya (Disbudpar) Palembang Drs Ahmad Zazuli.

Nah, mall hingga kolam renang serta permainan anak-anak merupakan bagian dari wisata modern. Banyak pengunjung dari daerah yang mendatanginya. Tetapi harus diingat, bahwa kehadiran museum sejarah sebagai bagian dari pariwisata belakangan banyak diminati. Setiap hari libur tingkat kunjungan cukup tinggi. Di Palembang, sektor wisata ramai dikunjungi wisatawan. "Liburan keluarga memang jarang dijadikan momen ke tempat-tempat museum," terangnya. Tetapi, pada momen-momen tertentu ramai.

Ke depan pihaknya akan melakukan penataan kenyamanan bagi pengunjung, bekerja sama dengan pihak terkait seperti pengelola museum dan bekerja sama dengan dinas pendidikan terkait baik Palembang ataupun kabupaten/kota lainnya. "Peningkatan promosi juga akan digencarkan," tandasnya. (nni/asa/ce1)

Sumatera Ekspres, Minggu, 3 Agustus 2014

Saturday, 1 December 2012

Pesona Bumi Pasemah

Oleh: FLORENCIA MARCELINA RAMADHONA

Kota Pagaralam, Sumatra Selatan menyimpan sejuta panorama yang memanjakan mata. Tak pernah merasa cukup waktu untuk mengunjungi setiap tempat wisata dikota ini. Tak begitu besar memang kota ini, namun begitu banyak tempat wisata yang asik untuk dikunjungi.

Untuk wisatawan dari Palembang, bisa melaju ke Pagaralam dengan menggunakan jasa angkutan bus atau travel. Dengan mengeluarkan kocek 35 ribu anda sudah bisa sampai di Pagaralam dengan menggunakan bus yang berangkat dari terminal Karyajaya. Atau dengan menggunakan travel, anda harus mengeluarkan kocek berkisar 70-90 ribu. Setelah sampai di Pagaralam anda bisa menginap di villa yang terletak di kawasan pegunungan villa yang disewakan berkisar 200-450 ribu sesuai fasilitas yang ada.

Sebagai kota yang memiliki wisata air terjun terbanyak di Indonesia yang mencapai 30an air terjun, bisa dibilang sudah menjadi kewajiban bagi anda untuk mengunjungi salah satu air terjun nya bila berwisata disini.

Sunday, 14 October 2012

River Side Resto Terapung di Tepi Musi

River Side Resto

Restoran ini bukan hanya terapung, tapi juga menyediakan kapal motor yang bisa disulap menjadi tempat makan prasmanan. Lengkap dengan sebuah dermaga kecil yang akan mengantar pengunjungnya berwisata air di sekitar Musi.

Rasanya tidak sempurna jika jalan-jalan ke Palembang, tanpa mampir ke restoran terapung di tepi Sungai Musi ini. Ya, River Side namanya. Letaknya berada condong ke bibir sungai ternama itu dan tidak jauh dari Benteng Kuto Besak. Panoramanya, sungguh luar biasa. Apalagi restoran ini berada tidak jauh dari jembatan Ampera yang mempesona dengan lampu-lampunya termasuk dari kapal-kapal yang berada di sekitarnya ketika malam hari. Sebuah pemandangan yang menakjubkan dan menambah selera makan.

Restoran ini, kata Eddy Boy, Manager River Side telah beroperasi sejak Maret 2008. Ketika itu, bertepatan dengan tahun pencanangan "Visit Musi". River Side seakan muncul sebagai representasi tempat kuliner khas Palembang sesungguhnya dan berada dekat dengan ikon kota tersebut. Akhirnya, River Side kerap menjadi referensi dan persinggahan terakhir dari tur bila ada agen wisataa yang membawa para pelancongnya.

River Side bukan hanya menjual suasana. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Kapasitasnya bisa mencapai 500 orang yang dibagi dalam beberapa ruangan yang diberi nama-nama ikan. Ruang pertama, misalnya, bernama Betutu atau kerap disebut orang Palembang sebagai “ikan malas”. Kemudian ada Ruang Seruang, dan ruang VIP bernama Ruang Betok.

Ruang Betok ini berkapasitas 75 orang dengan fasilita full AC, dan sound system. Kesannya eksklusif dan mengutamakan privasi. Sedangkan Ruang Betutu berada di lantai dua beranda restoran. Tempat ini berbatasan langsung dengan bibir sungai alias dirancang terapung. Ruang ini berkapasitas 200 orang dan menjadi tempat live music digelar. Di lantai dua ini, pengunjung juga bisa menemukan Ruang Seluang. Berkapasitas 250 orang di mana para pengunjung bisa bersantap sambil menikmati pemandangan Sungai Musi yang romantis.

Di ruang terakhir adalah dermaga. Tempat ini berkapasitas 250 orang. "Ruang Betutu dan Ruang Seruang lebih berkesan formal. Kalau mau bersantai, pengunjung bisa mengambil tempat di teras. Karena didesain terbuka dan santai," tambah Eddy.

Selain menjadi tempat makan favorit, River Side kerap dijadikan tempat menggelar perayaan ulang tahun, pesta pernikahan, atau acara-acara komunitas dan pemerintahan. "Restoran ini cocok hanya makan, acara formal, atau bersenang-senang dan santai," ujar Eddy.

Mungkin ada pengunjung yang khawatir soal sisi keamanan karena restoran ini terapung. Soal itu, jangan khawatir, sebab, kata Eddy, fondasi dan konstruksi restoran ini terbuat dari besi baja yang kuat. Meski baja-baja penyangga itu tidak dicor, tapi ditancapkan. Sebab, ada ketentuan dari Pemerintah Daerah Sumatera Selatan tidak boleh ada pengecoran di sepanjang bibir Sungai Musi.

River Side Resto

Dermaga Kecil



Yang menarik dari restoran ini adalah keberadaan centre point alias dermaga kecil agar perahu pengunjung yang ingin ke restoran dapat langsung merapat. Artinya, akses ke restoran tidak selalu harus dari jalan darat. Centre point itu dibuat lantaran kadang pengunjung yang sedang berwisata mengitari Sungai Musi, ingin segera makan.

Kunjungan itu biasanya datang dari wisatawan yang mampir ke Pulau Kemarau, pulau yang berada di tengah Sungai Musi. Pulau itu merupakan salah satu objek wisata terkenal di Palembang. Sebab, di sana dapat ditemui orang-orang keturunan lengkap dengan klenteng, prasasti kuno, dan tanaman bernama "pohon cinta".

Wisata Air


Untuk menuju ke Pulau Kemarau dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor berkapasitas 60-80 orang dengan jarak tempuh selama 2,5 jam. River Side menyediakan kapal motor tersebut. Jika ingin makan sambil berwisata, setiap pengunjungi bisa menggunakan kapal tersebut.

Soal tarif seharga 3,5 juta rupiah untuk rombongan. Kalau menggunakan kapal motor yang lebih kecil cukup 400 ribu rupiah. Mahal? Sebentar, harga itu sudah termasuk tour guide, solo organ, ruangan ber-AC (kapal motor besar), dan smooking area. noverta salyadi dan frans ekodhanto.

Ada Menu Ikan Malas



Mahal karena ikannya sudah sulit ditemui.
Selain pemandangannya elok, yakni Jembatan Ampera dan Sungai Musi, River Side juga memiliki menu khas Palembang yang sesungguhnya. Salah satunya yang favorit adalah Ekor Tenggiri Bakar. Ya, ekor ikan tenggriri yang beratnya sekitar satu kilogram itu dipotong kemudian dibentuk menyerupai kipas lalu dibakar dengan bumbu khusus. Sedangkan daging ikannya, biasanya dipisahkan untuk dinikmati dalam bentuk lain, yakni pempek dan sebagainya.

Kurang suka ikan? Anda juga bisa menikmati udang atau sotong segar yang ditangkap langsung dari Sungai Musi begitu ada yang memesan. Udang dan sotong itu bisa dimasak sesuai permintaan. Ada yang digoreng mentega atau khas bumbu Palembang, seperti Udang/Sotong Saos Kuto Besak. Menu ini segar dan mengundang selera. Cocok untuk mereka yang suka rasa manis pedas.

Ada pula kepiting yang langsung didatangkan dari Muara Sungsang. Kepiting ini rasanya sangat manis dan segar karena tinggal di hutan bakau yang berada di Muara Sungsang, muara yang berhubungan dengan Selat Bangka. Setiap menu dibanderol sesuai berat seafood yang akan diolah. Sebagai gambaran, Ikan Betutu atau Ikan Mala situ seharga 38 ribu rupiah per ons. Mahal? Bisa jadi ya, tapi Anda perlu tahu bahwa Betutu termasuk ikan yang sulit ditemui alias langka.

Sebagai hidangan penutup, Anda bisa memesan aneka buah lokal seperti potongan sawo, kesemek, papaya, duku, atau durian khas Palembang. Kalau ingin yang dingin-dingin bisa mencoba Es ala River Side yang terbuat dari campuran jeruk kunci dibelender bersama kulitnya. Rasanya asam, manis, dan menyegarkan. noverta salyadi dan frans ekodhanto.

Monday, 1 October 2012

Kambang Iwak



Kolam Retensi Pertama Peninggalan Belanda
Terhubung Dengan Terowongan Bawah Tanah, Tembus ke Sungai Musi? Kambang Iwak (KI) yang selama ini dikenal masyarakat Palembang sejatinya sekedar kolam retensi. Tempat pembuangan air pada sebuah pemukiman dan kini banyak bertebaran di sudut kota. Namun, kolam yang dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda ini, diyakini memiliki banyak kelebihan. Salah satunya terhubung dengan terowongan bawah tanah dan tembus ke sungai Musi. Benarkah?

Ditinjau dari kacamata sejarah, mungkin tidak banyak hal menarik dari KI. Paling tidak itu disampaikan secara tersirat oleh Kemas Aripanji SPd MSi, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Sumsel.

Kepada Sumeks Minggu, Aripanji yang juga dosen Fakultas Adab IAIN Raden Fatah menilai, berdasarkan fakta sejarah, KI merupakan bagian dari pemukiman Belanda. Dibangun di kawasan Talang Semut, Bukit Kecil awal abad ke-20 lalu.

Pemukiman tersebut dirancang dekat dengan pusat pemerintahan, kantor ledeng. Itulah sebabnya, yang bisa dilihat hingga kini, perumahan di kawasan tersebut masih banyak menyisakan arsitektur Kolonial. Termasuk beberapa gereja tua yang memang dibangun pada masa penjajahan.

Yang menonjol, rumah dinas Walikota di Jl Tasik sebelah KI yang dulunya bekas rumah Residen Belanda. Dibawah tahun 1960, Rumah Dinas Walikota ini sempat juga menjadi tempat kuliah dengan nama Perguruan Tinggi (PT) Sjakhyakirti, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Universitas Sriwijaya (Unsri).

“Dulu nama jalan di kawasan Talang Semut menggunakan nama-nama Belanda. Sejak zaman kemerdekaan memang sudah dirubah,” ujar Aripanji dibincangi, Rabu malam (30/11) lalu.

Hal berbeda didapat koran ini ketika berbincang dengan Kepala Badan Lingkungan Hidup Palembang, Ir Kms Abubakar. Dimintai komentarnya masalah KI, pria yang dikenal concern menjaga kualitas lingkungan di metropolis langsung terlihat interest.

Karena pria berkacamata ini melihat KI dari sisi tata ruang, kualitas lingkungan yang hingga kini tidak bisa ditandingi oleh pemukiman lain di metropolis.

Ikuti Pasang Surut Sungai Musi
Dibincangi koran ini di ruang kerjanya, Kamis (1/12) lalu, blak-blakan Abubakar memberikan acungan jempol terhadap rancangan tata ruang oleh pemerintah Belanda. Menurutnya, konsep dibangun kolonial membangun kawasan Talang Semut dirancang sedemikian rupa. Dengan teknologi kala itu yang termasuk tinggi dan perhitungan mendetail, kawasan tersebut sengaja dibangun dan dipersiapkan hingga puluhan tahun ke depan.

Hasilnya, tanah serta perumahan di kawasan tersebut mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Jauh dibanding pemukiman lain. Selain tata ruang, lingkungan yang mengedepankan penghijauan membuat nilai kawasan membumbung tinggi.

“Yang namanya perumahan, kalau sudah ada embel-embel green (hijau, red) itu harganya pasti tinggi. Yang bisa menyaingi Kambang Iwak, itu cuma perumahan Ciputra yang kawasanya masuk Palembang dan Banyuasin. Perumahan Ciputra itu, ruang hijaunya mencapai 68 persen. Kalau KI, sejak awal dibangun, ruang hijaunya mencapai 70 persen,” ungkap Abubakar panjang lebar.

Dengan tingginya ruang terbuka hijau dimiliki KI, hingga kini kawasan tersebut menjadi pusat percontohan. Bahkan, dua kali tercatat KI dianugerahi Taman Kota Terbaik di Indonesia. Itu terjadi tahun 2008 serta 2010 lalu.

Keunikan lain dimiliki KI, ternyata naik turunya permukaan air berhubungan dengan pasang surut sungai Musi. Sejak lama diperhatikan, Abubakar melihat tiap kali sungai Musi pasang, permukaan air KI ikut naik. Sungai Musi turun, permukaan KI ikutan turun.

Apa hubunganya? Dikatakan Abubakar dari cerita masyarakat yang pernah didengarnya, pembuangan air di KI dihubungkan oleh terowongan bawah tanah ke sungai Musi.

Hingga kini, Abubakar sendiri mengaku belum pernah melihat terowongan tersebut. Namun, ia sangat menyakini adanya terowongan tersebut.

“Kalau dicari pasti ada. Soalnya memang KI berhubungan dengan sungai Musi. Lihat saja teori Archimides. Ketika dua permukaan diisi dengan air, tinggi air akan sama. Ini yang terjadi pada KI dan sungai Musi,” jelasnya. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 06 Desember 2011 12:25 | Sumeks Minggu

Thursday, 27 September 2012

Makam Ki Gede Ing Suro, Jejak Awal Kerajaan Islam Palembang



Kompleks pemakaman kuno ini sekarang menjadi bagian dari jalur hijau (green barrier) PT Pusri. Di kompleks pemakaman yang masuk dalam wilayah administratif Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan IT II Palembang, ini terdapat delapan bangunan dengan jumlah makam keseluruhan 38.

Salah satu tokoh yang dimakamkan di kompleks pemakaman yang dibangun sekitar pertengahan abad 16 ini adalah Ki Gede Ing Suro. Dialah pendiri kerajaan Islam Palembang, yang kemudian menjadi Kesultanan Palembang Darussalam.

Ki Gede Ing Suro adalah putra Ki Gede Ing Lautan, salah satu dari 24 bangsawan dari Demak yang menyingkir ke Palembang, setelah terjadi kekacauan di kerajaan Islam terbesar di pulau Jawa itu. Kekisruhan ini merupakan rangkaian panjang dari sejarah kerajaan terbesar di Nusantara, setelah Kerajaan Sriwijaya yaitu Kerajaan Majapahit.

Raden Fatah yang lahir di Palembang adalah putra Raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya V. Raden Fatah lahir dari Putri China yang disebut Putri Champa, setelah istri Brawijaya itu dikirim ke Palembang dan diberikan kepada putra Brawijaya, Ariodamar atau Ario Abdillah atau Ario Dillah.

Setelah dewasa, Raden Fatah bersama Raden Kusen, putra Ario Dillah dengan Putri China dikirim kembali ke Majapahit. Oleh Brawijaya V, Raden Fatah diperintahkan untuk menetap di Demak atau Bintoro sedangkan adiknya lain bapak, Raden Kusen, diangkat sebagai Adipati di Terung.

Pada masa menjelang akhir abad XV ini, Islam di Pulau Jawa mulai kuat. Saat terjadi penyerbuan oleh orang Islam terhadap Majapahit, prajurit kerajaan Hindu itu kalah dan Raja Brawijaya V menyingkir hingga kemudian mangkat. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Majapahit.

Setelah keruntuhan Majapahit, Sunan Ngampel Denta (wali tertua dalam Walisongo) menetapkan Raden Fatah sebagai Raja Jawa menggantikan ayahnya. Tentu saja, dengan pemerintahan Islam.

Raden Fatah, dibantu para wali, kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Surabaya ke Demak sekaligus menyebarkan agama Islam di daerah ini. Atas bantuan penguasa dan rakyat di daerah yang sudah lepas dari Majapahit, antara lain Tuban, Gresik, Jepara, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1481 M.

Dia menjadi raja pertama dengan gelar Jimbun Ngabdur-Rahman Panembahan Palembang Sayidin Panata Agama. Raden Fatah yang wafat sekitar tahun 1518 M, digantikan putranya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang wafat tahun 1521 M.

Pengganti Pati Unus adalah Pangeran Trenggono (wafat tahun 1546 M). Wafatnya Sultan ketiga Demak ini merupakan awal dari kisruh berkepanjangan di kerajaan Islam yang sempat punya pengaruh besar di Nusantara itu. Tahta kerajaan menjadi rebutan antara saudara Trenggono dengan putranya.

Saudaranya, yang dikenal sebagai Pangeran Seda Ing Lepen dibunuh putra Trenggono, Pangeran Prawata. Prahara berlanjut dengan pembunuhan terhadap Prawata oleh Putra Seda Ing Lepen, Arya Penangsang atau Arya Jipang pada tahun 1549 M.

Menantu Trenggono, Pangeran Kalinyamat, juga dibunuh. Arya Penangsang akhirnya wafat dibunuh Adiwijaya. Menantu Trenggono yang terkenal sebagai Jaka Tingkir, Adipati penguasa Pajang ini kemudian memindahkan pusat kerajaan ke Pajang. Dengan demikian, berakhir pula kekuasaan Demak pada tahun 1546 M setelah berjaya selama 65 tahun.

Akibat kemelut itu, sebanyak 24 orang keturunan Sultan Trenggono (artinya, keturunan Raden Fatah) hijrah ke Palembang di bawah pimpinan Ki Gede Sido Ing Lautan. Setelah Ki Gede Sido Ing Lautan yang sempat berkuasa di Palembang wafat, digantikan putranya, Ki Gede Ing Suro. Karena raja ini tidak memiliki keturunan, dia digantikan saudaranya, Ki Gede Ing Suro Mudo.

Written by: Taufik Wijaya


Komplieks Makam Ki Gede Ing Suro


Kompleks Makam Ki Gede Ing Suro

Thursday, 20 September 2012

Kelenteng Soei Goiat Kiong


Lokasi : Kawasan 9/10 Ulu

Kelenteng ini terletak di kawasan Kelurahan 9/10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Letaknya di tepi Sungai Aur dan berjarak sekitar 110 meter dari Sungai Musi. Rumah ibadah ini didbangun sekitar tahun 1839 M, sebagai pengganti kelenteng sebelumnya ?berlokasi di dekat rumah Kapiten Cina, 7 Ulu?yang terbakar habis, beberapa puluh tahun sebelumnya. Ruangan di dalam kelenteng terdiri atas tiga ruang peribadatan dan satu ruang pendeta.

Di dalam ruangan-ruangan ini, ditempatkan patung Kwan Im (Dewi Pengasih), Poo Sen (Dewa Pengobatan), dan Kwan Tun (Dewa Kesetiaan). Patung Kwan Im diletakkan di relung tengah, diapit kedua patung lainnya. Tegel yag dipakai untuk lantai kelenteng berwarna merah. Motif hiasannya adalah persegi delapan dengan gambar feng shui. Di dalam kelenteng, yaitu ruang paling timur bangunan belakang, terdapat tanah tumbuh. Seperti halnya Pulau Kemaro, tanah tumbuh ini diyakini sebagai makam seorang perempuan muslim bernama Fatimah. Ada kepercayaan, orang yang bersembahyang di ruang peribadatan ini tidak diperbolehkan menempatkan daging babi sebagai sesaji. Ruangan ini juga tidak boleh dimasuki anjing.

Keberadaan Kampung Kapitan dan sejarah masyarakat China di Palembang tidak dapat dilepaskan dari tempat ibadat Tri Dharma Chandra Nadi atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang. Klenteng yang dibangun di kawasan 10 Ulu pada tahun 1733, sebagai ganti klenteng di kawasan 7 Ulu yang terbakar setahun sebelumnya itu, menyimpan banyak cerita melalui berbagai masa.

Menurut Princeps, Sekretaris III Yayasan Dewi Pengasih Palembang, selaku pengelola klenteng Chandara Nadi, klenteng itu digunakan umat dari tiga agama dan kepercayaan untuk berdoa. Ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di klenteng ini adalah Buddha, Tao, dan Konghucu.

Memasuki Klenteng Chandra Nadi, aroma hio wangi langsung menusuk ke hidung. Hio-hio itu dipasang di altar Thien. Thien secara harfiah berarti ’langit’. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha, thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Melangkah masuk ke dalam, di altar Dewi Maco Po atau penguasa laut (juga disebut sebagai dewi yang menguasai setan dan iblis) dan altar Dewi Kwan Im atau penolong orang yang menderita sudah tersusun secara berurut. Di altar Dewi Maco Po sering diadakan upacara Cio Ko untuk meminta izin membuka pintu neraka agar dapat memberi makan kepada arwah yang kelaparan.

Setelah altar Dewi Kwan Im, para pengunjung klenteng dapat melihat altar Sakyamoni Buddha (Sidharta Buddha Gautama), altar Bodhisatva Maitreya (calon Buddha), altar Dewi Kwan Tee (pelindung dharma), altar Dewi Paw Sen Ta Tee atau dewi uang dan pemberi rezeki. Kemudian altar Dewi Chin Hua Niang Niang atau Dewi Mak Kun Do, altar Giam Lo Ong (raja neraka), dan altar Dewa Toa Pek Kong berbentuk macan.

Dewi Penyembuh
Bagi mereka yang percaya, Dewi Kwan Im di klenteng ini dapat dimintai tolong untuk penyembuhan penyakit. Menurut Princeps, ada seorang umat yang menderita kanker rahang dan berdoa ke Dewi Kwan Im, lalu umat itu minta obat kepada petugas klenteng.

Obat diberikan dengan cara mengocok sekumpulan batang bambu kecil yang diberi nomor. Nomor yang terambil akan ditulis di kertas semacam resep untuk ditukarkan dengan racikan obat di toko obat yang ditunjuk.

Menurut Princeps, obat itu ternyata manjur dan mampu menyembuhkan umat yang menderita kanker rahang.

Sementara di altar Dewi Mak Kun Do, biasanya, disinggahi para wanita untuk meminta anak. Riana, warga Kenten, Palembang mengatakan, dia berdoa di altar Mak Kun Do untuk meminta anak laki-laki karena ia sering mendengar banyak doa minta anak dikabulkan.

Salah satu keunikan klenteng itu adalah ramalan nasib. Seperti untuk mendapatkan kesembuhan, umat perlu bersembahyang lebih dahulu sebelum mengocok ramalan nasib. Ramalan itu terdapat di bambu kecil yang diberi nomor. Setiap nomor yang keluar dari tempatnya, akan diambil dan dicocokkan dengan buku petunjuk ramalan.

”Selain itu Klenteng Chandra Nadi memegang peranan penting dalam berbagai upacara keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada zaman para kapitan masih memegang kendali, semua upacara hari raya besar, termasuk Imlek, diadakan di klenteng Chandra Nadi, dan diteruskan ke klenteng di Pulau Kemaro di Sungai Musi,” kata Princeps.

Bahkan, tradisi itu masih tetap diteruskan hingga sekarang. Masyarakat Tionghoa penganut Buddha, Tao, dan Konghucu, terutama yang mempunyai leluhur di Palembang selalu merayakan Imlek di Chandra Nadi dan dilanjutkan ke Pulau Kemaro.

Meskipun tetap berdiri utuh sampai sekarang, keberadaan klenteng Chandra Nadi bukan tanpa gangguan. Menurut Princeps, pada zaman Jepang, dua pesawat Jepang pernah mencoba mengebom klenteng itu karena dianggap sebagai basis gerakan bawah tanah masyarakat Tionghoa. Namun, tidak ada bom yang mengenai sasaran.

Pascatahun 1966, ketika kebencian terhadap masyarakat Tionghoa memuncak, sepertiga lahan klenteng diambil paksa untuk dijadikan Pasar 10 Ulu. Para pengurus klenteng tidak dapat berbuat apa-apa karena ada tekanan politik masa itu.

Ketika kerusuhan rasial pecah pada tahun 1998, massa juga sudah mulai bergerak untuk membakar klenteng tertua di Palembang itu. Namun, polisi dan masyarakat setempat berhasil menghadang gerakan massa sehingga mereka tidak sempat membakar apa pun.

Kini setelah 272 tahun berdiri, Klenteng Chandra Nadi tetap terbuka bagi setiap umatnya untuk beribadah. Sayang, jalan masuk ke klenteng itu melalui pasar tradisional yang kumuh dan macet sehingga turis akan kesulitan untuk mendatangi klenteng itu. (eca)

Kompas