Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, 14 January 2013

Pasar 16 Ilir.



Oleh: Yudhy Syarofi

Penggusuran pedagang kaki lima di kawasan eks-Pasar 16 Ilir saat ini sungguh miris. Dalam sejarahnya, Belanda (sebagai penjajah) sangat disiplin dalam penataan ruang. Namun, mereka masih memberikan kesempatan kepada rakyat di tanah jajahan untuk mencari nafkah. Hanya, polanya yang diatur. Lebih rapi, bersih, aman, dan nyaman.

Sebelum "campur tangan" Kolonial Belanda terhadap alam di Palembang, sebelum abad ke-20, kawasan Pasar 16 Ilir (saat ini) dahulunya merupakan pemukiman tepian sungai. Di kawasan itu, terdapat Sungai Tengkuruk, yang merupakan salah satu anak Sungai Musi, yang salah satu bagiannya bertemu dengan Sungai Kapuran. Sementara Sungai Kapuran, bertemu pula dengan Sungai Sekanak (Peta Situasi Peperangan Palembang-Belanda; Sejarah Perjuangan Sri Sultan Mahmoed Baderedin Ke II; R.H.M. Akib; 1980).

Sebagaimana sifat orang Melayu Palembang, kawasan tepian sungai --terutama Sungai Musi-- merupakan lokasi "favorit" untuk pemukiman. Pilihan ini juga merupakan "pilihan cerdas" mengingat saat itu jalur transportasi adalah air. Perahu-perahu yang berasal dari pedalaman (hulu) dengan tujuan utama berdagang, menjadikan Sungai Tengkuruk sebagai tempat singgah. Hingga sekitar tahun 1910, Sungai Tengkuruk masih "normal".

Di atas sungai itu, terdapat jembatan dan tangga-tangga yang menghubungkannya dengan daratan. Jika dilihat dari arah pertigaan Jl. Masjid Lama (saat ini), di sepanjang tepian sungai sebelah kiri, berjajar pertokoan. Sedangkan di bagian kanan, tampak rumah-rumah panggung.

Di bagian lain sungai itu, tampaklah tangga raja (hingga kini masih dinamakan demikian meskipun sudah tak ada lagi sungai dan tangganya). Tangga ini berfungsi sebagai tempat naik turunnya para pembesar Kesultanan Palembang Darussalam.

Seperti lazimnya perkembangan pasar saat ini, perdagangan di Pasar 16 Ilir berawal dari "pasar tumbuh", yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl. Kebumen). Pola perdagangan di lokasi itu, setidaknya hingga awal 1900-an, dimulai dari berkumpulnya pedagang cungkukan (hamparan), yang kemudian berkembang dengan pembangunan petak permanen.

Untuk kawasan Pasar Baru (hingga kini masih bernama Jl. Pasar Baru), yang saat itu sudah berderet bangunan bertingkat dua, yang bagian bawahnya menjadi tempat berjualan. Los-los mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan dipermanenkan sekitar tahun 1939.

Sementara itu, muara Sungai Rendang, menjadi salah satu "dermaga" pilihan perahu kajang (perahu beratap) berlabuh. Perahu, yang sekaligus menjadi tempat tinggal, ini membawa hasil bumi dari daerah di hulu Sungai Musi untuk diperdagangkan di Pasar 16 Ilir. Ini terjadi setelah pengembangan ekonomi dan kawasan, didahului pembangunan Pasar Sekanak yang masa itu disebut sebagai Pasar Ikan, tidak lama setelah penguasaan Belanda atas Palembang, tahun 1821.

Boulevard Zaman Belanda
Sekiranya tidak terjadi perang Palembang-VOC pada tahun 1658 dan 1659, barangkali "pusat kota" Palembang bukan di 16 Ilir dan sekitarnya. Setelah Keraton Palembang dibakar habis oleh VOC pada 1659, penguasa Palembang kala itu --Sido Ing Rajek—menyingkir ke Inderalaya.

Adik Sido Ing Rajek, Ki Mas Hindi Ario Kesumo Abdurrohim (Candiwalang), kemudian berkuasa setelah terjadi kekosongan pemerintahan akibat Sido Ing Rejek menolak kembali ke Palembang. Selanjutnya, Candiwalang memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Beringin Janggut (saat ini), membangun Kuto Cerancang atau Kuto Tengkuruk. Dia pun menjadi Sultan pertama setelah melepaskan "ikatan' ideologis dengan Mataram. Sultan pertama Kesultanan Palembang Darussalam ini bergelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Iman.

Pada masa inilah, didirikan masjid, semacam alun-alun sebagai tempat beristirahat (kini Jl. Beringin Janggut), segara (kolam) di kawasan yang sekarang masih memakai nama-nama itu sebagai nama jalan. Misalnya, nama Beringin Janggut, diyakini sebagai bagian taman tempat tumbuhnya pohon beringin, yang karena tuanya sampai ber-"janggut" (akar gantung). Jalan Segaran diyakini merupakan bagian kolam (?) atau tempat orang beristirahat sehingga menjadi segar. Dan Jl. Masjid Lama, adalah lokasi berdirinya masjid sebelum Masjid Sulton (sekarang, Masjid Agung Palembang) dodirikan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo.

Kotapraja (Gemeente) –kemudian dilafazkan lidah Palembang sebagai Haminte-- melakukan beberapa kebijakan pembangunan. Dibangunlah semacam taman di Talangsemut, pusat perdagangan di 16 Ilir, pelabuhan di Sungai Rendang, serta pusat perkantoran di sekitar Benteng dan Tengkuruk. Kebijakan ini termasuk rencana pembuatan boulevard atau bulevar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bulevar berarti jalan raya, yang biasanya ditanam pepohonan di kiri dan kanannya.

Untuk merealisasikan itu, Sungai Tengkuruk ditimbun pada tahun 1928. Di atasnya, dibangunlah jalan dalam dua jalur. Di bagian kiri --jika dilihat dari arah Sungai Musi, tampaklah jajaran pohon dan kanannya, bangunan dua tingkat, yang merupakan perkantoran. Bentuk serupa ini dapat disebut bulevar.

Melihat foto-foto lama yang menunjukkan kondisi Kawasan 16 Ilir tempo doeloe, tampaklah keteraturan. Pendapat ini memang bersifat debatable, misalnya dengan mengatakan, itu saat penduduk Palembang masih sedikit. Namun harus diakui, penataan yang dilakukan Pemerintah (Belanda) saat itu cukup apik. Namun, harus dicatat, bahwa saat itu kawasan ini tetap saja tidak bebas pedagang kaki lima. Artinya, semua berpulang kepada siapa yang mengatur dan bagaimana cara mengaturnya.

Usai penimbunan, Sungai Tengkuruk dijadikan jalan. Hal ini terkait dengan program Pemerintah Kolonial dalam penyediaan sarana “cari angin” bagi warga Eropa (soal sarana hiburan, nanti dibahas tersendiri). Ini merupakan rangkaian dari pembangunan jalan di depan Kuto Besak (kini Jl. SMB II), Staadhuisweg (kini Jl. Merdeka), jalan di tepian Sungai Sekanak samping Kantor Walikota saat ini (sekarang, Jl. Sekanak), dan Jl. Sekitar kawasan Talangsemut.

Sebuah foto bertahun 1930, menampakkan salah satu sudut jalan di Pasar 16 Ilir (dilihat dari arah Musem SMB II saat ini), menampakkan jalan dan trotoar yang bersih. Begitupun pengaturan arus lalu lintasnya. Tampak seseorang yang sedang menarik semacam gerobak penumpang. Dalam film-film kungfu Hongkong, becak serupa ini disebut rigshaw. Penariknya, seorang Cina yang rambutnya dikuncir. Tarif yang diterapkan seragam, yaitu sewang atau 10 sen. Jalan Tengkuruk pun menjadi sarana jalan di samping sebagai sarana ruang publik. Namun, penikmatnya, seperti halnya taman lain --di depan Balai Pertemuan Sekanak, Kambang Iwak, dan beberapa tempat lain-- kebanyakan adalah orang Eropa.

Pola bulevar memungkinkan jalan ini menjadi sangat sedap dipandang. Selain trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, dan dilengkapi pula dengan lampu hias di bagian tengah (median)-nya dan pepohonan rindang di salah satu sisinya. Sisi lain, bangunan pertokoan dan perkantoran (kini di bagian Jl. Tengkuruk Permai) tetap dipertahankan. Perlakuan sama juga atas pertokoan --umumnya dua tingkat-- di Jl Pasar Baru dan blok di Jalur 11 (nama saat ini). Beberapa foto yang diambil antara tahun 1930-1958, menunjukkan, adanya penataan di kawasan itu yang mengarah kepada bentuk pusat perbelanjaan (pertokoan). Selain bangunan toko --ini tampak pula pada foto-foto yang diambil sebelum tahun 1930-an—yang berjajar, juga tampak adanya arkade. Yaitu, lorong yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dengan atap-atap di bagian atasnya.

Aktivitas perdagangan internasional, terutama karet (Hevea brasiliensis), tembakau, kopi, kapas (Exbucklandia populnea R. Brown), serta hasil bumi lainnya, menyebabkan kawasan ini pun menjadi “pusat” perbankan. Sepanjang tepian Sungai Musi dari Sekanak hingga 16 Ilir dipenuhi oleh rakit-rakit tumpahan. Rakit ini dimaksudkan untuk menampung hasil bumi, terutama karet, dari kawasan Uluan sebelum transaksi dilakukan. Pada masa ini, bank niaga pertama yang membuka cabangnya di Keresidenan Palembang adalah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) pada tahun 1900. Sementara De Javasche Bank, sebagai bank sirkulasi untuk bank niaga, membuka cabang di Palembang pada 20 September 1909. Dapat dikatakan, NHM merupakan “pemain tunggal” di Palembang selama dua dasawarsa. Perkembangan perdagangan getah karet yang luar biasa setelah tahun 1910, membuat beberapa manajemen bank membuka cabang di Palembang. Setelah tahun 1920, berdirilah kantor cabang Nederlandsche Indische Escompto Maatschapij, Nederlandsche Indische Handelsbank, dan Hong Ho (perusahaan bank Cina).

Bank-bank yang kesemuanya berkantor di kawasan 16 Ilir ini membiayai hampir semua perdagangan karet dan kopi di Keresidenan Palembang. Sistem yang dipakai kala itu adalah gadai konsinyasi atau kredit yang diterima. Pihak bank membuat daftar dagang berjangka. Semua jenis tanaman yang tecantum di dalam daftar ini dapat dipakai sebagai bahan gadai di bank. Pembelian dan penjualan harus dilakukan melalui pialang yang diakui Kamar Dagang. Para pedagang pun dapat menggadaikan karet atau kopinya kepada bank. Komoditas ini kemudian disimpan di dalam gudang (veem) dan dapat mengambilnya kembali apabila utang sudah lunas. Pedagang juga dapat mengambil kredit di bank apabila memiliki surat tertulis dari pialang yang menyatakan bahwa sang pemohon kredit akan menyerahkan komoditas (misalnya, karet) dalam jangka waktu tertentu.

Bank Sumsel
Dengan kondisi perbankan serupa ini, tidaklah mengherankan apabila kemudian –pada masa kemerdekaan—pemerintah mendirikan bank milik daerah di kawasan ini. Karena situasi dan kondisi politik yang tidak memungkinkan menjelang akhir tahun 1950-an, pemerintah memberlakukan darurat perang. Karenanya, kebijakan pembangunan banyak dipegang oleh militer. Panglima Ketua Penguasa Perang Daerah Tentara dan Territorium (TT) II Sriwidjaja Tingkat I Sumatera Selatan, Letkol Barlian, mengeluarkan Surat Keputusan (SK) No. 132/SEP/’58 pada 10 April 1958. SK mengenai pendirian Bank Pembangunan Sumatera Selatan ini berlaku surut mulai 6 November 1957. Dengan demikian, 6 November 1957 dicatat sebagai hari lahir PT Bank Pembangunan Sumatera Selatan.

Panglima Ketua Penguasa Perang Daerah TT II Sriwidjaja Tingkat I Sumatera Selatan, Letnan Kolonel Harun Sohar, yang menggantikan Letkol Barlian pada 14 Mei 1958, kemudian mendaftarkan pendirian PT Bank Pembangunan Sumatera Selatan ke Notaris Tan Thong Kie, 29 September 1958, sehingga tercatat sebagai Akta Notaris No. 54 (Tambahan Berita-Negara RI 17/7-1959 No. 57).

Pendirian bank ini didaftarkan oleh Mayor TNI Roesnawi, Kepala Staf Harian Penguasa Perang TT II Sriwidjaja, atas kuasa Letnan Kolonel Harun Sohar, Penjabat Panglima Penguasa Perang TT II Sriwidjaja. Pendaftar kedua adalah Mr. H. Makmoen Soelaiman, Penjabat Presiden Direktur Bank Pembangunan Sumatera Selatan. Bank ini, terletak di kawasan Jl. Tengkuruk (kini Jl. Jenderal Sudirman), menempati eks-Gedung Sekolah Misi Methodist. Sejak didirikan awal abad ke-20 hingga tahun 1950-an, masyarakat Palembang menyebutnya sebagai sekolah Inggris dan jalan itu masih disebut sebagai Jalan Sekolah. Ini mengacu kepada nama jalan semasa pemerintah kolonial, yaitu Schoolweg.

Makmur meskipun di tanah jajahan. Begitulah yang dirasakan rakyat Sumatera Selatan, saat harga karet melambung-lambung hingga dua dasawarsa abad ke-20. Kawasan 16 Ilir menjadi saksi atas kemakmuran yang luar biasa itu.

Dengan tingkat kemakmuran yang tinggi ini, rakyat Keresidenan Palembang –terutama kawasan di Sumatera Selatan penghasil getah karet (Hevea Brasiliensis) itu sudah terbiasa mendengarkan piringan hitam yang diputar pada gramafon dari berbagai merek, seperti Edison, Polydor, dan His Masters Voice. Bagi yang senang dengan fotografi, tersedia pula kamera foto. Semua produk “mewah” itu diiklankan di surat kabar lokal, seperti Pertja Selatan, Pewarta Melajoe, atau Kemudi. Bagi warga yang sudah melek huruf dan mampu membaca koran, iklan itu pun memikat hati mereka. Didatangilah pertokoan di Pasar 16 Ilir untuk membeli bermacam barang itu. Tidaklah heran, apabila kemudian, setelah bertransaksi getah karet dengan para penampung, juga bank-bank yang berada di kawasan itu, para toke karet ini mengangkut beragam barang mewah ke kampung mereka. Sebagai catatan, pendirian bank-bank niaga di kawasan ini –seperti diulas pada tulisan terdahulu—dipicu oleh semakin membaiknya perekonomian di keresidenan ini.

Bisnis perkaretan di Palembang, pada masa awal abad ke-20 ini sangat menjanjikan. Apalagi setelah terjadi rubber booms antara tahun 1914-1915. Kondisi ini makin meningkat setelah tahun 1920-an. Tak heran, banyak orang kaya di Keresidenan Palembang berkat bisnis getah dari tanaman yang dibawa dari Singapura oleh jemaah haji asal Palembang itu. Tanaman yang berasal dari Desa Para –nama desa ini kemudian melekat sebagai salah satu sinonim pohon karet—yang berada di Brasil sana. Sebetulnya, bukan hanya bisnis di Keresidenan Palembang yang “meledak” akibat getah karet. Tercatat, beberapa daerah lain di wilayah Hindia Belanda mengalami hal yang sama. Ini pun menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda, yang pada Oktober 1924 mendirikan suatu badan yang dinamai De Native Rubber Investigation Commissie untuk melakukan semacam penelitian mengenai kondisi perkaretan di negeri jajahannya ini. Termasuk pula, berapa besar penghasilan yang didapat perusahaan eksportir. Hal itu terjadi akibat terjadinya lonjakan permintaan getah karet pada masa 1920-an. Hasil penelitian itu kemudian diterbitkan dalam sebuah laporan berjudul De Bevolkingscultuur in Nederlandsch Indie (Pertja Selatan; 7 Oktober 1927). Sebagai gambaran, dapat dilihat pada data ekspor karet pada tahun 1919-1926;

Tahun Ekspor Basah (ton) Ekspor Kering (ton) Harga (juta rupiah)

  • 1919 13.000 - -
  • 1920 10.000 - -
  • 1921 6.000 - -
  • 1922 25.000 20.000 15
  • 1923 53.000 40.000 50
  • 1924 86.000 56.000 70
  • 1925 128.000 83.000 250
  • 1926 128.000 85.000 180

  • Sumber: Pertja Selatan, 7 Oktober 1927

    Catatan: mata uang yang dipakai, rupiah. Surat kabar yang terbit di Palembang ini juga menampilkan data mengenai besaran ekspor karet di Indonesia, berdasarkan Keresidenan, pada tahun 1927 per Januari-September.


    Keresidenan Ekspor Kering (ton) Ekspor Basah (ton)

  • Borneo Barat 21.133 16.906
  • Borneo Selatan dan Timur 26.299 15.780
  • Jambi 30.511 15.256
  • Palembang 17.037 11.951
  • Sumatera Timur dan Aceh 16.648 11.154
  • Riau dan Daerahnya 7.863 6.984
  • Tapanuli 3.528 3.175
  • Bangka 2.163 1.449
  • Bengkulu 953 638

  • Sumber: Pertja Selatan, 7 Oktober 1927


    Palembang Punya “BG”
    Dalam situasi ini, rakyat Keresidenan Palembang yang semula sangat lekat dengan budaya tepian sungai (riverine culture) mulai kenal dengan budaya “daratan”. Sebagian dari mereka yang diuntungkan oleh bisnis getah karet kemudian seolah berlomba membeli mobil. Selain distributor mobil yang menyediakan beragam merek mobil di Jl. Tengkuruk, sebuah perusahaan dagang –istilah sekarang, agen tunggal pemegang merek—mobil Ford, bahkan kemudian mendirikan ruang pamer (show room) di kawasan Sungai Rendang, yang terletak di sebelah hilir 16 Ilir. Dalam tahun 1920, mobil pribadi belum sampai 300 unit. Namun, pada tahun 1927, jumlahnya meningkat sampai 3.475 unit, terdiri atas berbagai merek, yaitu Ford, Albion, Rugby, Chevrolet, dan Whitesteam.

    Saat ini, pasaran mobil demikian pesat. Dua perusahaan mobil Amerika, seperti dimuat dalam iklan di surat kabar Pertja Selatan, yaitu Ford dan Chevrolet berkompetisi merebut konsumen. Pada tahun 1920-an ini, sedan Ford dipatok dengan harga Nlg 2.155, sedangkan Chevrolet seharga Nlg 2.195.

    Sebuah foto berangka tahun 1930, menunjukkan kondisi di kawasan Jl. Pasar (Pasarstraat) 16 Ilir. Pada foto ini, tampak sebuah mobil yang terlihat jelas pelat nomornya. Dari sini, dapatlah diambil kesimpulan bahwa pemakaian hirif BG sebagai identitas nomor polisi kendaraan di Palembang –mungkin juga berlaku bagi kota lain di Indonesia—merupakan adopsi dari zaman Belanda. Ternyata, bukan hanya KUHP yang diadopsi dari negeri penjajah itu.

    Tulisan ini berdasarkan penelitian dari berbagai sumber, baik tertulis maupun wawancara.

    Selanjutnya: Pedagang Cungkukan, Kampung Cina, dan Pertokoan

    SUMBER: BERITA MUSI 03.06.2009 13:51:13 WIB

    Koleksi Photo dari Berbagai Sumber @2008-2011

    Koleksi Photo Palembang Tempo Dulu (Album 1)
    Koleksi Photo Palembang Tempo Dulu (Album 2)
    Koleksi Photo Palembang Tempo Dulu (Album 3)

    Saturday, 1 December 2012

    Peta Prasasti dan Arca Sriwijaya

    Oleh : Syamsul Noor Al-Sajidi

    Prasasti merupakan sumber sejarah tulisan berupa benda atau artefak yang berbentuk tiga dimensional, seperti batu, logam, kayu, dan lain-lain. Berita mengenai kerajaan Sriwijaya mulai dikenal dan semakin populer sejak ditemukannya beberapa prasasti yang umumnya berasal dari abad ke-7 Masehi.

    Menurut arkeolog Bambang Budi Utomo, prasasti-prasasti yang ditemukan di wilayah Sumatra bagian selatan/tenggara berkisar 31 prasasti yang sebagian besar berasal dari masa Sriwijaya. Prasasti yang berasal dari abad k-7 Masehi berjumlah 25 buah. Isinya berkenaan dengan persumpahan dan siddhayatra (perjalanan suci). Sebagian besar prasasti tersebut ditemukan di wilayah Palembang saat ini, yakni 23 buah prasasti, termasuk Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Telaga Batu, dan Boom Baru. Beberapa prasasti itu, antara lain

    Prasasti Kedukan Bukit Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada akhir 29 November 1920 di kebun pak H. Jahri, tepi sungai Tatang, desa Kedukan Bukit di kaki Bukit Siguntang yang letaknya di sebelah barat daya Palembang, Sumatra Selatan saat ini. Prasasti itu dikenali oleh seorang kontrolir Belanda yang penggemar sejarah, Batenburg, yang kemudian melaporkan penemuan itu ke Dinas Purbakala (Oudheidkundigen Dienst).

    Prasasti yang berbentuk bulat-telur tersebut merupakan prasasti tertua dari masa Sriwijaya dengan angka tahun 604 Saka atau 682 M (tahun Saka dikonversi dengan tahun Masehi ditambah 78 tahun), terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang batu lebih-kurang 42 cm dan kelilingnya 80 cm. Sekarang, prasasti yang terdiri dari sepuluh baris, ditulis dengan huruf Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno ini disimpan di Museum Nasional Jakarta.

    Prasasti Talang Tuwo
    Prasasti Talang Tuwo ditemukan di sekitar muara sungai Lambidaro dan ujung sungai Sekanak, desa Talang Tuwo (sekarang masuk Kecamatan Talang Kelapa) pada 17 November 1920 oleh L.C. Westenenk, pejabat Belanda yang bertugas di Palembang. Desa ini termasuk dalam kawasan Gandus, di sebelah barat Palembang. Prasasti yang terdiri dari 14 baris ini berhuruf Pallawa, berbahasa Melayu Kuno, dan berangka tahun 606 Saka (684 M). Prasasti yang berbentuk persegi empat (jajaran genjang) ini sekarang disimpan juga di Museum Nasional Jakarta.

    Prasasti Telaga Batu
    Prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1935 di sekitar Danau Telaga Biru, dekat Sabokingking 2 Ilir, Palembang tidak berangka tahun. Prasasti yang dihiasi gambar kepala ular kobra berkepala tujuh ini tediri dari 28 baris. Menurut F.M Schnitger prasasti ini berasal dari abad ke-9 Masehi atau ke-10 Masehi, tetapi menurut J.G. de Casparis prasasti ini berasal dari pertengahan abad ke-7 Masehi.

    Bentuk (rupa) prasasti ini dibandingkan dengan prasasti lain dinilai paling artistik dan indah, berbentuk telapak kaki, menunjukkan masyarakat Sriwijaya telah memiliki seniman patung yang mumpuni. Di lokasi situs ini juga ditemukan batu yang bertuliskan sidhayatra (perjalanan kemenangan atau suci). Diperkirakan tempat ini merupakan suatu tempat berziarah yang penting ketika itu.

    Dilihat dari perupaan Prasasti Telaga Batu ini, yang tampak adalah tujuh kepala ular kobra dan pada bagian bawah prasasti terdapat bentuk rel atau saluran yang simetris antara kiri dengan kanan dan bertemu di bagian tengahnya seperti pancuran air. Dari bentuk dan perupaan pancuran itu menggambarkan dua alat kelamin sekaligus (hermaprodit), yang bila dihubungkan dengan kosmologi mistis merupakan simbol kesuburan. Prasasti ini adalah satu-satunya prasasti Sriwijaya yang bukan hanya berisi tulisan, tetapi juga terdapat bentuk atau image. Ketujuh kepala ular kobra yang ada pada bagian atas prasasti dapat diinterpretasikan sebagai upaya raja Sriwijaya untuk menjaga agar isi atau teks prasasti yang dipahatkan itu tetap dipatuhi. Sekarang ini, prasasti yang berbahasa Melayu Kuno dan berhuruf Pallawa ini, disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    Prasasti Kota Kapur
    Prasasti ini ditemukan pada Desember 1892 di lahan yang dikelilingi benteng tanah di tepi sungai Mendo, desa Kota Kapur, sebelum desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Prasasti Sriwijaya yang berangka tahun 686 M ini, tingginya 150 cm. Berisi teks yang terdiri dari 10 baris, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno. Sekarang prasasti ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    Prasasti Kota Kapur ini bila dilihat secara perupaan sangat berbeda dengan prasasti-prasasti Sriwijaya lainnya, karena bentuk prasasti ini vertikal menyerupai menhir pada masa tradisi megalitik.

    Prasasti Palas Pasemah
    Prasasti ini ditemukan di tepi Way Pisang, Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 1957. Sampai sekarang, prasasti ini masih terletak di daerah ini (in situ). Prasasti berbentuk setengah bulat-lonjong ini berhuruf Pallawa dan berbahasa Jawa Kuno, tidak memuat angka tahun. Berdasarkan palaeografi (ilmu tentang tulisan kuno), prasasti ini diduga berasal dari sekitar abad ke-7 Masehi. Prasasti Palas Pasemah terdiri dari 13 baris hampir sama dengan Prasasti Karang Brahi dan Kota Kapur, memuat kutukan bagi mereka yang tidak taat kepada raja Sriwijaya.

    Prasasti Boom Baru
    Prasasti ini ditemukan pada bulan April 1992 oleh penggali pasir yang bernama Rizal di pinggir sungai Musi, depan Pemakaman Kawah Tekurep (pemakaman Kesultanan Palembang), Jalan Blabak, 3 Ilir, kawasan Pelabuhan Boom Baru, Palembang. Rizal adalah teman Aminta, pegawai Museum Balaputra Dewa, yang melaporkan penemuan benda bersejarah itu kepada Kepala Museum Balaputra Dewa, Syamsir Alam, sehingga prasasti itu dapat diselamatkan. Diduga situs Kawah Tekurep sebelum dijadikan pemakaman keluarga Kesultanan Palembang, merupakan situs kerajaan Sriwijaya.

    Prasasti itu, waktu ditemukan kondisinya dalam keadaan pecah dua, merupakan sebongkah batu kali yang berbentuk bulat-lonjong berwarna kemerah-merahan dengan tinggi 47 cm dan lebar 32,5 cm. Berdasarkan palaeografinya, prasasti ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-7 Masehi, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ini disimpan di Museum Negeri Balaputra Dewa, Provinsi Sumatra Selatan.

    Prasasi Karang Berahi
    Prasasti yang ditemukan tahun 1904 oleh Berkhout ini tidak berangka tahun dan merupakan satu-satunya Prasasti Sriwijaya yang ditemukan di Provinsi Jambi, tepatnya di tepi Sungai Merangin.

    Seperti prasasti Sriwijaya lain, prasasti berbentuk setengah bulat-lonjong ini juga berhuruf Palllawa dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti yang berasal dari kira-kira abad ke-7 Masehi ini, terdiri dari 16 baris, mirip dengan Prasasti Kota Kapur, tetapi tidak memuat tentang penyerangan oleh tentara Sriwijaya.

    Prasasti Ligor
    Di daerah Ligor di Semenanjung Tanah Melayu, ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 775 M yang ditulis pada dua belah sisi. Tulisan pada sisi A disebut Prasasti Ligor A memuat keterangan raja Sriwijaya.. Tulisan pada sisi B disebut Prasasti Ligor B menyebut seorang raja bernama Wisnu yang bergelar Sarwarimadawimathana.. Baik Prasasti Ligor A maupun Prasasti Ligor B ditulis dalam bahasa Sanskerta. Prasasti ini menyebutkan tentang ibukota Ligor sebagai wilayah kekuasaan Sriwijaya untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.

    Prasasti Nalanda
    Prasati ini ditemukan di Nalanda, India bagian timur (Negara Bagian Bihar). Prasasti ini tidak berangka tahun, namun diduga berasal dari abad ke-9 Masehi dan berbahasa Sanskerta. Isinya tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh raja Balaputra Dewa, raja Sriwijaya yang beragama Budha. Selain itu disebutkan juga kakek raja Balaputra Dewa yang dikenal sebagai raja Jawa yang bergelar Syailendrawamsatilaka Sri Wirawairimathana (Permata Syailendra Pembunuh Musuh-musuh yang Gagah Perwira).

    Selain itu, disebutkan juga bahwa raja Nalanda yang bernama Dewapaladewa, berkenan membebaskan 5 desa dari pajak untuk membiayai para pelajar Sriwijaya yang belajar di Nalanda.

    Prasasti Bungkuk (Jabung)
    Prasasti ini ditemukan pada tahun 1985 di desa Bungkuk, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Tengah. Prasasti ini tidak berangka tahun, berdasarkan palaeografi, diperkirakan prasasti ini satu zaman dengan prasasti Sriwijaya lainnya. Isi teksnya juga memuat kutukan atau sumpah dan menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa Melayu Kuno biasa.

    Prasasti Kambang Unglen 1
    Sebuah pecahan atau fragmen prasasti batu berwarna kuning keputihan, panjang 36 cm, lebar 22 cm dan tebal 9,5 cm. Ditemukan pada 22 September 1987 di Kambang Unglen, Kota Palembang (dekat Bukit Siguntang). Fragmen Prasasti batu itu dipahat dengan beberapa baris tulisan, sebuah di antaranya berukuran panjang 27 cm dan tinggi huruf 3 cm. Sayang sekali tulisan tipe Sriwijaya itu sudah aus. Tulisan yang masih dapat dibaca berbunyi ... jaya siddhayatra sarwastwa (... perjalanan suci (ziarah) yang menang dan sukses bagi semua mahluk). Kalimat itu dapat dibandingkan dengan kalimat terakhir Prasasti Kedukan Bukit (682 M) yang berbunyi ... Sriwijaya jaya siddayatra subhiksa ni (t) yakala (... Sriwijaya yang menang dalam perjalanan suci yang berhasil, makmur melimpah senantiasa). Prasasti ini disimpan di ruang pameran Museum Balaputra Dewa, Palembang.

    Prasasti Kambang Unglen 2
    Fragmen prasasti yang ditemukan di halaman sekolah SMP PGRI VII, Kambang Unglen, Ilir Barat I, Palembang, Sumatra Selatan. Fragmen ini berukuran 12 x 13 cm, dengan huruf berukuran 1,5 x 2 cm. Dari keempat baris prasasti yang masih terlihat, yang masih mungkin terbaca, hanya tiga baris saja walaupun agak sulit.

    Prasasti yang terbuat dari batu berwarna merah kekuningan ini, berdasarkan bentuk-bentuk hurufnya, diperkirakan berasal dari masa Sriwijaya (abad ke-7 Masehi), berbahasa Melayu Kuno. Isi prasasti ini sendiri masih sulit untuk diketahui, dikarenakan huruf-hurufnya yang sudah tidak jelas. Prasasti Kambang Unglen 2 juga disimpan di ruang pameran Museum Balaputra Dewa, Palembang.

    Secara umum, dapat dikatakan bahwa prasasti-prasasti Sriwijaya adalah prasasti kutukan, karena dari prasasti-prasasti Sriwijaya yang telah disebutkan, lima di antaranya merupakan prasasti kutukan.

    Prasasti-prasasti Sriwijaya di atas, seperti Prasasti Kedukan Bukit cenderung membulat, Prasasti Talang Tuwo cenderung segi empat miring (trapesium), Prasasti Telaga Batu berbentuk tapal kuda, Prasasti Boom Baru cenderung berbentuk bulat telur (elips), serta Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Karang Berahi cenderung berbentuk setengah lingkaran (tapal kuda). Bentuk prasasti yang beragam tersebut, karena bongkah-bongkah batu yang dijadikan prasasti tersebut diperkirakan media batunya tidak didatangkan dari tempat lain, tetapi memang sudah tersedia di lokasinya masing-masing (nonmobile art).

    Selain prasasti, artefak sumber sejarah Sriwijaya adalah arca. Arca adalah sarana yang penting bagi kehidupan keagamaan Hindu-Budha, karena merupakan salah satu media dalam pemujaan kepada dewa.

    Menurut Bambang Budi Utomo, berdasarkan data inventarisasi arca logam dan batu yang ditemukan di Sumatra jumlahnya 116 buah arca, sebagian besar ditemukan di wilayah Sumatra bagian selatan, yakni sekitar 65 buah arca. Sedangkan arca yang ditemukan di Sumatra bagian tengah berjumlah 29 buah arca, ditemukan di Sumatra bagian utara berjumlah 17 buah arca, dan ditemukan di Kota Kapur, Bangka berjumlah 4 buah arca. Arca-arca ini ada yang sudah selesai dikerjakan dan ada yang belum selesai, namun pada bagian tertentu sudah mencirikan gaya seninya. Arca-arca yang berlanggam Syailendra (abad ke-8 dan ke-9 Masehi) sebagian besar ditemukan di wilayah Sumatra bagian selatan berjumlah 21 buah arca dan ditemukan di Sumatra bagian tengah berjumlah 12 buah arca. Data tersebut menunjukkan kejayaan pengaruh kejayaan seni Syailendra ketika Sriwijaya sedang mencapai puncak kejayaannya.

    Arca yang ditemukan di sekitar Palembang tidak hanya meliputi arca-arca Budha saja, tetapi juga arca Hindu. Ini membuktikan bahwa meskipun Sriwijaya merupakan salah satu dari pusat studi agama Budha, tetapi tetap ada kerukunan dalam kehidupan beragama. Beberapa arca-arca Sriwijaya itu di antaranya adalah sebagai berikut:

    Arca Budha, dari Bukit Siguntang, Palembang
    Arca ini merupakan arca terbesar yang berasal dari masa Sriwijaya, tingginya sekitar 3 meter. Arca bersikap berdiri ini digambarkan memakai jubah transparan yang menutupi kedua bahunya. Ciri-cirinya menunjukkan gaya Amarawati, yang berkembang di India Selatan pada abad ke-2 sampai ke-5 Masehi, tetapi masih berkembang di Srilanka sampai abad ke-8 Masehi. Jadi, diperkirakan arca Budha Bukit Siguntang ini berasal dari sekitar abad ke-7 sampai ke-8 Masehi. Arca ini sekarang diletakkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

    Arca Ganesha, dari Jalan Mayor Ruslan (Pagaralam), Palembang Arca ini ditemukan di area Jalan Mayor Ruslan, Palembang. Jalan yang sebelumnya bernama Lorong Pagaralam di dekat sungai Bendungan yang bermuara ke sungai Musi.

    Arca ini mempunyai hiasan-hiasan yang mirip arca Jawa Tengah, tetapi cara duduknya (kaki kanan dilipat ke atas) seperti arca-arca India Selatan. Tampaknya banyak pengaruh India Selatan pada arca Sriwijaya yang satu ini. Arca ini sekarang diletakkan di halaman.

    Arca Budha, dari Tingkip, Musirawas
    Arca yang ditemukan di Tingkip, Musirawas pada tahun 1980, berdiri di atas padmasana (lapik yang berbentuk bunga teratai), kedua tangan diangkat ke atas dengan sikap witarkamudra (sikap Budha mengajarkan dharma atau ajaran agama). Jubahnya yang transparan menutup kedua bahu. Tampaknya arca ini termasuk ke dalam kelompok gaya pra-Angkor yang berkembang pada sekitar abad ke-6 dan ke-7 Masehi, atau gaya Dwarawati (Thailand) yang berkembang pada sekitar abad ke-6 sampai ke-9 Masehi. Arca ini disimpan di Museum Balaputra Dewa, Palembang.

    Arca Awalokiteswara, dari Bingin, Musirawas
    Ditemukan di Bingin, Kabupaten Musirawas ini merupakan contoh arca Budha yang berasal dari sekitar abad ke-8 Masehi. Cirinya yang menarik adalah tampak pada arca Amithaba dan mahkotanya, kainnya ditutup dengan kulit rusa pada bagian pinggulnya. Pada bagian belakang arca terdapat inskripsi yang berbunyi dang acaryya syuta (gelar pendeta Budha).

    Arca Wisnu, dari Kota Kapur, Bangka
    Di Kota Kapur, Bangka, ditemukan struktur bangunan dari batu putih. Di antara runtuhan fondasi candi terdapat fragmen beberapa arca Wisnu. Diperkirakan fragmen tersebut berasal dari setidak-tidaknya 3 buah arca Wisnu. Diduga arca-arca ini berasal dari sekitar abad ke-6 sampai ke-7 Masehi.

    Semua arca Wisnu ini mempunyai ciri yang sama, yaitu bentuk mahkota seperti silinder, seperti pada arca Wisnu di Khmer dari masa pra-Angkor. Hiasannya sederhana, kain panjangnya sampai di bawah lutut, berhias pola garis lengkung, bertangan empat, hanya sayang sudah patah. Pada beberapa fragmen tangan tampak ada yang memegang padma (bunga teratai). Di belakang kepala ada sandaran melengkung yang sudah patah, rambut ikal terurai tampak menutup leher belakang, di atas bahu. Semua temuan arca Kota Kapur disimpan di Balai Arkeologi Palembang.

    Arca Awalokiteswara, dari Sarang Waty, Lemahabang (Lemabang), Palembang
    Arca ini ditemukan tahun 1959 tepatnya di halaman belakang rumah yang bertuliskan Sarang Waty (Rumah Waty) milik Basaruddin Itjo yang terletak di pertemuan Jalan Bambang Utoyo No. 1A dengan Jalan Pendawa, Lemabang, Palembang. Saat ini (2008), arca yang pernah dicuri sampai ke Jambi tapi telah dikembalikan lagi, telah dipindahkan dari halaman belakang rumah ke samping rumah itu.

    Bersama dengan arca ini juga ditemukan ratusan stupika tanah liat yang berwarna putih. Tampaknya arca ini belum selesai dibuat, karena belum memakai perhiasan, hanya pada mahkotanya terdapat arca amithaba. Arca ini diduga berasal dari sekitar abad ke-8 dan ke-9 Masehi.

    Arca Perunggu Maitreya, Budha, dan Awalokiteswara dari Komering Ketiga arca ini ditemukan di Sungai Komering. Berasal dari sekitar abad ke-9 Masehi. Ketiga arca menunjukkan gaya seni Jawa Tengah. Arca ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    Arca Siwa Mahadewa, Perunggu, dari Palembang
    Arca ini ditemukan di Palembang. Pahatannya menunjukkan gaya seni Jawa Tengah pada abad ke-8 sampai ke-9 Masehi. Arca ini masih lengkap, memiliki 4 tangan, kedua tangan belakang memegang sebuah tasbih dan camara (alat untuk menghalau lalat), sedangkan tangan kanan depan dalam sikap witarka mudra, tangan kiri depan memegang sebuah kendi.

    Arca memakai upawita (selempang yang melintang dari bahu kiri ke kanan) ular, gelang bahu, gelang tangan, sebuah kalung, dan hiasan telinga. Pada mahkotanya terdapat tengkorak dan bulan sabit (di sisi kiri) dan kainnya berhias lipatan-lipatan halus. Sehelai kain harimau menutupinya hingga ke atas pinggangnya. Arca ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    Arca Siwa Mahadewa, dari Tanah Abang, Muaraenim
    Arca yang sudah pecah pada bagian kepala dan sandaran atas ini mungkin menggambarkan Siwa Mahadewa. Badan arca ini sama dengan semua arca dari Candi I Tanah Abang, yaitu dari batu putih (batu kapur).

    Arca ini digambarkan duduk bersila di atas padmasana, bertangan 4, tangan kanan belakangnya memegang pisau bertangan panjang, tangan kiri belakang memegang tasbih. Semua arca Candi I Tanah Abang, memakai perhiasan berupa jamang, hiasan telinga, kalung, gelang lengan, gelang, dan gelang kaki. Gaya pahatan dan cirinya menunjukkan masa Jawa Timur awal sekitar abad ke-12 Masehi.

    Arca Siwa Mahaguru, dari Muaraenim
    Temuan dari Candi I Tanah Abang yang lain adalah arca Siwa Mahayana yang mukanya sudah aus dan sandaran bagian kanan telah hilang. Tapi masih lengkap bagian badannya. Bertangan dua, tangan kanan memegang tasbih, tangan kiri memegang kendi (komandalu). Kainnya polos, transparan, panjangnya sampai betis, sampurnya memakai simpul pita yang indah.

    Arca berdiri di atas padmasana yang permukaannya dihias dengan pola biji teratai. Perhiasannya seperti arca yang lain, terdiri dari jamang, hiasan telinga, kalung, gelang lengan, gelang, dan gelang kaki. Memakai selempang dada dan uncal yang panjangnya sampai lutut.

    Arca Leluhur I, dari Muaraenim
    Arca laki-laki ini digolongkan ke dalam kelompok arca leluhur atau arca yang merupakan perwujudan seseorang, jadi bukan menggambarkan dewa. Ini didasarkan atas tidak adanya atribut tertentu yang dapat menjadikan penentu sebagai arca dewa.

    Arca ini digambarkan duduk bersila di atas padmasana, bertangan dua, kedua tangan terletak di atas pangkuan, di telapak tangannya terdapat bunga padma mekar. Rambut ikal di kedua bahunya memperkuat dugaan arca ini mempunyai gaya Jawa Timur. Di sekeliling tepi sandaran terdapat hiasan lidah api.

    Arca Leluhur II, dari Muaraenim
    Seperti juga arca Leluhur I, arca Leluhur II tidak mempunyai atribut tertentu yang menunjukkan identitas kedewaannya. Arca ini duduk bersila di atas lapik polos, kedua tangannya di atas pangkuan, di telapak tangannya terdapat benda bundar, mungkin menggambarkan bunga mekar. Berbeda dengan arca Leluhur I, arca ini digambarkan berbadan gemuk, terutama pada bagian perut, seperti pada perut Agastya atau Ganesha. Arca ini juga termasuk arca dengan gaya Jawa Timur.

    Arca Nandi, dari Muaraenim
    Selain 4 arca tokoh dewa dan leluhur, di Candi I Tanah Abang juga ditemukan arca nandi, yaitu wahana (hewan sapi tunggangan dewa Siwa). Arca nandi ini digambarkan duduk dengan kedua kaki depan dilipat ke belakang, memakai kalung dengan bandul genta-genta kecil dan hiasan untaian manik-manik mengikat moncongnya. Gaya seninya mirip dengan gaya seni kerajaan Singasari dari abad ke-13 Masehi.

    Stambha, dari Palembang
    Artefak ini disebut stambha, sejenis tiang, karena bentuknya mirip demikian, hanya terdiri dari beberapa mahluk, yang saling menunggangi. Yang paling bawah adalah gajah, kemudian raksasa atau ghana, dan paling atas singa.

    Berbeda dengan arca-arca yang lain yang dibuat dari batu kapur, stambha ini dibuat dari andesit. Pola gajah dan singa ini merupakan pola yang populer, terutama di daerah India Timur pada abad ke-10 sampai ke-12 Masehi. Semua arca dari Candi I Tanah Abang masih in situ.

    Selain artefak dalam bentuk arca-arca, artefak Sriwijaya lain, ditemukan dalam bentuk keramik, porselin, dan manik-manik yang juga banyak ditemukan di daerah Palembang.

    * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



    Dikutip dan disarikan dari buku Kerajaan Sriwijaya yang disusun oleh Erwan Suryanegara bin Asnawi Jayanegara, diterbitkan kali pertama oleh Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumatra Selatan




    --------------------

    Berita Musi

    Wednesday, 28 November 2012

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang

    Pengantar

    Palembang merupakan kota yang strategis di Sumatera Selatan. Sebagai kota tua, Palembang banyak menyimpan sejarah perjuangan rakyat. Keberadaan Palembang yang dibagi oleh Sungai Musi menambah eksotismenya. Ciri khas Kota Palembang sebagai kota yang sangat didominasi oleh air, bahkan oleh Belanda sebelum Perang Dunia II, pernah dipromosikan sebagai "Venetie van het Verre Oasten" atau "Venesia dari Timur Jauh." Kekayaan alam Sumatera Selatan menjadi kebanggaan sekaligus ancaman dari bangsa asing.

    Setelah Perang Dunia II, Sekutu membonceng NICA ke Indonesia dengan maksud agar Belanda dapat kembali menguasai Indonesia. Konflik RI dan Belanda semakin menimbulkan ketegangan. Para pasukan RI, laskar dan rakyat berusaha mempertahankan Kemerdekaan yang telah dicapai pada 17 Agustus 1945. Usaha untuk mencapai kepentingan Belanda berlanjut dengan pertempuran besar. Pertempuran besar yang menentukan antara lain Bandung Lautan Api, Pertempuran Ambarawa, Medan Area, Puputan Margarana dan lain-lain. Di Sumatera Selatan pun terjadi pertempuran besar yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.

    Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang pertama kali kita alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara. Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik. ekonomi dan militer. Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong. Selain itu, dapat pula perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Paskan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota. Oleh karena itu, jika Belanda berhasil menguasai Kota Palembang secara total, maka akan mempermudah gerakan operasi militer mereka ke daerah-daerah pedalaman.

    Peranan rakyat sangat besar dalam Pertempuran Lima Hari Lima Malam. Motivasinya perjuangan rakyat Indonesia umumnya dan khususnya para pejuang di daerah Sumatera Selatan yakni adanya "sense to be a nation," rasa harga diri sebagai suatu bangsa yang telah merdeka. Semboyan "Merdeka atau Mati" yang berkumandang semasa periode Perang Kemerdekaan adalah wujud usaha untuk menjaga agar tetap berdirinya Negara Republik Indonesia.

    Provokasi Belanda


    Daerah Keresidenan Palembang pada masa-masa menjelang Pertempuran Lima Hari Lima Malam memiliki keunikan tersendiri, bila dibandingkan dengan daerah-daerah Indonesia lainnya yang telah diduduki oleh Sekutu (NICA), seperti Medan, Padang, Jakarta, Bandung, dan lain-lainnya, yang masih terdapat pemerintahan RI lengkap dengan pasukan, karena keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh kepala pemerintah setempat. Setelah Belanda menggantikan Inggris di Palembang pada 24 Oktober 1946, Kolonel Mollinger menjadi Komandan territorial Belanda untuk Sumatera Selatan (Palembang, Lampung, Bangka, dan jambi). Penyerahan pendudukan Inggris kepada Belanda berlangsung pada 7 November 1946. Setelah menggantikan Inggris, Belanda menuntut garis demarkasi yang lebih jauh. Untuk mencegah timbulnya insiden dilakukanlah perundingan antara pihak Belanda dan RI pada November 1946.

    Hal terpenting dari perundingan itu antara lain tentara Belanda tidak akan memperluas atau melewati batas daerah yang diserahkan kepadanya oleh Inggris dan akan memelihara status quo. Sementara itu di Palembang mulai dilakukan pengembangan kekuatan militer oleh Pasukan TRI, sedangkan pihak Belanda giat menyusun posisi dan memperkuat pasukannya di Palembang.

    Pada bulan Desember 1946, pihak Belanda telah menyusun pasukan-pasukannya di Kota Palembang dan sekitarnya. Kapal-kapal perang Belanda mulai melakukan pencegahan terhadap lalu lintas pelayaran antara Palembang - Lampung - Jambi - Singapura, yang bertujuan untuk mengadakan blokade ekonomi dan militer. Blokade bertujuan agar hubungan timbal balik antara Jambi, Lampung, Palembang dan Singapura terputus sehingga hasil bumi, barang kebutuhan hidup dan senjata tidak dapat diimpor dan diseludupkan dari Singapura. Dr. A.K. Gani melakukan kegiatan menembus blokade tersebut untuk memperkuat perjuangan sehingga dia dijuluki "The biggest smuggler of South East."

    Panglima Komando Sumatera, Jendral Mayor Suharjo Harjowardoyo mengeluarkan Perintah Harian lewat corong Radio Republik Indonesia di Palembang pada akhir Desember 1946 yang ditujukan kepada pasukan-pasukan RI di daerah pendudukan Belanda di Medan, Padang dan terutama yang di Palembang untuk selalu siap siaga dan waspada menunggu instruksi dari pemerintah pusat.

    Pada tanggal 28 Desember 1946, seorang anggota Lasykar Napindo bernama Nungcik ditembak mati karena melewati pos pasukan Belanda di Benteng. Malam harinya Belanda melanggar garis demargasi yang telah ditentukan. Dua buah jeep yang dikendarai oleh pasukan Belanda dari Talang Semut melewati Jalan Merdeka, Jalan Tengkuruk (sekarang jalan Sudirman). Rumah Sakit Charitas sambil melepaskan tembakan-tembakan yang membabibuta. Pancingan itu mendapatkan jawaban dari pasukan RI. Meletuslah pertempuran yang berlangsung sekitar 13 jam lamanya. situasi Palembang dalam kondisi cease fir. Insiden ini menunjukkan akan meletusnya perang yang lebih besar, karena Belanda berusaha meningkatkan pertahanannya.

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang Penghentian tembakan-tembakan tersebut tidaklah berlangsung lama, Belanda kembali melanggar kesepakatan pada 29 Desember 1946, berupa terjadi penembakan terhadap Letnan Satu A. Riva'i, Komandan Divisi Dua, yang mengendarai sepeda motor Harley Davidson saat sedang melakukan inspeksi kepada pasukan-pasukan dan pos-pos pertahanan TRI-Subkoss/Lasykar. Ketika melintas di depan Charitas, ia ditembak dengan senjata otomatis oleh pasukan Belanda yang berada di Charitas. Letnan Satu A. Riva'i berhasil menyelamatkan diri walaupun tembakan itu tepat mengenai perutnya.

    Provokasi Belanda terus terjadi pada tanggal 31 Desember 1946 menyebabkan insiden dengan pihak TRI yang sifatnya sporadis. Belanda melakukan konvoi dari Talang Semut menuju arah Jalan Jendral Sudirman. Mobil tersebut melaju dengan kencang dan melepaskan tembakan-tembakan. Kontak senjata tidak terelakkan di depan Masjid Agung dan sekitar rumah penjara Jalan Merdeka. Pasukan TRI melakukan pengepungan dan serangan terhadap kekuatan Belanda di Charitas sehingga tidak mungkin Belanda untuk keluar dan menerima bantuan dari luar. Akhirnya Belanda meminta bantuan Panglima Divisi II (Kol Hasan Kasim) dan Gubernur Sumatera Selatan (dr. M. Isa) untuk menghentikan tembak-menembak (cease fire)

    Tujuan dilakukan penghentian tembak-menembak bagi Belanda adalah untuk menyusun kembali kekuatan tempurnya. Sebelum Belanda melakukan serangan udara itu memakan waktu yang relatif singkat, yaitu beberapa jam sebelum matahari terbenam menjelang malam. Belanda melakukan penembakan dengan mortir ketempat dimana Pasukan TRI/Lasykar berada yaitu di Gedung Perjuangan (sekarang pusat perbelanjaan Bandung), di daerah dekat Sungai Jeruju, daerah Tangga Buntung, dan sebagainya. Dengan demikian telah berakhir kesepakatan penghentian tembak-menembak oleh Belanda. Insiden-insiden yang terjadi pada akhir tahun 1946 tersebut menjadikan situasi di Kota Palembang dan sekitarnya menjadi panas (Perwiranegar, 1987: 58). Insiden yang terjadi sesungguhnya adalah cara Belanda untuk memicu keributan dengan tujuan agar terjadi pertempuran yang lebih besar.

    Pada hari Rabu, tanggal 1 Januari 1947, sekitar pukul 05.30 pagi, sebuah kendaraan Jeep yang berisi pasukan Belanda keluar dari Benteng dengan kecepatan tinggi. Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Ternyata mereka mabuk setelah pesta semalam suntuk merayakan datangnya tahun baru. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Effendi) lalu menuju Sayangan, kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas Pasukan RI/Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15, dan Markas Polisi Tentara.

    Pada kesempatan yang sama para pemimpin militer dan Lasykar mengadakan rapat komando untuk menentukan sikap dalam menghadapi provokasi Belanda. Rapat dihadiri pimpinan pemerintah sipil Gubernur Muda M. Isa. Dalam rapat tersebut, Panglima Divisi II Kolonel Bambang Utoyo, Gubernur Muda M. Isa, maupun Panglima Lasykar 17 Agustus, Kolonel Husin Achmad menyatakan bahwa dalam menghadapi provokasi Belanda, pihak RI bertindak tidak lagi sekedar membalas serangan, melainkan harus berinisiatif untuk menggempur semua kedudukan dan posisi pertahanan Belanda di seluruh sektor. Kepala staf Devisi II, Kapten Alamsyah, mengeluarkan perintah "Siap dan Maju" untuk bertempur menghadapi Belanda.

    Front Pertempuran Lima Hari Lima Malam


    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang 1. Front Seberang Ilir Timur
    Front Seberang Ilir Timur meliputi kawasan mulai dari Tengkuruk sampai RS Charitas - Lorong Pagar Alam - Jalan Talang Betutu - 16 Ilir - Kepandean - Sungai Jeruju - Boom Baru - Kenten. Pertempuran pertama terjadi pada hari Rabu 1 Januari 1947. Belanda melancarkan serangan dan tembakan yang terus menerus diarahkan ke lokasi pasukan RI yang ada di sekitar RS Charitas. RS Charitas berada di tempat yang strategis karena berada di atas bukit sehingga menjadi basis pertahanan yang baik bagi Belanda. Daerah Front Seberang Ilir (RS Charitas) menjadi tanggung jawab dari Komandan Resimen Mayor Dani Effendi. Basis strategi pertahan di Front Seberang Ilir Timur terutama berlokasi di depan Masjid Agung, simpang tiga Candi Walang, Pasar Lingkis (sekarang Pasar Cinde), Lorong Candi Angsoko dan di Jalan Ophir (sekarang Lapangan Hatta).

    Dibawah pimpinan Mayor Dani Effendi, Pasukan TRI melancarkan serangan ke Rumah Sakit Charitas dan daerah di Talang Betutu. Serangan ini dilakukan bersama dengan satu kompi dan Batalyon Kapten Animan Akhyat yang bertahan di simpang Jalan Talang Betutu (Perwiranegara, 1987: 67). Tujuan serangan ini adalah untuk memblokir bantuan Belanda yang datang dari arah Lapangan Udara Talang Betutu menuju arah Palembang dan menghalangi hubungan antara pusat pertahanan Belanda di RS Charitas dengan Benteng.

    Pada sore harinya, pihak Belanda telah mengerahkan pasukan tank dan panser untuk menerobos pertahanan dan barikade Pasukan TRI di sepanjang Jalan Tengkuruk. Mereka kemudian berhasil menduduki Kantor Pos dan Kantor Telepon melalui perlawanan yang seru dari Pasukan TRI. Dengan berhasilnya Belanda menduduki Kantor Telepon, maka hubungan melalui alat komunikasi menjadi terputus secara total. Setelah itu, belanda memperluas gerakannya hingga menduduki Kantor Residen dan Kantor Walikota. Pasukan TRI yang berada di daerah tersebut mengundurkan diri ke Jalan Kebon Duku dan Jalan Kepandean sedangkan di RS Charitas, kekuatan Belanda semakin terdesak karena serangan dari Pasukan TRI.

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di PalembangPada pertempuran hari kedua, konsentrasi pasukan terutama diarahkan terhadap pasukan dan pertahan Belanda di RS Charitas. Namun, Belanda berhasil menerobos lini Talang Betutu setelah terlebih dahulu berhadapan dengan Lettu Wahid Uddin bersama Kapten Anima Achyat. Belanda telah memperkuat tempat-tempat yang telah mereka kuasai, terutama di depan Masjid Agung. Sementara itu, kapal-kapal perang (korvet) Belanda mulai hilir mudik di Sungai Musi sambil menembakan peluru mortirnya kesegala arah. Secara spontanitas, rakyat dan pemuda di dalam kota dan luar kota turut serta bertempur melawan Belanda. Mobilisasi umum di kalangan masyarakat agraris-tradisional terus berlangsung untuk menghadapi Belanda. Melihat kemajuan-kemajuan dipihak kita, Belanda pun segera mengadakan pengintaian, bahkan melakukan tembakan dari udara terhadap kereta api yang membawa bahan makanan, bantuan dari Baturaja, Lubuk Linggau, dan Lahat. Rakyat yang berada di Front Seberang Ilir menjadi sangat menderita karena keterbatasan kesediaan pangan akibat Sungai Musi dikuasai Belanda dan penembakan kereta api.

    Oleh karena lokasi Markas Besar Staf Komando Divisi II tidak lagi aman, maka dipindahkan dari Sungai Jeruju ke daerah Kenten, tepatnya di Jalan Duku. Hal ini disebabkan karena Belanda terus-menerus melakukan pengintaian dan pengeboman terhadap markas-markas Pasukan TRI/Lasykar. Keberhasilan pengeboman jarak jauh yang dilakukan Belanda tidak terlepas dari peranan para pengintai atau mata-mata.

    Ternyata dalam pemeriksaan dan interogerasi yang dilaksanakan, memberi banyak petunjuk bahwa pihak Belanda secara licik menggunakan warga kota keturunan Tionghoa sebagai informan mereka, disamping sebagai pelayan kegiatan ekonomi bagi kepentingan Belanda. Kapten Alamsyah Ratu Perwiranegara menilai bahwa kasus mata-mata ini sangat sensitif, ia segera memerintahkan Letnan Dua Asmuni Nas untuk merazia dan menyita semua telepon yang digunakan oleh keturunan Tionghoa di sepanjang Pasar 16 Ilir.

    Pertempuran hari ketiga berlangsung pada hari Jum'at, tanggal 3 Januari 1947. Saat itu, Kolonel Mollinger memerintahkan angkatan perangnya (Darat, Laut, dan Udara) untuk menghancurkan semua garis pertahanan Pasukan TRI/Lasykar. Ini menunjukan terjadinya konsep perang tiga matra yang dilakukan Belanda di Palembang.

    Berdasarkan perintah tersebut, maka konvoi kendaraan berlapis baja keluar dari Benteng menuju RS Charitas menerobos Jalan Tengkuruk, melepaskan tembakan di sekitar Masjid Agung dan Markas BPRI. Gerakan penerobosan Belanda ke Charitas itu dihambat oleh pasukan kita yang berada di Pasar Cinde dengan ranjau-ranjau, manun gagal karena ranjau-ranjau tersebut gagal meledak. Akibatnya Pasar Lingkis (Cinde) dapat dikuasai oleh musuh. Tapi, sore harinya pasar itu dapat dikuasai kembali oleh pasukan kita (Resimen XVII). Senjata dan amunisi yang dimiliki pasukan RI jumlahnya terbatas, dan sebagian besar senjata yang digunakan oleh pasukan kita banyak yang telah tua (out of date) sebagai hasil rampasan dari serdadu Jepang (Abdullah, 1996: 43). Sampai hari ketiga, keadaaan Palembang sebenarnya sudah parah. Hampir seperlima kota telah hancur terkena serangan bom dan peluru mortir Belanda.

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di PalembangUpaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang

    SUMBER PHOTO : palembangtempodulu.multiply.com

    Kehancuran Kota Palembang karena bom-bom Belanda tersebut ditambah lagi dengan adanya aksi bumi hangus, seperti jembatan kayu di 24 Ilir, atas perintah Kepala Pertahanan Divisi II, Kapten Alamsyah. Pembongkaran ini dimaksudkan agar jembatan tidak digunakan oleh Belanda untuk menerobos dari arah Bukit Kecil menuju Charitas. Bahka, perintah yang benar-benar ditakuti Belanda adalah "aksi bumi hangus Plaju dan Sungai Gerong."

    Pada pertempuran hari keempat (4 Januari 1947), Belanda menfokuskan pertahanan di Plaju. Sehingga pasukan Mayor Dani Effendi berhasil memanfaatkan situasi tersebut untuk menguasai Charitas dan sekitarnya. Akibatnya pasukan Belanda mulai terdesak. Pasukan TRI berhasil mendekati gudang amunisi di RS Charitas dan menembak serdadu Belanda yang berusaha mendekati gudang tersebut.

    Pada 5 Januari 1947, pihak Belanda dapat menguasai beberapa tempat dengan bantuan kapal-kapal perang yang hilir mudik di Sungai Musi dan pesawat terbang yang menjatuhkan bom-bom ke arah posisi Pasukan TRI. Namun demikian pasukan Belanda mengalami hal yang sama dengan Pasukan TRI yaitu letih, kurang tidur dan merasa stress, sedangkan Pasukan TRI telah banyak menderita kerugian baik dari materi ataupun yang gugur dan luka-luka

    2. Front Seberang Ilir Barat


    Front Seberang Ilir Barat meliputi kawasan mulai dari 36 Ilir yaitu meliputi Tangga Buntung - Talang - Bukit Besar - Talang Semut - Talang Kerangga - Emma Laan - Sungai Tawar - Sekanak - Benteng.

    Markas Batalyon 32 Resimen XV Divisi II dipimpin Makmun Murod yang berda di Front Seberang Ilir Barat, yaitu di Sekanak. Komandan Resimen XV dan Komandan Batalyon 32/XV beserta para perwira yang berada di markas, sibuk mengatur pertahanan dan merencanakan untuk menyerang benteng-benteng pertahanan Belanda. Suara tembakan yang saling bersahutan sudah semakin gencar diselingi oleh dentuman senjata-senjata berat yang ditembakan dari pos-pos dan gedung-gedung pertahanan Belanda ke arah kubu pertahana Pasukan TRI dan barisan pertahanan rakyat.

    Pada pertempuran yang terjadi pada tanggal 1 Januari 1947, pasukan-pasukan disekitar belakang Benteng mulai terdesak lalu mengundurkaan diri ke sekitar Jalan Kelurahan Madu dan Jalan Kebon Duku. TRI/Lasykar yang berlokasi di Bukit terpaksa mengubah taktik yaitu memencarkan diri masuk ke kampung-kampung di sekitar Bukit Siguntang dan sekitarnya. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah pasukan Belanda yang akan menerobos ke 35 Ilir. Karena apabila pasukan Belanda yang akan beroperasi di 36 Ilir, Suro, 29 Ilir dan Sekanak akan terkepung. Usaha pasukan TRI dibawah pimpinan Mayor Surbi Bustam dilakukan untuk menyerang Gedung BPM Handelszaken. Serangan ini dibantu oleh Kapten Makmun Murod, Letnan Satu Asnawi Mangkualam dan Kapten Riyacudu. Dalam pertempuran tersebut, seorang prajurit yang diketahui pemuda keturunan Tionghoa, Sing, tertembak dan gugur. Belanda dengan menggunakan kendaraan berlapis baja dan persenjataan modern berhasil menguasai Kantor Pos, Kantor Telegraf, Kantor Residen, Kantor Walikota dan di sekitar Jalan Guru-guru di 19 Ilir.

    Secara keseluruhan, pertempuran pada hari pertama tersebut, inisiatif sepenuhnya berada di tangan Pasukan TRI dan pejuang. Belanda dengan segala kemampuannya berusaha mempertahankan pos-pos pertahanan dan kedudukannya sambil terus malancarkan tembakan-tembakan ke arah pasukan yang menyerang. Pasukan Belanda boleh dikatakan tidak berani keluar dari kubu pertahannya, terutama yang berkududkan di Seberang Ilir, karena gencarnya serangan Pasukan TRI dan Lasykar. Pasukan Belanda hanya membalas tembakan dari tempat perlindungan, dengan memuntahkan peluru mortir dan dengan tembakan howitzer untuk sasaran jarak jauh.

    Belanda menerapkan sistem pertahanan saling dukung antar pos-pos mereka. Jika satu tempat pertahanan terkepung oleh Pasukan TRI, maka dalam waktu singkat mendapat bantuan dari kubu pertahanan Belanda lainnya. Bantuan sering berupa tembakan, mortir atau howitzer atau dukungan tembakan dari kapal perang De Ruiter. Kapal perang Belanda memang hilir mudik di Sungai Musi, khususnya jenis korvet.

    Pada pertempuran hari kedua, Belanda menembakan mortirnya dengan membabibuta ke arah Sekanak sampai ke Tangga Buntung. Tujuan utama adalah menembaki markas batalyon dan pos-pos pertahanan TRI dan rakyat yang terdapat antara Sekanak sampai Tangga Buntung. Tidak dapat dihindari lagi peluru tersebut telah mengenai daerah pemukiman penduduk. Gencarnya tembakan yang dilakukan Belanda dari benteng pertahanan dan dan pesawat udara pada 2 Januari 1947 menyebabkan Staf Komando Batalyon 32/XV oleh Mayor Zurbi Bustam bersama Kapten Makmun Murod dipindahkan ke Talang. Daerah Suro dan Talang Kerangga pada saat itu tidak luput dari serangan musuh.

    Dengan dorongan semangat dan do'a, Pasukan TRI tetap berusaha untuk mempertahankan diri. Penambahan pasukan terjadi melalui Batalyon Ismail Husin dari Lampung yang berhasil menyeberang melalui Tangga Buntung. Rakyat atau penduduk sipil pun ikut serta memberikan bantuan tenaga. Keterbatasan senjata tidak membuat pasukan kita menyerah. "molotov" adalah bensin yang dimasukan ke dalam botol dicampur dengan karet untuk kemudian diberi sumbu memjadi alat yang sangat efisien. Kapten Alamsyah memerintahkan Sersan Mayor M. Amin Suhud untuk mencuri persediaan bensin Belanda yang akan digunakan untuk membuat bom molotov. Sersan Mayor M. Amin Suhud mendapatkan bensin. Kesulitan bahan makanan dialami oleh Front Seberang Ilir Barat karena blokade yang dilakukan oleh Belanda. Dalam kondisi demikian, bantuan bahan makanan dari dapur umum di garis belakang yang dikirim ibu-ibu dan remaja puteri sangat berarti. Begitu pula peran anggota Palang Merah Indonesia (PMI) dan PPI (Pemuda Puteri Indonesia) yang mengurus korban pertempuran dan mengurus bahan makanan.

    Pada hari ketiga, pertempuran tiga matra yang dilakukan oleh Belanda semakin aktif, setelah dikeluarkan perintah oleh Kolonel Mollinger untuk menghancurkan garis pertahanan RI di Emma Laan (Jalan Kartini) dan Sekolah MULO Talang Semut. Pasukan TRI yang dibawah pimpinan Letda Ali Usman berhasil menghancuran sekitar 3 regu Pasukan Belanda yaitu Pasukan Gajah Merah (Perwiranegara, 1987: 75). Belanda tidak tinggal diam, segera membalas serangan di Emma Laan. Sehingga pada pertempuran hari keempat, Sabtu tanggal 4 Januari 1947, Pasukan TRI/Lasykar terdesak sehingga mundur ke arah Kebon Gede,Talang dan Tangga Buntung.

    Sebagai resiko perjuangan dari bangsa yang baru merdeka, maka setiap gerakan pasukan musuh berakibat pada pemindahan dislokasi pasukan. Walaupun situasi pertempuran selalu dilaporkan kepada komando pertempuran. Namun laporan tersebut mengalami keterlambatan akibat sulitnya hubungan komunikasi.

    Pada hari kelima pertempuran di Front Seberang Ilir Barat terus berlangsung, walaupun Pasukan TRI/Lasykar dan rakyat mulai menampakkan keletihan dan pengiriman makanan dari dapur umum mulai tidak teratur lagi akibat blokade Belanda. Sebenarnya blokade ini juga berdampak pada pihak Belanda juga karena bahan makanan dari luar kota sulit masuk ke Kota Palembang.

    3. Front Seberang Ulu


    Front Seberang Ulu meliputi kawasan mulai dari 1 Ulu Kertapati sampai Bagus Kuning, selanjutnya meliputi kawasan Plaju - Kayu Agung - Sungai Gerong. Untuk tanggung jawab pertahanan dan keamanan di daerah Palembang Ulu dibebankan kepada Batalyon 34 Resimen XV dengan Komandan Batalyon Kapten Raden Mas yang bermarkas si sekolah Cina 7 Ulu (sekarang SHD), yang melakukan perlawanan di Kertapati sampai Plaju.

    Pada awal pertempuran tanggal 1 Januari 1947, tembakan mortir dari pasukan Belanda yang dberada di Bagus Kuning, Plaju dan Sungai Gerongterus ditujukan ke markas batalyon yang dipimpin Kapten Raden Mas. Namun demikian, kapal perang Belanda yang berada di Boom Plaju atau Sungai Gerong belum dapat bergerak leluasa, karena dihambat oleh pasukan ALRI di Boom Baru.

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang
    SUMBER PHOTO : palembangtempodulu.multiply.com

    Lokasi di perairan Sungai Musi sebelum pertempuran merupakan salah satu tempat berlangsungnya aktivitas perekonomian. Namun ini berbeda pada hari pertama pertempuran. Motorboat milik Belanda melaju dari arah Plaju menuju Boom Yetty yang diduga membawa bahan persenjataan pasukan Belanda, Pasukan TRI berusaha menyerang namun tidak berhasil.

    Kompi I yang berkedudukan di Jalan Bakaran Plaju, dipimpin Lettu Abdullah di Jalan Kayu Agung dan Sungai Bakung diberi tugas untuk menghadapi Belanda. Begitu juga Kompi II yang dipimpin Letda Sumaji bertugas menghadapi Belanda di Bagus Kuning dan Sriguna, sedangkan Kompi II dibawah pimpinan Letda Z. Anwar Lizano bertugas menghadapi Belanda di pinggir Sungai Musi yang letaknya sejajar dengan Boom Yetty sampai Pasar 16 Ilir. Pertempuran yang telah terjadi menimbulkan semangat patriotisme di kalangan pasukan TRI. Bantuan pasukan segara menuju Palembang. Letkol Harun Sohar telah melepaskan pemberangkatan pasukan menuju Kertapati dan Lahat dengan menggunakan kereta api.

    Kelelahan pasukan Belanda dimanfaatkan oleh Letnan Dua S. Sumaji yang merencanakan serbuan dini hari, pada tanggal 2 Januari 1947. Pasukannya dibantu dari Lasykar Pesindo, Napindo dan Hizbullah. penyerbuan tersebut membuahkan hasil. Pasukan TRI/Lasykar dapat menguasai gudang-gudang persenjataan musuh, sedangkan pasukan Belanda mengundurkan diri ke kapal-kapal perang mereka. Bendera Belanda si tiga warna yang terpancang di depan asrama telah diturunkan, kemudian dirobek warna birunya dan dinaikkan kembali dengan keadaan si Dwiwarna, Sang Saka Merah Putih. Namun kemenangan ini tidak berlangsung lama pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan-tembakan mortir ke arah kedudukan Pasukan TRI/Lasykar.

    Setelah Komandan Mollinger mengeluarkan perintah kepada seluruh unsur kekuatan darat, laut dan udara. Belanda untuk meningkatkan gempuran dan berusaha menerobos setiap garis pertahanan TRI dan badan-badan perjuangan rakyat. Pewasat-pesawat terbang dan kapal-kapal perang Belanda semakin menggiatkan aksinya, terutama di daerah-daerah yang menjadi tempat bertahan pasukan-pasukan TRI yang berada di Seberang Ulu dan Ilir. Kapal perang jenis korvet menembakan mesin kesepanjang Sungai Musi terutama di pos-pos pertahanan RI, terutama yang berlokasi di sekitar 7 Ulu.

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang
    SUMBER PHOTO : palembangtempodulu.multiply.com

    Akibatnya Pasukan TRI dan Lasykar terpaksa membalas dengan menggunakan senjata bekas persenjataan Jepang, yaitu meriam pantai milik kompi III Batalyon 34 di 7 Ulu di tepi Sungai Musi. Dengan menggunakan senjata seperti itu, pasukan Hizbullah dibawah pimpinan Letkol (Lasykar) M. Ali Thoyib berhasil menembak sebuah motorboat Belanda yang sedang mengangkat amunisi milik Belanda dari Plaju menuju ke Benteng. Serangan terhadap motorboat Belanda mengakibatkan kemarahan pasukan Belanda. Mereka membalas dengan mengirim pesawat Mustang dan secara terus-menerus menhujani basis pasukan di 7 Ulu dengan tembakan bertubi-tubi selama dua jam. Hal ini menimbulkan korban yang besar di kalangan Pasukan TRI/Lasykar dan rakyat. Bantuan terhadap pasukan Front Seberang Ulu datang dari Lahat dan Baturaja dikirim ke Bagus Kuning.

    Pada tanggal 4 Januari 1947 di Front Seberang Ulu pasukan Belanda semakin memperhebat tekannya terhadap pasukan RI sehingga pasukan TRI yang berada di Bagus Kuning mengundurkan diri ke 16 Ulu. Kapal-kapal perang Belanda melakukan patroli mulai dari perairan Sungai Gerong di bagian Hilir sampai ke perairan Kertapati, Keramasan di bagian Hulu. Pada hari kelima, tanggal 5 Januari 1947, pasukan kita dalam keadaan lelah, sekalipun hal itu tidak mengendorkan semangat perjuangan.

    Upaya Perundingan dan Pengakhiran Pertempuran
    Sejak tanggal 4 Januari 1947 di Kota Palembang telah menerima kedatangan Kapten A.M. Thalib, utusan Panglima Divisi II Bambang Utoyo, yang mengabarkan tentang keinginan Mollinger untuk berunding. Ternyata Gubernur Muda telah menerima berita dari Jakarta lewat telegram yang diterima oleh pemancar darurat dibawah pimpinan Herry Salim, bahwa akan datang ke Palembang secepatnya Dokter Adnan Kapau Gani sebagai utusan pemerintah pusat untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan pihak Belanda.

    Perundingan ini dilakukan oleh pihak RI dikarenakan ada kepentingan strategis dengan alasan:
  • pertama, mencegah korban lebih banyak

  • kedua, kita perlu mengadakan konsolidasi kekuatan kembali

  • ketiga, dari segi politis akan memberikan gambaran kepada dunia internasional bahwa RI cinta perdamaian, sekaligus menegaskan bahwa pemerintah pusatnya dipatuhi oleh daerah-daerahnya.

    Perhitungan yang melandasi berunding dari pihak RI adalah berdasarkan:
  • Pertama, perjuangan kemerdekaan akan memakan waktu cukup lama, mungkin bertahun-tahun.

  • Kedua, hampir 60% pasukan RI di Sumatera Selatan berada di Kota Palembang, bila sampai bertempur habis-habisan akan memperlemah kekuatan pada masa selanjutnya.


  • Setelah itu, ditetapkan tiga orang delegasi yang melakukan pejajakan perundingan. Mereka adalah dr. M. Isa, Gubernur Muda yang mewakili Pemerintah Sipil; Mayor M. Rasyad Nawawi, Kepala Staf Divisi Garuda II yang mewakili pasukan-pasukan dari Komando Pertempuran dan Komisaris Besar Polisi, Mursoda, yang mewakili Kepolisian (Perikesit, 1995: 69)

    Perundingan antara RI - Belanda dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 1947, di Rumah Sakit Charitas. Formasi delegasi pun ditambah dengan Kolonel Bambang Utoyo, Komandan Divisi Garuda II, yang ditunjuk sebagai Ketua dan Mayor Laut A.R. Saroingsong. Pertemuan dengan pihak Belanda sebenarnya telah mereka nanti-nantikan, sebab posisi Belanda benar-benar terjepit dan belum bisa mengadakan link up. Mereka masih terkurung dalam kubu per kubu yang terpisah satu sama lainnya.

    Dalam perundingan tersebut pihak Belanda menuntut Kota Palembang dikosongkan dari seluruh pasukan TRI. Namun hal itu ditolak oleh delegasi RI. Pihak RI bersedia menarik TRI dan Lasykar dari kota, tapi ALRI, Kepolisian dan Pemerintahan Sipil tetap berada di dalam kota. Dengan alasan bahwa ALRI tidak mempunyai hubungan dengan Angkatan Darat. Adapun maksud tersembunyi adalah Pasukan ALRI yang tinggal di Kota Palembang akan menjadi penghubung dan mata-mata, disamping Polisi dan Pemerintahan Sipil, guna mengawasi kegiatan Belanda.

    Upaya Menghadapi Serangan Belanda Pada Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang
    SUMBER PHOTO : palembangtempodulu.multiply.com

    Akhirnya Pertempuran Lima Hari Lima Malam diakhiri dengan gencatan senjata (cease fire) antara kedua belah pihak, dimana TRI/Lasykar harus kelur dari Kota Palembang sejauh 20 Kilometer kecuali Pemerintah Sipil RI dan ALRI masih tetap berada di dalam kota. Sedangkan pos-pos Belanda hanya boleh sejauh 14 Km dari pusat kota. Jalan raya di dalam kota dijaga pasukan Belanda dengan rentang wilayah 3 Km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.

    Kesimpulan


    Pertempuran Lima Hari Lima Malam merupakan upaya yang dilakukan Pasukan TRI, Lasykar dan Rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan di Kota Palembang. Dalam pertempuran itu, pihak lawan menguasai udara dan perairan (air and sea superioritary). Karena superioritas itulah mereka dapat bertahan dan disinilah pula terletak kelemahan kita serta tidak mempunyai perhubungan yang modern.

    Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan pertempuran tiga matra dan perang terbesar dan terlengkap yang pertama kali kita alami. Namun pihak kita hingga akhir pertempuran masih dapat bertahan berkat semangat pengorbanan jiwa, jihad dan patriotisme yang besar dari para pejuang dan rakyat.

    Boom-Baroe-Palembang-Kota-Baroe-legt-aan-mrt-47er-werd-gebedeld
    maar-het-leven-hernam-zijn-gewone-gangMen-had-honger-
    palembansumatra-palembang-verwoestingen-januari-1947

    Ziekenwagen

    SUMBER PHOTO : palembangtempodulu.multiply.com



    By: Sri Purwanti
    dodinp.multiply.com

    Sunday, 18 November 2012

    Lebih Tua Dari Ampera

    Lebih Tua Dari Ampera

    Keunikan Jembatan Ogan Kertapati Lebih Kokoh Dibanding Musi II
    Dibangun tahun 1939 lalu, jembatan Ogan Kertapati dinamakan dengan nama Ratu Belanda, Wilhelmina. Kala itu, jembatan tersebut termasuk bangunan fenomenal di Sumsel. Seiring perkembangan zaman, jembatan ini kurang mendapat perhatian masyarakat meski umurnya lebih tua dibanding ikon Palembang, Jembatan Ampera. Padahal, sebagai bagian dari sejarah panjang Palembang, seorang sesepuh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumsel menilai, jembatan ini lebih kokoh dibanding Jembatan Musi II.

    Catatan sejarah jembatan Ogan di Kertapati ibarat misteri. Banyak memperkirakan, catatan dibangun penjajah itu, dibawa sang penjajah ke negerinya, Belanda. Para pelaku sejarah pun banyak sudah meninggal.

    Ada juga orang-orang tua asli Palembang, berumur 70 tahun keatas tak mengetahui kapan dibangunnya jembatan tersebut. Ketika koran ini menyambangi kawasan jembatan, beberapa orang tua yang sudah berumur 70 tahun keatas mengaku ketika mereka kecil menginjak umur 10 tahun, jembatan tersebut telah terbangun.

    Keterangan didapat koran ini dari masyarakat sekitar jika jembatan tersebut merupakan kawasan vital, tempat lewatnya tentara serta kendaraan perang ketika terjadinya pertempuran. Mulai dari pertempuran Belanda melawan Jepang hingga perang lima hari lima malam.

    Bahkan, saat Jepang masuk, Belanda dikabarkan menghancurkan jembatan untuk menghambat pergerakan tentara Jepang. Sempat menggunakan kayu sebagai penyangga, tahun 1956, jembatan tersebut akhirnya kembali dipugar.

    Dibangun Dari Pajak Petani Karet
    Dari Badan Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Kota Palembang, catatan terkait jembatan Ogan Kertapati hanya didapati koran ini dari sebuah buku. Berjudul “Palembang Zaman Bari” karangan sejarawan serta budayawan, almarhum Djohan Hanafiah.

    Data diuraikan pun tak begitu banyak. Hanya dikatakan jika jembatan tersebut dibangun tahun 1939 lalu dan diresmikan dengan nama Wilhelmina Brug (Jembatan Wilhelmina, Red). Pembangunan jembatan dikatakan berasal dari sumbangan dari para petani-petani karet. Dimana setiap kati getah karet dikenakan satu sen.

    Meski ada beberapa masyarakat mengungkapkan jika pembangunan menggunakan tenaga romusha, sesepuh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang Sumsel, Ir H Anwar Arifai membenarkan jika dana pembangunan jembatan berasal dari sumbangan petani karet di Sumsel. “Bukan sumbangan sih, tapi semacam pajak. Dipilih petani karet karena karet pada masa itu dan sampai sekarang memang tingkat ekonominya bagus,” ungkap Anwar.

    Anwar yang lahir tahun 1935 lalu saja, dan asli kelahiran Palembang tak mengingat kapan jembatan tersebut dibangun. Seingatnya sejak kecil, jembatan itu sudah ada. Jembatan itu pun termasuk bangunan fenomenal pada masanya. Termasuk jembatan terbesar di Sumsel, sebelum dibangunnya jembatan Ampera tahun 1965 lalu.

    Secara stuktur, Anwar Arifai menilai jika jembatan Ogan Kertapati termasuk kokoh. Blak-blakan, ia mengatakan jembatan dibangun Belanda tersebut lebih kuat dibanding Jembatan Musi II yang umurnya lebih muda karena dibangun tahun 1992.

    Alasannya, dengan stuktur beton bertulang, bentang jembatan lebih pendek serta tidak begitu beratnya beban diatas, jembatan Ogan diperkirakannya akan lebih bertahan lama. Bisa jadi. Karena saat ini, hanya kendaraan beban tak begitu berat dapat melintas di jembatan Ogan.

    Saat inipun, jalurnya hanya diarahkan satu arah. Dari Simpang Jakabaring menuju Terminal Karya Jaya. Truk hingga tronton dengan beban berat diwajibkan melintas melalui jembatan Musi II yang kini dilewati kendaraan dua arah.

    Terbantu Jembatan Ogan II
    Penilaian Anwar Arifai tak sepenuhnya mendapat dukungan. Pejabat Pembuat Komitmen dari Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Metropolis, Azwar Edie mengakui jika jembatan Ogan yang panjangnya 205,2 meter, lebar enam meter dengan enam bentang termasuk kokoh. Karena umumnya jembatan dibangun paling tidak untuk bertahan selama 50 tahun kedepan. Sedangkan jembatan Ogan umurnya sudah mencapai 71 tahun.

    Hanya saja, jika dikatakan lebih kokoh dari jembatan Musi II, Azwar tampaknya kurang sreg. Alasannya, kokohnya jembatan Ogan karena hingga kini bebannya dibantu oleh jembatan disebelahnya, disebut dengan nama Jembatan Ogan II, dibangun tahun 1994 lalu dengan kontruksi baja Australia. Dengan panjang 231,6 meter, lebar tujuh meter dengan lima bentang, jembatan Ogan II menahan beban kendaraan melaju dari arah terminal Karya Jaya menuju simpang Jakabaring.

    Berbeda dengan jembatan Musi II yang panjangnya 534,6 meter dengan lebar tujuh meter. Jembatan dibangun tahun 1992 dengan kontruksi baja Australia ini harus menahan beban dari dua arah sekaligus.

    “Yang lewat di Musi dua saja kendaraan berat. Dan dua arah sekaligus. Seharusnya Musi dua ini sudah dibangun jembatan pendamping seperti Ogan dua biar lebih bertahan lama,” tandas Azwar.

    Tinggal Masalah Perawatan
    Kokohnya jembatan Ogan juga ditegaskan Kasatker Pelaksanaan Pembangunan Jalan Metropolitan Palembang, Ir H Aidil Fiqri MT. Dalam pandangannya jembatan tersebut bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Apalagi, jembatan ini sudah dibantu dengan hadirnya jembatan Ogan II dibangun tahun 1992 lalu. Membuat beban terhadap kendaraan tidak terlalu berat.

    Yang masih dibutuhkan tinggal perawatan. Baru-baru ini, dikatakan Aidil pihaknya melakukan penggerukan aspal. Pasalnya, aspa diatas jembatan pernah mencapai 20 cm. Sehingga, kendaraan besar seperti truk pernah masuk hingga trotoar jalan.

    “Aspal diatas jembatan itu tidak boleh tebal. Kalau tebal, nanti kendaraan, terutama truk naik ke trotoar. Sedangkan trotoar jembatan itu tidak boleh dinaiki mobil apalagi truk. Bebannya tidak seimbang dan bisa merusak jembatan. Jadi aspal mesti tipis sekitar lima centimeter. Kalau sekedar motor naik ke trotoar seperti di Ampera tidak masalah,” tegasnya.

    Selain masalah aspal dan trotoar, pihaknya terus memantau jika terjadinya penggeroposan tiang beton penyangga jembatan. Arus air sungai dapat membuat keropos tulang beton serta karat pada besi. “Masalah ini akan terus kita awasi dan kita perbaiki. Agar jembatan bisa bertahan lama,” tandasnya.

    Mirip Dengan Jembatan Ogan di Baturaja
    Di Baturaja ada juga jembatan tua namun kokoh yang menjadi jalur lalu lintas melewati Sungai Ogan I, namanya juga sama yakni Jembatan Ogan. Meskipun usianya sudah 62 tahun,namun jembatan Ogan I,yang menghubungkan pusat kota Baturaja dengan area pasar atas, kondisinya kokoh.

    "Keberadaan jembatan yang berbentuk lengkung yang telah beberapa kali dicat dan berubah warna pink ini, menjadi salah satu ciri khas dan land mark Kota Baturaja dan Kabupaten OKU," jelas Muzaim Aliansya ST Msi, Kabid Pemeliharaan jalan Jembatan PU Bina Marga OKU.

    Diceritakan Muzaim, sejak berdiri dan dibangun jembatan Ogan I pada tahun 1948 lalu oleh Belanda, jembatan ini memang sempat mendapatkan perawatan khusus dari Dinas PU Bina Marga Kabupaten OKU. Pada tahun 2001 lalu bagian lantai jembatan ada yang jebol,yaitu tepatnya bagian join antara jembatan. Kerusakan tersebut sudah diperbaiki dengan dicor kembali,selain itu aspal permukaan jembatan ini juga pernah di angkat dan diganti dengan material baru. Pada saat itu material aspal lama gunakan ATB (Asphalt Trade Base) diganti dengan aspal ACBC, aspal konkrit untuk perata permukaan.

    Keunikan yang terlihat pada jembatan Ogan I yang berbentuk melengkung setengah lingkaran ini,sebetulnya menunjukkan bahwa pada masa itu seni arsitektur mengedepankan nilai estetika yang juga tidak mengeyampingkan nilai kekuatanya.

    Model jembatan ini yang bentuknya serupa menurut Muzaim, yakni Jembatan setengah lingkar dapat ditemukan juga di Kota Martapura Kabupaten OKU Timur, Jembatan Gunung Batu Kabupaten OKUT, di Kabupaten Musi Banyuasi, serta Jembatan Ogan Kertapati Palembang. (wwn/bn)

    Written by: Samuji, Selasa, 27 Desember 2011, Sumeks Minggu

    Saturday, 6 October 2012

    Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)



    Di antara prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya, prasasti Kedukan Bukit paling menarik diperbincangkan. Di samping banyak mengandung kata yang tidak mudah ditafsirkan, prasasti tersebut oleh beberapa sarjana dianggap mengandung kunci pemecahan masalah lokasi ibukota kerajaan besar itu, yang mendominasi pelayaran dan perdagangan internasional selama empat abad. Dari segi ilmu bahasa, prasasti Kedukan Bukit merupakan pertulisan bahasa Melayu-Indonesia tertua yang pernah ditemukan sampai saat ini.

    Alkisah, di daerah Kedukan Bukit, Palembang, terdapat batu bertuliskan huruf kuno yang dikeramatkan penduduk. Jika diadakan perlombaan perahu bidar di Sungai Musi, perahu yang akan dipakai ditambatkan dulu pada batu itu dengan harapan memperoleh kemenangan.

    Pada bulan November 1920, Batenburg seorang kontrolir Belanda mengenali batu itu sebagai prasasti. penemuan itu dilaporkan pada Oudheidkundigen Dienst (Dinas Purbakala). Akhirnya, prasasti itu tersimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor D.146.

    Pada tahun itu juga, Residen palembang L.C. Westenenk menemukan prasasti lain di daerah Talang Tuo. Di Museum Pusat prasasti itu bernomor D.145. Kemudian kedua prasasti itu ditranskripsikan dan diterjemahkan oleh Philippus Samuel van Ronkel dalam tulisannya, "A Preliminary Notice Concerning Two Old Malay Inscriptions Palembang," pada majalah ilmiah Acta Orientalia, Volume II, 1924, hh. 12-21.

    Isi Prasasti
    Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 604 Saka (682 Masehi) dan merupakan prasasti berangka tahun yang tertua di Indonesia. Terdiri dari sepuluh baris, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, masing-masing baris berbunyi sebagai berikut:

    1. Swasti, sri. Sakawarsatita 604 Saka ekadasi su-

    2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di

    3. samwau mangalap. Di saptami suklapaksa

    4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga

    5. tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa

    6. dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu

    7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang

    sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada

    9. laghu mudita datang marwuat wanua....

    10. Sriwijaya jaya siddhayarta subhiksa

    Terjemahan dalam Indonesia modern:
    1. Bahagia, sukses, Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas

    2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di

    3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang

    4. bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga

    5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan

    6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu

    7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang

    8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada

    9. lega gembira datang membuat wanua....

    10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

    Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang. Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu bukanlah piknik, melainkan ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data:

    1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau kemana.

    2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang (sampai kini masih ada desa Upang di tepi Sungai Musi, sebelah timur Palembang).

    3. Dapunta Hyang membuat 'wanua' tanggal 5 Asada (16 Juni). (Penyesuaian tarikh Saka ke tarikh Masehi diambil dari Louis-Charles Damais, "Etude d'Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l'Indonesie," BEFEO, tome 46, 1952).

    Prasasti Kedukan Bukit hanya menyebutkan gelar Dapunta Hyang tanpa disertai nama raja tersebut. Dalam prasasti Talang Tuwo yang dipahat tahun 606 Saka (684 M) disebutkan bahwa raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembuatan Taman Sriksetra tanggal 2 Caitra 606 (23 Maret 684). Beasar kemungkinan dialah raja Sriwijaya yang dimaksudkan dalam prasasti Kedukan Bukit.

    Timbul setumpuk pertanyaan: Dimanakah letak Minanga? Benarkah Minanga merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya? Apakah arti kalimat 'marwuat wanua'? Benarkah kalimat itu menyatakan pembangunan sebuah kota seperti banyak ahli sejarah?

    Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. "This text has coused much ink to flow" kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of souttfeast Asia, University of Malay Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

    Beberapa Tafsiran
    Pada tahun 1975 Departeman P & K menerbitkan enam jilid buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai buku standar bagi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Jilid II membahas Zaman Kuno, disusun oleh Ayatrohaedi, Edi sedyawati, Edhie wuryantoro, Hasan Djafar, Oei Soan Nio, Soekarto K. Atmojo dan Suyatmi Satari, dengan editor Bambang Sumadio.

    Tafsiran mereka terhadap isi prasasti Kedukan Bukit sebagai berikut: Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwan, kemudian mendirikan kota yang diberi nama Sriwijaya. Mungkin sekali pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan itulah, daerah pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (Sejarah Nasional Indonesia, II, Balai Pustaka, Jakarta, 1977, h. 53).

    Dr. Buchari, ahli epigrafi terkemuka, dalam tulisannya "An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)," Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hh. 26-28, memberikan penafsiran yang berbeda: Pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minanga yang terletak di Batang Kuantan, di tepi Sungai Inderagiri, dengan alasan minanga = muara = kuala = kuantan. Lalu pada tahun 682 Dapunta Hyang menyerang Palembang dan membuat kota yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan yang baru.

    Jadi pada tahun 682 terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga ke Palembang. Dr Slamet Mulyana, ahli filologi ternama, dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hh. 73-74, berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dengan pembuatan kota Sriwijaya. Dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slamet Mulyana melokasikan Minanga di Binanga, yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.

    Lokasi Sriwijaya
    Pendata I-tsing (624-713), dalam pelayaran dari China ke India tahun 671, singgah di negeri Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya (tatabahasa Sansekerta), ketika pulang dari India tahun 685 I-tsing bertahun-tahun tinggal di Sriwijaya untuk menerjemahkan naskah-naskah Buddha dadi bahasa Sansekerta ke bahasa China. I-tsing kembali ke China dari Sriwijaya tahun 695. Selama di Sriwijaya dia menulis dua buah bukunya yang temasyhur, Nan-hai Chi-kuei Nei-fa (Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut Selatan) serta Ta-T'ang Hsi-yu Ch'iu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang).

    Kedua karya I-tsing masing-masing diterjemahkan oleh Junjiro Takakusu, A record of Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Achipelago AD 671-695, by I-tsing, Oxford, London, 1896, dan oleh Edouard Chavannes, Memoire compose a l'epoque de la grande dynastie Tang, sur les Religiuex Eminents qui allerent chercher la loi dans les pay d'Occident, par I-tsing, Ernest leroux, Paris, 1894.

    Cuplikan uraian I-tsing juga terdapat dalam karya Gabriel Ferrand, L'Empire Sumatranais de Crivijaya, Imprimerie Nationale, Paris 1922, Bab "Textes Chinois,serta karya Paul Wheatley, the Golden Khersonese, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1961, Bab "Towards the Holy Land." Kemudian Oliver W. Wolters dalam bukunya Early Indonesian Commerce, Cornell University Press, Ithaca, 1967, mengoreksi kekeliruan terjemahan Takakusu dan Chavannes.

    Dalam kedua karya itu I-tsing memberikan informasi berharga mengenai letak dan keadaan Sriwijaya. Oleh karena itu dia lama berdiam di Sriwijaya, sudah tentu keterangannya sangat dapat dipercaya. I-tsing menyaksikan keadaan Sriwijaya dengan mata kepalanya sendiri. Uraian-uraiannya merupakan sumber berita dari tangan pertama. Tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan pernyataan I-tsing itu.

    Kisah pelayaran I-tsing dari Kanton tahun 671 diceritakannya sendiri sebagai berikut: "Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan.... Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam utnuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri Melayu, di mana saya singgah selama dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah.... Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar).... Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan, lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India)." (Chavannes, h. 119; Ferrand, h. 4; Wheatley, hh. 41-42; Wolters, hh. 207-208).

    Perjalanan pulang dari India tahun 685 diceritakan I-tsing sebagai berikut: "Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke China. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya.... Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua.... Kami tinggalkan Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira sebulan, kami sampai di negeri Melayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Melayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan." (Takakusu, h. 34; Wheatley, hh. 41-41; Wolters, hh. 227-228).

    Dari uraian I-tsing jelas sekali bahwa Melayu terletak di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Jadi Sriwijaya terletak di selatan atau tenggara Melayu. Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa negeri Melayu berlokasi di Jambi, sebab pada alas arca Amonghapasa yang ditemukan di Jambi terdapat prasasti bertarikh 1208 Saka (1286 M) yang menyebutkan bahwa arca itu merupakan hadiah raja Kertanagara (Singhasari) kepada raja Melayu (Lihat: R. Pitono Hardjowardojo, Adityawarman, Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari abad XIV, Bhratara, Djakarta, 1966, hh. 36-38). I-tsing juga mengatakan bahwa Sriwijaya terletak di muara sungai yang besar (Chavannes, h. 176; Ferrand, h. 6; Wolters, h.226). Maka satu-satunya tempat yang memenuhi syarat sebagai lokasi negeri Sriwijaya adalah PALEMBANG.

    Ditinjau dari data arkeologi, pelokasian Sriwijaya di Palembang memperoleh pembuktian yang kuat. Sebagian besar prasasti Sriwijaya ditemukan di Palembang: Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Telaga Batu, lima buah pecahan prasasti, dan batu-batu mengenai siddhayatra'. Pada salah satu pecahan prasasti terdapat keterangan mengenai perdatuan (istana raja). Yang lebih meyakinkan, prasasti Telaga Batu menyebutkan berbagai pembesar tinngi yang hanya mungkin ada di ibukota atau pusat pemerintahan suatu kerajaan, seperti putra mahkota, selir raja, senopati, hakim, para menteri, sampai pembersih dan pelayan istana. Lihat: George Coedes, "Les Inscription Malaises de Crivijaya", BEFEO, tomr 30, 1930, hh. 29-80; Johanes Gijsbertus de Casparis, Prasasti Indonesia II, Dinas Purbakala Republik Indonesia, Masa Baru, Bandung, 1956, hh.1-46.

    Ir. J.L. Moens dalam karangannya "Crivijaya, Yava en Kataf," dalam TBG, deel 77, 1937, melokasikan Sriwijaya di Muara Takus yang terletak pada garis khatulistiwa, berdasarkan uraian I-tsing bahwa di Sriwijaya orang yang berdiri pada tengah hari tidak mempunyai bayang-bayang. Tetapi di Muara Takus tidak ada bukti arkeologis yang lebih kuat daripada di Palembang. Pernyataan I-tsing itu tidak harus berarti Sriwijaya pada lintang nol derajat, melainkan dapat ditafsirkan bahwa Sriwijaya terletak di sekitar khatulistiwa.

    Palembang pun memenuhi syarat, sebab terletak pada posisi tiga derajat lintang lintang selatan (masih dekat dengan khatulistiwa). Patut diingat I-tsing biasa hidup di negeri China di mana bayang-bayang tengah hari cukup panjang. Dapat dipahami jika dia mengatakan di Sriwijaya (Palembang) tidak ada bayang-bayang tengah hari. Bahwa negeri Sriwijaya tidak terletak pada garis khatulistiwa, melainkan di selatan khatulistiwa, terbukti dari keterangan Al-Biruni yang mengatakan bahwa garis khatulistiwa terletak antara Kedah dan Sriwijaya (Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi Persia, mengunjungi Asia Tenggara tahun 1030 dan menulis catatan perjalanan Tahqiq ma li l-Hind (Fakta-fakta di Hindia). Paul Wheatley, h. 219, menerjamahkan keterangan Al-Biruni: "The equator runs between Kedah and Srivijaya).

    Pada tahun 1854, atas perintah Menteri P & K Muhammad Yamin, Dinas Purbakala mengadakan penelitian geomorfologi pantai timur Sumatera. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa pada abad ketujuh Jambi dan Palembang masih terletak di tepi laut. Jambi mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam menguasai lalu lintas pelayaran. Kapal-kapal dari India, China, dan Jawa harus melewati Jambi, sedangkan Palembang hanya dilewati kapal-kapal yang berlayar antara Selat Malaka dan Jawa. Lagi pula, letak pelabuhan Jambi menghadap ke laut bebas, sedangkan pelabuhan Palembang hanya menghadap ke Selat Bangka.

    Berdasarkan hasil penelitian itu, Dr. Sukmono dalam tulisannya "Tentang Lokalisasi Crivijaya," Laporan kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama, Jilid V, Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, Djakarta, 1958, cenderung melokasikan Sriwijaya di Jambi. Kiranya pendapat Dr. Sukmono ini terlalu tergesa-gesa. Meskipun Jambi lebih stategis. Tidaklah berarti Sriwijaya harus di Jambi, sebab tidak ada sumber sejarah yang mengatakan letak Sriwijaya strategis. Kata I-tsing, yang selalu disinggahi kapal-kapal adalah Melayu bukan Sriwijaya. Jadi hasil penelitian geomorfologi itu justru membuktikan Jambi sebagai lokasi negeri Melayu!

    Sewaktu Kerajaan Sriwijaya baru berdiri pada pertengahan abad ketujuh, negeri itu hanya sering disinggahi pendeta-pendeta China untuk urusan keagamaan. Kata I-tsing, pendeta China yang ingin mempelajari ajaran Buddha di India sebaiknya berdiam dulu di Sriwijaya untuk berlatih (Takakusu, h. 34; Coedes, The Indianized States, h. 81). Ditinjau dari segi keagamaan Sriwijaya memang menonjol. Tetapi dari segi ekonomi dan perdagangan Sriwijaya tertinggal oleh Melayu dan Kedah yang letaknya strategis. Itulah sebabnya pada akhir abad ketujuh Sriwijaya melancarkan ekspansi teritorial untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis di Selat Malaka.

    Ketika I-tsing pulang dari India tahun 685, dia mengatakan bahwa Kedah dan Malayu sudah menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya. Jelaslah bahwa dominasi Kerajaan Sriwijaya atas Selat malaka bukanlah karena letak ibukotanya strategis, melainkan karena kerajaan itu mampu menguasai pelabuhan Malayu dan Kedah. Kesimpulannya, ditinjau dari segi manapun (data arkeologi, uraian I-tsing, penelitian geomorfologi), tidak ada tempat lain yang cocok sebagai lokasi negeri Sriwijaya selain Palembang. Seperti kata prof, Oliver W. Wolters, "Srivijaya had its capital at Palembang and nowhere else. In support of this location, there is an impressive consistency between the epigraphic evidence and I-tsing's records" (Wolters, h. 208. Kesimpulan yang sama dikemukakan oleh Coedes, 1968, h. 92).

    "Marwuat Wanua "
    Banyak ahli sejarah yang mengartikan ungkapan "marwuat wanua" pada prasasti Kedukan Bukit dengan "membuat kota," sehinnga timbul anggapan bahwa pada tahun 682 Dapunta Hyang datang ke Palembang untuk membuat kota Sriwijaya. Padahal pada tahun 671 I-tsing telah singgah di Sriwijaya. Menurut Hsin-T'ang-shu (Sejarah Baru Dinasti Tang), Kerajaan Sriwijaya telah mengirimkan utusan ke China pada periode 670-673. Lihat: Paul Pelliot, "Deux Itineraires de Chine en Inde a la Fin du VIIIe Siecle," BEFEO, tome 4, 1904, h. 334. Hal ini berarti bahwa peristiwa "marwuat wanua" tahun 682 itu bukanlah menyatakan pembentukan negeri Sriwijaya.

    Kata wanua memiliki arti ganda: kota (negeri) dan rumah (bangunan). Dalam beberapa bahasa daerah di Sumatera bagian Selatan, sampai sekarang kata wanua berarti "rumah," sering disingkat menjadi nua atau nuo. Prof. George Coedes, dalam karangannya Les Inscriptions malaises de Crivijaya tahun 1930, memberikan arti: wanua = pays, royaume, forteresse (kota, kerajaan, rumah pertahanan). Lihat Coedes, 1930, h. 77. ketika Van ronkel mula-mula menerjemahkan prasasti Kedukan Bukit, dia mengartikan wanua dengan fortress (rumah pertahanan). Lihat Van Ronkel, hh. 20-21. Jadi kata "marwuat wanua" dapat berarti "membuat kota atau "membuat rumah."

    jika kita artikan membuat kota, kita terbentur pada kenyataan bahwa kota Sriwijaya sudah ada pada pada tahun 671. Maka satu-satunya pilihan adalah mengartikannya membuat rumah. Pada pecahan prasasti nomor D.161 yang ditemukan di Palembang, yang isinya serupa dengan isi prasasti Kedukan Bukit, tertulis.... wihara ini, di wanua ini (J.G. de Casparis, 1956, hh. 14-15). Jelaslah bahwa wanua (rumah) yang dibuat Dapunta Hyang tahun 682 adalah sebuah wihara (rumah peribadatan).

    Persoalan Minanga
    Prasati kedukan Bukti mengatakan pada tanggal 7 Jesta 604 (19 Mei 682) Dapunta Hyang berangkat (marlapas) dari Minanga. Oleh karena dia meninggalkan Minanga dengan tentara yang bersukacuta, mudahlah disimpulkan bahwa Minanga merupakan daerah yang baru saja ditaklukan Sriwijaya. Mereka berangkat dari Minanga dengan sukacita--karena baru menang perang--untuk kembali ke ibukota di Palembang.

    Di manakah letak Minanga? Anggapan para penyusun Sejarah Nasional Indonesia Jilid III bahwa Minanga terletak di pertemuan Sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan bersumber pada pendapat prof. Dr. R.M.Ng. Purbatjaraka dalam Riwayat Indonesia, I, Jajasan Pembangunan, Djakarta, 1952, h. 35. Alasannya "tamwan" berasal dari kata "temu," lalu Purbatjaraka menafsirkannya "daerah tempat sungai bertemu." Mengapa harus di Kampar, Purbatjaraka tidak memberikan alasan. Pendapat ini dibantah dengan jitu oleh Prof. Dr. J.G. de Casparis yang membuktikan bahwa "tamwan" tidak ada hubungan dengan "temu," sebab kata yang terakhir ini sudah dipakai pada zaman Sriwijaya.

    Dalam prasasti Talang Tuwo terdapat enam buah kata temu" (J.G. de Casparis, 1956, h. 13). Penelitian para ahli bahasa mengatakan bahwa kata "tamwan" pada prasasti Kedukan Bukit bukanlah nama tempat, melainkan kata biasa yang sekarang menjadi "tambahan," sebagaimana kata wulan, seribu, wanyak dan marwuat menjadi bulan, seribu, banyak dan membuat. Pendapat Dr. Buchari yang menyatakan Minanga adalah Batang Kuantan (minanga = muara = kuala = kuantan) juga perlu diragukan. Kata "minanga" tidak ada hubungan dengan "muara," sebab kata "muara" juga sudah dipakai pada zaman Sriwijaya. Pada pecahan prasasti A baris ke-16 yang ditemukan di Palembang terdapat kata "muara.' Lihat: J.G. de Casparis, 1956, h. 5.

    Buchari sendiri mengakui bahwa di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis yang menunjang pendapatnya, dengan mengatakan (1979, h. 28), "Memang di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis. Tapi kan di sana belum diadakan penggalian? Siapa tahu nanti ada kejutan di sana.

    Untuk menetapkan daerah yang cocok bagi lokasi Minanga, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:

    (1). Daerah tersebut namanya mirip dengan Minanga.

    (2). Daerah itu menurut prasasti Kedukan Bukit berjarak kira-kira sebulan pelayaran dari Palembang.

    (3). Daerah itu lokasinya strategis mengingat ekspansi Sriwijaya bertujuan menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan.

    (4). Pada daerah itu terdapat peninggalan arkeologis yang membuktikan bahwa daerah itu pernah berperan dalam sejarah.

    Kiranya daerah yang cocok bagi pelokasian Minanga adalah Binanga yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur, seperti pendapat Dr. Slamet Mulyana. Daerah Binanga memenuhi persyaratan dari segala aspek:

    1. Pada abad ketujuh Binanga masih terletak di tepi laut

    2. Tempat itu ideal untuk mengawasi lalu lintas Selat Malaka.

    3. Tempat itu dapat digunakan batu loncatan oleh armada Sriwijaya untuk menyerang Semenanjung. Seperti dikatakan I-tsing, pada tahun 685 (tiga tahun setelah penaklukan Minanga, 682) Kedah sudah ditaklukan Sriwijaya.

    4. Di daerah Padang Lawas, dekat Binanga, sampai kini terdapat biaro (wihara) Bahal, Sitopayan dan Sipamatung. Ini berarti Binanga pernah berperan dalam sejarah.

    5. Perubahan nama Minanga menjadi Binanga sangat mungkin terjadi, sebab fonem m dan b sama-sama huruf bibir (bilabial). Kata mawa dan marlapas pada prasasti Kedukan Bukit kini berbah menjadi bawa dan berlepas (berangkat).

    Kesimpulan:
    Berdasarkan seluruh uraian di atas, isi prasasti Kedukan Bukit dapat ditafsir sebagai berikut:

    Pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682) raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu dari tempat untuk bergabung dengan tentaranya yang baru saja menaklukan Minanga (Binanga).

    Lalu pada tanggal 7 Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang memimpin laskarnya meninggalkan Minanga untuk pulang ke ibukota. Mereka bersukacita karena pulang dengan membawa kemenangan. Mereka mendarat di Muka Upang, sebelah timur Palembang, lalu menuju ibukota

    Kemudian pada tanggal 5 Asada (16 Juni) Dapunta Hyang menitahkan pembuatan sebuah wanua (bangunan) berupa wihara di ibukota sebagai manifestasi rasa syukur dan gembira. Boleh dipastikan bahwa pembuatan Taman Sriksetra pada tahun 606 Saka (684 Masehi), sebagaimana tercantum pada prasasti Talang Tuwo, masih merupakan rangkaian manifestasi rasa gembira akibat suksesnya siddhayatra (ekspedisi militer) dua tahun sebelumnya,

    Oleh karena itu isi prasasti Kedukan Bukit (jugaprasasti Talang Tuwo) menceritakan peristiwa penting dalam perkembangan Kerajaan Sriwijaya, sudah sewajarnya prasasti itu ditempatkan di ibukota kerajaan. dengan demikian, prasasti Kedukan Bukit memperkuat bukti bahwa pusat pemerintahan Sriwijaya berlokasi di Palembang.

    Ditulis oleh: Nia Kurnia Sholihat Irfan dalam http://irfananshory.blogspot.com

    Penulis adalah alumnus Jurusan Sejarah FKIS IKIP (sekarang FP-IPS UPI) Bandung tahun 1980 dengan artikel "Kerajaan Sriwijaya" yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Girimukti Pasaka, Jakarta, 1983.