Wednesday, 19 September 2012

Kabut, 12 Penerbangan Delay


Terganggu Kabut: Sejumlah maskaapai penerbangan, mengalami delay akibat pekatnya kabut asap, kemarin pagi. Jarak pandang ketika itu hanya 500 meter. Tampak penumpang Lion Air yang baru landing di Bandara SMB II

Jarak Pandang 500 Meter
PALEMBANG – Kabut asap yang menyelimuti Metropolis sejak pukul 05.00-08.00 WIB, kemarin (18/9), membuat jadwal penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, berantakan. Bahkan, sejumlah pesawat kedatangan maupun keberangkatan mengalami delay hampir dua jam.

Pesawat yang mengalami penundaan landing, yakni Garuda GA 110. Harusnya, pukul 06.55 WIB, namun baru landing 10.06 WIB atau delay 191 menit. Lalu, Lion JT 340 delay 144 menit. Jadwalnya pukul 08.00 WIB, tapi landing 10.24.

Berikut JT 330, jadwal pukul 10.05 WIB, landing 10.41. Delaynya, 36 menit, JT 1340 jadwal pukul 06.25 WIB, landing pukul 10.30 WIB atau delay selama 235 menit dan Sriwijaya Air SJ 082, jadwal landing pukul 07.50 WIB, landing pukul 09.09 atau 79 menit, SJ 881 jadwal 09.55 WIB, landing 11.32 WIB atau 97 menit.

Sementara itu, kedatangan untuk pesawat Garuda GA 113 yang harus-nya take off pukul 07.40 WIB menjadi 10.58 WIB atau delay 198 menit. GA 115 take off pukul 09.40 WIB berubah menjadi 10.21 atau delay selama 41 menit. Lion Air JT 341 jadwal take off pukul 08.35 WIB, namun delay 158 menit. JT 333, menurut jadwal take off 10.45 WIB menjadi 11.41 WIB atau delay 56 menit. Ada lagi, JT 1341 take off pukul 07.10 WIB, harus take of 11.24 WIB atau delay 254 menit. Pesawat Sriwijaya Air 880, jadwal take off pukul 08.05 WIB, namun molor 09.54 WIB atau delay selama 109 menit.

Agus Maulanana, Manajer Opersional PT. Angkasa Pura (PT.AP) menjelaskan, penundaan landing dari berbagai maskapai dengan tujuan Jakarta dan Pangkal Pinang, itu akibat jarak pandang penerbangan terganggu oleh kabut asap. Pukul 06.00 WIB hanya 500 meter dan normal kembali pukul 08.00 WIB.

Katanya, kondisi penerbangan diperparah karena kecepatan angin hanya 10 knot. Dampaknya, kabut asap tidak bergerak secara signifikan. “Saat landing jarak pandang hanya 500 meter. Padahal, untuk take off setidaknya harus 1000 meter.”

Bahkan, kata Agus, karena kabut asap salah satu pesawat Lion Air JT 340 harus melakukan penerbangan kembali (diverted). “Landing dan take off merupakan situasi yang sangat diperhatikan dalam setiap penerbangan,” jelasnya.

Sebaliknya, kata Agus, untuk penerbangan dari SMB (keberangkatan) sebenarnya tidak mengalami masalah dan masuk kategori normal. Pasalnya jarak pandang pukul 07.00 WIB merupakan penerbangan pesawat pertama, masuk kategori aman atau sekitar 800 meter. Namun memang terjadi penumpukan penumpang 3-4 pesawat di bording gate.

“Terjadi karena pesawat kedatangan dari Jakarta mengalami keterlambatan landing, sehingga penumpang yang akan naik (berangkat) tertunda,” bebernya lagi. Lanjutnya, sejauh ini tidak ada penumpang yang protes. “Kan keterlambatan lebih dari 4 jam itu akibat cuaca buruk. Bukan merupakan tanggung jawab kita dan maskapai. Lain cerita, kalau kesalahan teknis.”

Diakuinya, kondisi di bandara SMB II tidak separah di Jambi. Di sana, hingga pukul 10.00 WIB, belum ada pesawat take off maupun landing. “Kondisi di Palembang sedikit lebih baik,” bebernya.

Erni, salah seorang penumpang yang baru tiba dari Jakarta mengaku pesawat yang dinaikinya mengalami delay lebih kurang dua jam. Delay, kata Erni, diakibatkan buruknya jarak pandang pesawat, sehingga pesawat yang ditumpangi harus menunggu sampai kabut asap tidak lagi menutupi jarak pandang pesawat. "Ya, ngak apa-apa Dek, lebih baik delay dari pada mengambil risiko terbang yang mengancam keselamatan," ujar cewek berambut panjang yang juga pramugari salah satu maskapai penerbangan tersebut.

Terpisah, Mohamad Irdam, kepala Stasiun Klimatologi Kenten Palembang BMKG mengatakan jarak pandang hanya di bawah 500 meter. Sangat tidak memungkinkan untuk melakukan penerbangan. Normalnya, kata Irdam, jarak pandang untuk melakukan aktivitas udara 1500 meter.

Lanjutnya, kabut terjadi akibat banyaknya pembakaran lahan di metropolis. Nah, penerbangan akan dilaksanakan apabila matahari telah terbit dan angin membawa terbang asap.

Pantauan Sumatera Ekpres, situasi bandara SMB terlihat sangat ramai, baik di keberangkatan maupun kedatangan. Terjadi penumpukan penumpang di terminal pukul 07.00-11.00. Bahkan, sejumlah penumpang harus turun dan naik pesawat melalui lapangan dan tidak mengunakan belalai gajah. (cj4/ce3)

Sumatera Ekspres, Rabu, 19 September 2012

Wajah Palembang Square (PS) Mall



Tempo Doeloe, Dihiasi Taman Ria dan Taman Budaya, Masyarakat metropolis bisa saja dimanjakan dengan hadirnya pusat perbelanjaan terbesar, Palembang Square (PS) sejak tahun 2004 lalu. Di sisi lain,tak banyak mengingat wajah lama kawasan tersebut. Era tahun 70 hingga memasuki tahun 2000, kawasan tersebut merupakan kawasan taman serta pusat kesenian, tempat seniman nongkrong. Seperti apa wajah PS Tempoe Doeloe?

Sulit membayangkan kondisi PS zaman dulu. Apalagi jika dikatakan kawasan tersebut merupakan bekas sebuah taman, akrab disebut Taman Ria. Saat ini, samasekali tidak ada bekas sedikit pun menunjukan adanya taman tersebut.

Namun, bagi kalangan seniman seperti Tarech Rasyid, taman tersebut sangat diingatnya. Wajar saja, disebelah taman ria tersebut merupakan arena teater atau teater terbuka, tempat seniman seperti dirinya berkumpul.

Pria berambut ikal berumur 56 tahun ini menyebut, selain arena teater, di kompleks PS saat ini terdapat Taman Budaya. Ada juga gedung perpustakaan dua lantai, yang diatasnya digunakan sebagai tempat pameran. Sedangkan posisi Hotel Aryaduta berada dalam komplek PS, merupakan tanah kosong.

Hiburan Rakyat Kecil
Kepada Sumeks Minggu ditemui tiga hari lalu, dosen Fakultas Hukum Universitas IBA (UIBA) Palembang ini menceritakan, jika konsep Taman Ria yang diperkirakannya kini berada di ruko PS deretan Palembang TV (Pal TV, red) layaknya pasar malam yang kini bergeser ke pinggiran kota.

“Dikatakan taman karena tempat itu memang taman. Banyak pohon-pohon besar. Sebagai taman, tempat itu sebenarnya tempat hiburan. Ada roda besar yang berputar, motor-motoran, tempat hantu, banyak juga arena permainan ketangkasan. Kurang lebih seperti arena pasar malam,” ungkap ungkap pria berambut ikal ini.

Taman hiburan seperti ini ditegaskan Tarech merupakan hiburan bagi masyarakat kecil. Pasalnya, sejak tahun 80 hingga usai reformasi tahun 1998, taman tersebut tergerus, berganti mall. “Kalau mall itu konsepnya untuk mempermudah orang belanja saja. Tapi tetap, saya melihatnya bukan untuk kalangan masyarakat kecil,” ujarnya.

Alhasil, dalam pandangan pria berkacamata ini, selain Punti Kayu, sebenarnya Palembang kekuarangan tempat hiburan bagi masyarakat kecil. “Sekarang paling cocok buat masyarakat kecil itu punti kayu. Tempat ini (Punti Kayu, red) mirip-mirip seperti taman ria, cuma kawasannya lebih luas lagi. Kalau water boom yang sekarang marak, itukan masih untuk kalangan menengah sama menengah keatas. Kalau BKB, itu namanya ruang publik bukan tempat hiburan,” ujarnya.

Tergeser Akibat PON
Lalu kenapa pula taman ria sebagai aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel ini hilang begitu saja? Tarech mengingat kejadiannya hampir sama dengan ketika dilaksankannya Sea Games 2011 lalu. Ketika Sea Games hendak digeber, Pemprov melakukan BOT dan membangun Undermall serta RS Siloam. Dengan konsekwensi menghilangkan jejak Lapangan Parkir Bumi Sriwijaya.

Begitu juga Taman Ria. Tergeser oleh rencana Pemprov, ketika hendak menggeber PON tahun 2004 lalu. “Kejadiannya sama persis seperti bangunan Undermall dan RS Siloam itu. Dengan alasan Sea Games Pemprov membangun Undermall dan RS Siloam. Dulu, karena alasan PON, Pemprov mengadakan BOT membangun PS dan menghilangkan Taman Ria,” ujarnya.

Hanya saja, nasib gedung arena teater serta Taman Budaya oleh Pemprov di pindah ke kawasan Dekranasda Jakabaring. Meski gedungnya lumayan baik, tetap saja, Tarech yang mantan seniman, pernah tergabung dalam Kelompok Studi Kebudayaan Kali Musi menilai, pemindahan atau tukar guling, gedung Taman Budaya serta area teater tidak setimpal. Dalam pandangannya, pusat kesenian, seharusnya sudah tepat berada di kawasan Jl Angkatan 45 serta POM IX.

Konsep Perjudian, Tak Begitu Dipedulikan
Sementara, Kgs H Roni Hanan, Pengurus Harian Dewan Pembina Adat Kota Palembang yang sempat dihubungi koran ini tak banyak mengingat kawasan Taman Ria. Ketika ditanya, Cek Roni, sapaan akrab Kgs H Roni Hanan sempat berpikir lama, mencoba mengingat kawasan yang cukup lama menghilang tersebut.

Nah, keterangan Ketua Kerukunan Keluarga Palembang (KKP), tahun 1999 hingga 2009 ini, taman tersebut sudah ada sejak era tahun 70 an. Awal dibuka, taman ria terbilang ramai. Maklum, samasekali tidak ada tempat hiburan lain.

Konsepnya sama dengan diceritakan Tarech Rasyid. Lebih menyerupai pasar malam yang kini banyak digelar di pinggiran kota. “Cuma taman ria itu permanent. Dari pagi sampai malam. Kalau pasar malam itu berpindah tempat dari kampung ke kampung,” ungkap Cek Roni.

Berbeda dengan Tarech Rasyid yang menilai taman tersebut sekedar hiburan masyarakat kecil melepas penat bersama keluarga, Cek Roni mengatakan konsep dianut Taman Ria saat itu, sudah mengarah pada judi.

Pasalnya, selain hiburan roda lambung dan hiburan lain bagi anak, permainan ketangkasan dengan berbagai hadiah, termasuk hadiah uang, dinilainya sudah berbau judi.

“Cuma tempat itu dulu kan resmi. Masyarakat Palembang juga dulu kurang kritis tak begitu peduli seperti sekarang,” tandasnya. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 21 Pebruari 2012 12:26 | Sumeks Minggu

Monday, 17 September 2012

Wajah International Plaza (IP) Tempo Doeloe



Bekas Bioskop Yang Disulap Jadi Mall Pertama di Metropolis
Gedung International Plaza (IP) di kawasan Jl Jendral Sudirman berdiri megah sejak Februari 1991. Namun, anak-anak muda asli Plembang mungkin tak banyak mengetahui, mall pertama di metropolis tersebut merupakan bekas sebuah bioskop bernama International. Apa pula yang melatarbelakangi para pemilik bioskop, terdiri dari berbagai etnis, menyulapnya menjadi sebuah mall?

Sejak berabad-abad lamanya, pasar 16 Ilir diyakini sudah menjadi pusat perdagangan. Mempertemukan para pedagang luar hingga lokal. Nah, usai kemerdekaan tahun 1945 lalu, pusat perdagangan tersebut diyakini terus berkembang ke jalan Jendral Sudirman.

Dari pasar 16 Ilir, hingga Sudirman terus dibangun pertokoan serta tempat hiburan. Salah satunya di kawasan simpang empat International Plaza (IP) saat ini. Ditempat ini dulunya ternyata terdapat sebuah bioskop. Namanya bioskop International Palembang.

Bioskop dibawah naungan NV (semacam PT,red) dibangun sejak Februari 1952. Para pemilik saham atau ownernya terdiri dari berbagai etnis. HM Amin serta H Hasanuddin (wong Plembang, red), Said Abdurahman bin Alwi Assegaf (keturunan Arab, red) serta Tan Kak, Liau Lee dan Jap Sung Sing (keturunan Chinese,red). Nama bioskop International pun diyakininya dengan alasan perpaduan etnis para pemilik bioskop tersebut.

“Zaman dulu, bisnis bioskop memang berkembang. Bisa dikatakan hiburan utama masyarakat,” ungkap M Nasir Amin, anak kelima almarhum HM Amin kepada Sumeks Minggu, ditemui dikediamanya, Jl KA Dahlan, Lrg Soak Bato No 2 Kelurahan Talang Semut Kecamatan Bukit Kecil Palembang, Kamis (6/10) lalu.

Pada tahun 1950 an saja, seingat Nasir terdapat beberapa bioskop. Seperti bioskop Mahkota yang sekarang menjadi JM, Jl Letkol Iskandar. Kemudian bioskop Saga yang sekarang menjadi kantor Dinas Pendapatan (Dispenda) Palembang, Panca warna di kawasan Cinde yang menjadi eks bioskop Cineplex, Intium/Mustika yang sekarang menjadi balai Prajurit di kawasan Pasar Sekanak, bioskop Raya depan Majid Agung serta bioskop Rosida di pasar Sekanak.

Hanya saja, dari beberapa bioskop tersebut, Amin menyatakan bioskop International merupakan bioskop terbesar. Karena daya tampungnya yang cukup besar. Hanya saja, akhir tahun 1980 an, para pengunjung bioskop secara global mengalami penurunan. Dampak keluarnya kaset video serta didominasinya film lokal serta luar negeri membuat penggelola bioskop kesulitan berkembang.

Alasan ini pula yang membuat generasi kedua dari pemilik bioskop International putar otak. Yang ujung-ujungnya mengeluarkan ide brilliant dengan memberanikan diri membangun pusat perbelanjaan skala besar yang sekarang disebut mall.



Ubah Mindset Perwajahan Palembang
Dibawah naungan PT Indah Plaza International, gedung berlantai lima dibangun dengan nama International Plaza akrab disebut IP, mulai dibangun tahun 1989. Gedung bioskop yang dulunya menghadap ke jalan Jendral Sudirman sedikit bergeser dan mengarah kedua sudut jalan. Jendral Sudirman serta Jl Letkol Iskandar. IP sendiri mulai beroperasi sejak Februari 1991, dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumsel kala itu, H Ramli Hasan Basri.

Dampak pembangunan IP dikatakan Nasir Amin yang kini duduk sebagai Komisaris IP, cukup besar. Pertama, mindset perwajahan Palembang berubah menjadi lebih maju dengan berdirinya sebuah plaza atau mall.

“Temen saya dari Jawa yang sempat gak mau datang ke Palembang karena dulu masih dianggapnya seperti dusun terkejut dengan pembangunan plaza tersebut,” ungkap Nasir tersenyum.

Didukung berbagai tenant terkenal, sebut saja Matahari Departemen Store yang menyewa 3,5 lantai IP, KFC, food court, 21 dan lainnya pengunjung IP pun membludak. Bahkan, saat awal dibuka, IP seperti menjadi Ikon Palembang. Masyarakat luar Palembang asal Sumsel, saat plesiran berusaha menyempatkan diri datang ke mall ini. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 11 Oktober 2011 11:47 | Sumeks Minggu

Dari Becak China Hingga Trans Musi



Melirik Transportasi Palembang Dari Masa ke Masa
Sistem transportasi selalu berubah. Terus mengalami kemajuan seiring perkembangan zaman. Yang tengah dikembangkan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang saat ini, Trans Musi. Yang kini menggerus bus kota dan menggusur angkutan kota (angkot) ke pinggiran. Melirik ke belakang, transportasi di Palembang sudah beberapa kali mengalami evolusi. Bahkan, sebelum era kemerdekaan, ternyata ada juga yang namanya becak China. Seperti apa perkembangan transportasi di kota empek-empek in dari masa ke masa?

Dari catatan kecil dibuat penjajah Belanda, kota Palembang awal abad ke-19 disebut dengan kota air. Dibelah sungai Musi, lebih dari 100 anak sungai mengaliri kota ini. Sebutan Venice of The East atau Venezia dari Timur pun melekat. Karena keadaan Palembang tak ubahnya kota air seperti Venezia, Italia.

Faktor sungai yang menjadi urat nadi inilah yang membuat kehidupan masyarakat tinggal di pinggiran sungai. Pendek kata, ketika jalur transportasi darat belum berkembang, sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam, transportasi wong Plembang lebih dominan menggunakan jalur air.

Dari satu tempat ke tempat lainnya, masyarakat lebih banyak menggunakan perahu dengan menelusuri anak-anak sungai Musi. Pemandangan pasar terapung layaknya di Banjarmasin Kalimantan Selatan (Kalsel, red) masih cukup banyak diingat bagi kalangan tertentu.

“Kalau dulu, yang jualan model, tekwan, sayur sampe duren itu masih banyak di perahu,” celetuk, Ali Hanafiah SH, Sejarah dan budayawan Palembang kepada Sumeks Minggu, ditemui Rabu (19/10) lalu.

Angkutan air skala besar, zaman Belanda terdapat kapal Mary serta Kapal Roda Lambung. Yang mengangkut penumpang dari kawasan Kertapati, Plaju hingga Sungai Gerong.

Moda transportasi air ini lanjut Ali Hanafiah yang akrab di panggil Mang Amin usai zaman kemerdekaan masih banyak digunakan. Hingga dibangun serta dioperasionalkanya jembatan Ampera sekitar tahun 1965, yang namanya penggunaan perahu serta jalur transportasi air mulai berkurang.

“Paling yang masih terlihat saat ini perahu Kajang. Digunakan orang luar Palembang untuk mengangkut hasil perkebunan ke Palembang. Bentuk perahunya besar dengan atap,” ungkapnya.

Transportasi darat sendiri mulai berkembang awal tahun 1920. Ketika penjajah Belanda secara sporadis menimbun anak-anak sungai, mendukung moda transportasi ini. Hanya saja, pada masa Belanda belum terdapat angkutan umum.

Yang namanya angkutan seingat Mang Amin yang kini menjabat sebagai Kepala UPTD Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II masih berupa becak. Bukan juga becak roda tiga yang dikayuh dari belakang. Namun becak roda dua yang ditarik oleh orang China dengan ciri khas rambut berkuncir.

Itulah sebabnya, transportasi yang satu ini disebut dengan becak China. Operasinya berada di pasar 16 Ilir dan sekitarnya. Menarik kalangan pribumi berada serta None None Belanda. Becak China, diperkirakan beroperasi tahun 1920 hingga 1940.

“Penarik becak ini memang seluruhnya orang China. Pada masa Kesultanan Palembang, orang China dianggap sebagai pendatang, tinggalnya saja di rumah rakit,” ungkap Mang Amin.

Setir di Kiri, Hidupkan Mesin Diengkol
Usai zaman kemerdekaan, ketika teknologi dan jalur darat mulai berkembang, sistem transportasi pun berevolusi. Adalah jeep Willys asal Amerika yang dijadikan angkutan umum oleh wong Plembang. Dulunya angkutan ini disebut dengan Taksi. Kini, angkutan yang sudah hampir hilang ini disebut dengan ketek.

Nah, konon nama ketek disematkan pada mobil diproduksi pada perang dunia ke II ini karena suaranya seperti perahu ketek di sungai Musi “tek, tek, ktek, ketek”. Jalanya pun lambat seperti ketek sungai. Padahal, saat itu naik kendaraan itu bagi banyak kalangan sudah termasuk “ngerot” alias hebat.

Di jalan Sosial Km 5, Ampera 3-4 Ulu, Sekojo-Lemabang, Ampera Tangga Takat, tahun 1980 an angkutan ini masih banyak dijumpai. Masuk awal tahun 2000, angkutan ini seperti raib ditelan bumi. Sulitnya mencari onderdil, borosnya bahan bakar diyakini penyebab tak digunakannya lagi mobil ketek.

Pada masa mobil ketek ini, ada angkutan lain jenis Chevrolet. Bentuknya seperti sedan namun dengan body mini bus. Baik mobil ketek serta Chevrolet ini terbilang unik. Karena buatan Amerika, setir berada dibagian kiri. Untuk menghidupkannya pun mesti diengkol dengan tangan searah jarum jam.

Tahun 1980an, ketika teknologi mulai berkembang, munculah jenis angkutan baru. Produk Jepang, Toyota Hi-Ace masuk. Bentuknya body panjang, masih banyak menggunakan kayu dan tanpa kepala. Kendaraan ini banyak digunakan pada trayek Plaju Ampera serta Kertapati Ampera.

Tahun 1990an, muncul lagi jenis terbaru Toyota Kijang. Pada masa yang sama kemudian muncullah yang namanya bus kota. Saat awal muncul bus kota sempat disebut sebagai kemajuan. Saat ini, bus kota mulai ditinggalkan. Pemkot Palembang pun mulai menggalakan penggunaan Trans Musi yang lebih nyaman dengan Air Conditioner (AC). “Yang pasti, angkutan itu tergerus oleh kemajuan zaman,” tandas Mang Amin. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 25 Oktober 2011 12:53 | Sumeks Minggu

Sunday, 16 September 2012

Sungai Musi Riwayatmoe Kini



Sungai Musi, aset alam terbesar di metropolis. Sejak zaman kerajaan Sriwijaya, sungai yang membelah Seberang Ulu dan Seberang Ilir ini diyakini mempunyai peran penting penunjang transportasi serta meningkatkan ekonomi melalui perdagangan.

Sayangnya, sungai terpanjang di Sumatera ini, kini mulai mengalami kerusakan akibat pencemaran. Jika tidak ada pembenahan, bisa saja sungai yang menjadi andalan masyarakat Sumsel ini rusak parah.

Banyak yang menyebut sungai ini dengan Batanghari sembilan. Maksudnya, sungai Musi menjadi muara sembilan sungai yang ada di kawasan Sumsel. Sembilan sungai tersebut, mulai dari sungai Komering, sungai Rawas, sungai Leko, sungai Lakitan, sungai Lematang, sungai Ogan, sungai Kelingi, sungai Kikim serta sungai Musi sendiri.

Di tepian sungai inilah, masyarakat Sumsel diyakini hidup dan mendirikan perumahan. Karena sungai merupakan urat nadi kehidupan. Pada dasarnya, manusia tidak dapat di lepaskan dengan air. Baik untuk minum, mandi cuci kakus (MCK).

Termasuk untuk bepergian, diyakini masyarakat kala itu lebih dominan menggunakan transportasi air. Masyarakat dari belahan penjuru Sumsel pergi ke Palembang menggunakan kapal serta tongkang.

Kapal dari provinsi lain pun dapat melewati sungai ini terpanjang di Sumatera ini. Dengan panjang sungai mencapai 600 km, hulu (sumber air,red) sungai Musi berasal dari Bukit Barisan Bengkulu. Sedangkan hilirnya (tempat air bermuara,red) berada di sungsang Banyuasin, mengarah ke laut lepas.

Sungai ini pun melewati Provinsi Lampung melalui sungai Warkuk yang masuk melalui sungai Komering, OKU Selatan (OKUS). Termasuk Provinsi Jambi melalui sungai Lemurus dan melintas melalui sungai Rawas.

Sehingga, kapal-kapal besar dari mancanegara bisa masuk ke Musi. Yang membuat perdagangan, terutama pada zaman Sriwijaya dengan ibukotanya Palembang berkembang pesat.

Dengan berbagai anak sungai di kawasan Palembang, masyarakat dulunya melakukan jual beli di aliran sungai. “Dulu kalau mau belanja, pedagang itu naik perahu. Pembelinya kan ada di aliran sungai itulah,” ungkap Drs Ali Hanafiah, Kepala UPTD Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang.

Bahkan, di aliran Musi sendiri menurutnya banyak terdapat rumah rakit yang hingga kini masih banyak didapati. Hanya saja, keterangan pria berkacamata ini, dulunya yang tinggal diatas rumah rakit disusun di atas bambu besar hanyalah penduduk datangan. Masyarakat Tionghoa serta Eropa.

“Itu terjadi pada masa kesultanan. Rumah itu diatas sungai dan diikat tali agar tidak hanyut. Sekarang, yang tinggal diatas rumah rakit kebanyakan yang jual bensin atau solar,” ungkapnya.

Sejarawan serta budayawan Palembang ini mengingat, zaman kolonial Belanda hingga zaman kemerdekaan beberapa jenis perahu digunakan masyarakat Palembang. Untuk menyebrang dari Seberang Ulu ke Seberang Ilir atau sebaliknya. Ini karena belum dibangunya jembatan Ampera.

Seperti perahu tambang yang di kayuh oleh tenaga manusia. Panjang sekitar empat meter dengan daya tampung enam hingga sepuluh orang. “Setelah dibangun Ampera, kapal ini masih ada di kawasan Tangga Buntung dan Masjid Suro. Setelah para pengemudinya lanjut usia, tidak ada lagi yang menggantikanya,” ungkap Mang Amin, panggilan akrab, Ali Hanafiah.

Ada juga perahu kapal roda lambung. Sesuai namanya diatas kapal terdapat roda. Kapal lainya, Mary. Sama halnya dengan kapal roda lampung, kapal Mary bermuatan besar. Mengangkut penumpang yang hendak bepergian seputar kawasan Plaju, Sungai Gerong hingga Kertapati.

Anak Sungai Menghilang, Sampah Berserakan
Lantas seperti apa keadaan sungai Musi saat ini? Ada banyak perubahan. Terutama pada anak-anak sungai Musi. Beberapa anak sungai seperti Kapuran di jalan Merdeka, tepat depan kantor Walikota Palembang menghilang. Termasuk sungai Tengkuruk, ditimbun kolonial Belanda untuk melancarkan transportasi darat.

Anak sungai lain, seperti sungai Sekanak, sungai Kedukan di 35 Ilir, sungai Bayas di jalan Veteran serta sungai Tawar di 29 Ilir hampir menghilang. Dikatakan begitu karena keadaanya sudah sangat mengkhawatirkan. Sungai tersebut mendangkal akibat tumpukan sampah dibuang masyarakat serta jarangnya dikeruk. Tak ada anak yang melompat ke air serta perahu yang melintas.

“Kalau dulu di anak-anak sungai itu masyarakat bisa berperahu hingga berdagang. Sekarang hanya kalau air pasang, sungai bisa dilalui,” ungkapnya.

Masalah sampah ini lanjut Mang Amin sudah dilarang Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Melalui Peraturan Daerah (Perda) No 44 tahun 2002. Cuma ibarat peraturan yang tidak ada petugas untuk memantau serta memberikan sanksi, masyarakat tetap saja buang sampah di sungai.

“Di jalan saja kalau tidak ada polisi, kita gak pake helm saja kan tidak masalah. Sama kayak Perda itu. Kalau sekedar larangan tidak yang memantau dan petugas yang memberi sanksi percuma saja,” jelasnya.

Selain masalah sampah, kebiasaan jelek masyarakat yang tidak juga hilang adalah masalah MCK. Hingga kini, Mang Amin yang juga tinggal di pinggiran Musi melihat masih kurangnya masyarakat yang memiliki jamban.

Alhasil, masyarakat yang tidak memiliki jamban tetap membuang hajatnya di sungai Musi. Malam mereka transparan duduk di pinggiran sungai, kalau siang masyarakat berpura-pura mandi sambil buang hajat.

Pernah dibuat dibuat WC umum bagi masyarakat, untuk meminimalisir masalah ini. Di satu pemukiman dibuat WC dengan dua pintu. Sayang sistem ini tidak efektif dan cenderung gagal. “WC itu rusak. Gak ada yang merawat,” tandas Mang Amin. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 31 Mei 2011 12:48 | Sumeks Minggu

Saturday, 15 September 2012

Mengguak Asal Usul Nama Pemulutan



Beratus-ratus tahun lalu, nama Desa Pemulutan yang kini telah berkembang menjadi sebuah Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir (OI) bernama Sudi Mampir. Nama Pemulutan yang kini melekat, diyakini berasal dari sejarah mistis seorang muyang di kawasan tersebut yang menangkap buaya dengan menggunakan getah (molot, red) pohon pulai.

Cerita ini bukanlah legenda ataupun mitos, sangat diyakini masyarakat Pemulutan. Pasalnya, keturunan muyang tersebut, adalah orang-orang yang kini dikenal masyarakat sebagai pawang buaya. Bagaimana ceritanya? Berikut penusuran Sumeks Minggu.

Menempuh perjalanan ke Desa Pemulutan cukup jauh. Dari jalan raya, Palembang-Indralaya, koran ini harus masuk hingga 7 km masuk ke dalam. Di desa Pemulutan sendiri, beberapa masyarakat yang sempat dibincangi koran ini menyakini asal usul nama Pamulutan berasal dari salah seorang muyang di daerah mereka yang dulu pernah “molot” buaya.

Meski mengetahui banyak cerita seputar puyang tersebut,masyarakat tampaknya enggan bicara lebih lanjut. Karena keturunan langsung dari puyang tersebut menurut mereka hingga kini masih ada. Salah satunya Abdul Hamid (77), warga Desa Pemulutan Ilir.

Abdul Hamid sendiri, dikenal masyarakat luas sebagai pawang buaya. Sejak puluhan tahun lalu, masyarakat luas telah meminta jasa Abdul Hamid untuk mengatasi permasalahan buaya-buaya yang kerap mengganggu masyarakat.

Kesaktian Satu Dari Tujuh Bubungan
Meski telah berkepala tujuh, sosok Abdulah Hamid ternyata masih gagah. Giginya yang sudah banyak tanggal karena dimakan usia, tak membuat pria yang kepalanya sudah dipenuhi uban ini sulit bicara. Ditemui di kediamannya Kamis (30/8) lalu, Hamid menceritakan, sekitar 800 tahun lalu, di desa Pamulutan terdapat tujuh bubungan (rumah, red) dianugerahi Allah SWT kesaktian. Kala itu, nama Desa mereka adalah Sudi Mampir.

Kesaktian tersebut, ilmu harimau, buaya, ular, racun, dukun patah tulang, ilmu besi dan kayu serta ilmu menyembuhkan orang gila. Bubungan dimaksud Hamid, adalah rumah orang-orang di kawasan Desa Sudi Mampir. “Mereka masih terbilang keluarga. Rumahnya tidak berdempet. Cukup berjauhan satu sama lain tapi berada di satu desa. Yakni desa Sudi Mampir yang sekarang namanya berubah menjadi Pemulutan,” ujar Hamid.

Dari tujuh bubungan tersebut, bubungan buaya memiliki kisah tersendiri. Karena daerah Pemulutan berada di pinggiran sungai Ogan yang begitu luas, banyak buaya bermunculan. Buaya-buaya ini pun sempat memangsa orang.

Buaya yang memangsa orang ini lanjut Hamid berasal Pamulutan bernama Peti Bongkang, dari Kebun Gede 35 Ilir Raden Tokak, serta dari sungai Goreng Naga Swidak Plaju bernama Tambang Areng.

Melihat masalah ini, muyang dari Pemulutan yang bernama Malik khawatir anak cucunya habis dimakan buaya. Ia kemudian menebang sebuah batang pohon Pulai. Batangnya dilintangkan di sungai. Oleh muyang tersebut, pohon di cacah agar getahnya keluar. Getah yang keluar inilah digunakan untuk menangkap (molot, red) buaya.

Cara ini menurut Hamid berhasil menangkap buaya yang acapkali berulah, memangsa manusia. Muyang Malik sempat menghunuskan pedangnya berniat membunuh buaya yang kena “polot” terhenti karena kedatangan tiba-tiba, empat orang diyakini sebagai mahluk halus, penunggang buaya tersebut.

Mereka sempat bertanya kepada muyang Malik mengapa sampai menghunus pedang? Sang Muyang menurut Hamid kemudian menjelaskan maksud tujuannya yang hendak membunuh para buaya karena dikhawatirkan akan memakan anak cucunya nanti. Keempat orang ini kemudian berjanji, jika buaya tersebut tidak dibunuh, jika di panggil mereka akan datang dan membantu muyang tersebut termasuk keturunannya terhadap permasalahan seputar buaya.

Janji tersebut memang ditepati. Sejak muyang Malik, jika buaya dipanggil, 10 hingga 15 menit langsung datang. Termasuk dengan empat penunggangnya. Cerita keturunan kedua bernama Kamaluddin bergelar Ratu Jurum pun tak jauh berbeda.

Namun pada keturunan ketiga, bernama Punggawa Cabuk bergelar Raden Jurung hanya buaya saja yang datang. Penunggannya tidak kelihatan hanya suara penunggang yang terdengar. Pada muyang keempat bernama Tunak dengan gelar Raden Kuning, buaya sudah lambat datang, penunggang tidak ada termasuk suaranya.

Pada keturunan kelima bernama Imang bergelar Raden Sentul, buaya tidak lagi datang, namun bisa diusir. Termasuk pada keturunan keenam Abdullah bergelar Raden Intan. Buaya tidak lagi datang, namun bisa diusir.

“Sedangkan saya, generasi ketujuh dengan gelar Pendekar Jurung Jurung Mata Intan, buaya dipanggil tidak lagi datang, diusir masih mau,” jelas Abddulah Hamid.

Hingga kini, tenaga Hamid telah digunakan oleh banyak orang di berbagai daerah untuk mengusir buaya. Dari Desa Tanjung Jumbung, kawasan Muara Tembesi, Serolangun Jambi. Kemudian di Desa Permis serta Serdang Bangka Belitung (Babel), kawasan Selapan,kawasan Gasing Banyuasin hingga ke kawasan Limau Sumbawa.

Bahkan, berkat keahliannya menjinakan buaya, Abdullah Hamid pernah lima tahun tinggal di Singapura. Ia bekerja di sebuah sirkus. “Namanya itu Crocodile show,” tandas Hamid.

Camat Pemulutan Bahrus Syarip MSi didampingi Kasi Pemerintahan Mareta membenarkan adanya keyakinan masyarakat seputar cerita muyang Pemulutan. Hingga kini, nama Pemulutan yang sudah berkembang menjadi Kecamatan memiliki 25 desa.

Seputar sungai Ogan yang melintasi Desa Pemulutan dan sekitarnya hingga kini tetap menjadi tumpuan utama masyarakat. Mayoritas masyarakat, berprofesi sebagai nelayan yang mencari ikan di sungai. Profesi lain, bertani dengan menanam padi dengan hasil panen satu tahun sekali. (wwn)

Kisah Bujang, Buaya Peliharaan Berusia Tiga Tahun
Buaya-buaya di sungai sepanjang sungai Ogan tampaknya masih cukup banyak. Warga Desa Pamulutan sendiri hingga kini masih sering melihat buaya-buaya berukuran besar menampakan diri di perairan. “Ukurannya jangan ditanya lagi. Sisiknya saja ada yang sebesar genteng,” ucap salah seorang warga Desa Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan Ogan Ilir, kepada Sumeks Minggu beberapa hari lalu.
Itulah mengapa anak-anak buaya seringkali ditemukan warga Kecamatan Pemulutan yang kerap mencari ikan. Para nelayan ini acapkali memberikan anak-anak buaya ditemukan pada Burniat (61), warga Pelabuhan Dalam. Oleh Burniat, anak-anak buaya tersebut di peliharanya.

“Kalau dulu bisa melihar sampai tujuh ekor. Kalau besar, dijual. Sekarang tidak bisa jual lagi. Bisa-bisa ditangkap polisi,” ujar Burniat.

Pun begitu, kebiasan Burniat yang sejak lama hobi memelihara buaya tak juga hilang. Hingga kini, ia masih memiliki seekor buaya diberi nama Bujang.Buaya ini didapatnya tiga tahun lalu. Ketika itu, panjangnya hanya 70-80 cm. Sekarang, panjangnya hampir mencapai tiga meter.

Memelihara buaya ternyata tidak sulit seperti dibayangkan. Burniat mengaku memberi makan buaya hanya dengan potongan kaki atau kepala ayam yang tidak laku dijual dari peternakan. “Kalau sudah besar, seminggu sekali bisa dikasih satu ayam yang sudah mati. Sama sekali tidak keluar uang buat melihara buaya,” ujar Burniat.

Bujang sendiri saat dilihat koran ini berada di sebuah kerangkeng besi. Buaya ini sulit bergerak karena kecilnya kerangkeng yang ada. “Kadang dilepas juga. Tapi kalau kolam saya sedang tidak ada ikan. Kalau lagi ada ikan, habis semua ikannya. Kadang juga pergi dia beberapa hari. Tapi, pasti balik lagi kalau lagi lapar,” ungkap Burniat.

Khusus Bujang samasekali tidak akan dijual oleh Burniat. Hingga kini, Bujang acapkali dipinjam pihak Kecamatan Pemulutan untuk pameran. Pernah juga, sekitar delapan bulan lalu, buaya ini digunakan Panji untuk program TV swasta nasional, Panji si Petualang. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 04 September 2012 12:29 | SumeksMinggu

Friday, 14 September 2012

Kehidupan Rumah Rakit Zaman Kesultanan



Khusus Warga Pendatang, Bermasalah Rumah Dihanyutkan, Rumah rakit, mungkin bisa dikatakan sebagai rumah tertua di kota Palembang. Diperkirakan, rumah yang mengapung di pinggiran sungai Musi ini telah ada pada zaman Sriwijaya. Saat ini, rumah rakit ini diakui sebagai penunjang pariwisata. Hanya saja, melirik ke belakang pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam, rumah rakit ternyata khusus diperuntukan bagi warga pendatang, terutama Warga Negara Asing (WNA). Apa sebab?

Bicara peradaban Palembang tak dapat dipisahkan dengan sungai Musi. Sungai ini merupakan kehidupan vital wong kito sejak berabad-abad lalu. Nah, salah satu peradaban tertua yang sudah ada sejak zaman Sriwijaya adalah rumah rakit.

Dikatakan rumah rakit, karena pondasinya terbuat dari bambu. Bahan utama membuat rakit. Bahan bambu inilah yang membuat rumah rakit bisa mengapung. Naik serta turun, tergantung pasang surut sungai.

“Bahan lain bisa dikatakan murah meriah. Menunjukan budaya lokal zaman dulu,” ungkap Kms Aripanji SPd MSi, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Sumsel kepada Sumeks Minggu, dibincangi Rabu (26/10) lalu.

Maksudnya, dengan rumah rakit ini, masyarakat yang hendak mendirikan rumah tidak perlu melakukan penimbunan seperti sekarang ini. Yang dapat menggangu ekosistem dan menimbulkan banjir karena berkurangnya daerah resapan air. Keuntungan lain, tentu saja pemiliknya bisa memindahkan rumah ke daerah lain dengan cara dihanyutkan.

Nah, rumah rakit sendiri disusun dari batangan bambu, dipasang lantai papan dengan penyangga tiang pendek. Sehingga, meski berada diatas sungai, lantai rumah tidak kemasukan air. Rumah ini pun bisa disebut “anti banjir”.

Barulah di sudut atas di pasang tiang penyangga untuk menyusun dinding rumah serta menegakan atap. Atap rumah rakit sendiri sejak zaman dulu menggunakan nipah. Saat ini banyak digunakan seng atau seng berbentuk genteng yang bahannya ringan. Agar tidak hanyut ke hilir atau hulu, ditancapkan tiang di tiap sudut rumah. Lalu tiang diikat ke sudut rumah.

Aturan Bernuansa Politik
Masalah rumah rakit diyakini Aripanji telah ada sejak zaman Sriwijaya, abad 7 hingga 14. Termasuk pada masa Kerajaan Palembang, 14 hingga 17 serta pada masa Kesultanan Darussalam abad 17 hingga 19.

Hanya saja, masalah rumah lebih dikenal pada masa Kesultanan. Ini tak lepas dari kebijakan dibuat pada masa itu. Kebijakan tersebut dikatakan Aripanji sebagai kebijakan atau aturan bernuansa politis.

Yakni, menempatkan para pendatang khususnya Warga Negara Asing (WNA) untuk tinggal di rumah rakit. Seperti warga China serta Belanda. Sedangkan penduduk pribumi saat itu tinggal didaratan. Atau pinggiran sungai dengan tiang rumah sudah menyentuh daratan.
“Berbeda dengan orang Arab. Pada masa Kesultanan mereka dimuliakan. Banyak dijadikan guru, menantu atau panglima perang. Ini juga karena ada kesamaan qaidah (agama Islam, red),” ungkap Ari.

Didiskrimanasinya para pendatang pada masa Kesultanan lanjut Ari karena adanya kecurigaan. Seperti bangsa Belanda yang sudah sejak lama terkenal hendak menjajah Indonesia.

“Kalau orang China itu dicurigai karena kedekatannya sama Belanda. Tapi itu kan karena masalah perdagangan saja, “ ujarnya cepat.

Dengan tinggalnya para pendatang serta WNA ini diatas rumah sakit, secara otomatis, Kesultanan dapat secara mudah melakukan pengontrolan. Mereka bermasalah, tali pengikat rumah rakit tinggal dipotong, rumah itu pun bakal hanyut.

Hanya saja, Belanda dapat melakukan pendekatan dengan Kesultanan hingga dapat mendirikan sebuah loji (kantor dagang,red) di sungai Aur. “Kemudian, mereka juga menepi dan tinggal di darat,” jelasnya.

Sejak Belanda berhasil menguasai Kesultanan Palembang, keadaan berubah. Usai kemerdekaan hingga kini, jumlah rumah rakit dipastikan berkurang. Rumah rakit pun tak lagi kesannya tempat orang diasing atau terpinggirkan. Yang tak banyak berubah, rumah rakit banyak digunakan sebagai tempat berdagang. Yang dulunya banyak dilakukan orang-orang China. (wwn)

Written by: samuji Selasa, 01 November 2011 11:57 | Sumeks Minggu