Saturday, 6 October 2012

Menelusuri Makna Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)



Di antara prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya, prasasti Kedukan Bukit paling menarik diperbincangkan. Di samping banyak mengandung kata yang tidak mudah ditafsirkan, prasasti tersebut oleh beberapa sarjana dianggap mengandung kunci pemecahan masalah lokasi ibukota kerajaan besar itu, yang mendominasi pelayaran dan perdagangan internasional selama empat abad. Dari segi ilmu bahasa, prasasti Kedukan Bukit merupakan pertulisan bahasa Melayu-Indonesia tertua yang pernah ditemukan sampai saat ini.

Alkisah, di daerah Kedukan Bukit, Palembang, terdapat batu bertuliskan huruf kuno yang dikeramatkan penduduk. Jika diadakan perlombaan perahu bidar di Sungai Musi, perahu yang akan dipakai ditambatkan dulu pada batu itu dengan harapan memperoleh kemenangan.

Pada bulan November 1920, Batenburg seorang kontrolir Belanda mengenali batu itu sebagai prasasti. penemuan itu dilaporkan pada Oudheidkundigen Dienst (Dinas Purbakala). Akhirnya, prasasti itu tersimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor D.146.

Pada tahun itu juga, Residen palembang L.C. Westenenk menemukan prasasti lain di daerah Talang Tuo. Di Museum Pusat prasasti itu bernomor D.145. Kemudian kedua prasasti itu ditranskripsikan dan diterjemahkan oleh Philippus Samuel van Ronkel dalam tulisannya, "A Preliminary Notice Concerning Two Old Malay Inscriptions Palembang," pada majalah ilmiah Acta Orientalia, Volume II, 1924, hh. 12-21.

Isi Prasasti
Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 604 Saka (682 Masehi) dan merupakan prasasti berangka tahun yang tertua di Indonesia. Terdiri dari sepuluh baris, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, masing-masing baris berbunyi sebagai berikut:

1. Swasti, sri. Sakawarsatita 604 Saka ekadasi su-

2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di

3. samwau mangalap. Di saptami suklapaksa

4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga

5. tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa

6. dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu

7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang

sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada

9. laghu mudita datang marwuat wanua....

10. Sriwijaya jaya siddhayarta subhiksa

Terjemahan dalam Indonesia modern:
1. Bahagia, sukses, Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas

2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di

3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang

4. bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga

5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan

6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu

7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang

8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada

9. lega gembira datang membuat wanua....

10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang. Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu bukanlah piknik, melainkan ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data:

1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau kemana.

2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang (sampai kini masih ada desa Upang di tepi Sungai Musi, sebelah timur Palembang).

3. Dapunta Hyang membuat 'wanua' tanggal 5 Asada (16 Juni). (Penyesuaian tarikh Saka ke tarikh Masehi diambil dari Louis-Charles Damais, "Etude d'Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l'Indonesie," BEFEO, tome 46, 1952).

Prasasti Kedukan Bukit hanya menyebutkan gelar Dapunta Hyang tanpa disertai nama raja tersebut. Dalam prasasti Talang Tuwo yang dipahat tahun 606 Saka (684 M) disebutkan bahwa raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembuatan Taman Sriksetra tanggal 2 Caitra 606 (23 Maret 684). Beasar kemungkinan dialah raja Sriwijaya yang dimaksudkan dalam prasasti Kedukan Bukit.

Timbul setumpuk pertanyaan: Dimanakah letak Minanga? Benarkah Minanga merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya? Apakah arti kalimat 'marwuat wanua'? Benarkah kalimat itu menyatakan pembangunan sebuah kota seperti banyak ahli sejarah?

Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. "This text has coused much ink to flow" kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of souttfeast Asia, University of Malay Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

Beberapa Tafsiran
Pada tahun 1975 Departeman P & K menerbitkan enam jilid buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai buku standar bagi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Jilid II membahas Zaman Kuno, disusun oleh Ayatrohaedi, Edi sedyawati, Edhie wuryantoro, Hasan Djafar, Oei Soan Nio, Soekarto K. Atmojo dan Suyatmi Satari, dengan editor Bambang Sumadio.

Tafsiran mereka terhadap isi prasasti Kedukan Bukit sebagai berikut: Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwan, kemudian mendirikan kota yang diberi nama Sriwijaya. Mungkin sekali pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan itulah, daerah pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (Sejarah Nasional Indonesia, II, Balai Pustaka, Jakarta, 1977, h. 53).

Dr. Buchari, ahli epigrafi terkemuka, dalam tulisannya "An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)," Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hh. 26-28, memberikan penafsiran yang berbeda: Pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minanga yang terletak di Batang Kuantan, di tepi Sungai Inderagiri, dengan alasan minanga = muara = kuala = kuantan. Lalu pada tahun 682 Dapunta Hyang menyerang Palembang dan membuat kota yang kemudian dijadikan ibukota kerajaan yang baru.

Jadi pada tahun 682 terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga ke Palembang. Dr Slamet Mulyana, ahli filologi ternama, dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hh. 73-74, berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dengan pembuatan kota Sriwijaya. Dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slamet Mulyana melokasikan Minanga di Binanga, yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.

Lokasi Sriwijaya
Pendata I-tsing (624-713), dalam pelayaran dari China ke India tahun 671, singgah di negeri Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya (tatabahasa Sansekerta), ketika pulang dari India tahun 685 I-tsing bertahun-tahun tinggal di Sriwijaya untuk menerjemahkan naskah-naskah Buddha dadi bahasa Sansekerta ke bahasa China. I-tsing kembali ke China dari Sriwijaya tahun 695. Selama di Sriwijaya dia menulis dua buah bukunya yang temasyhur, Nan-hai Chi-kuei Nei-fa (Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut Selatan) serta Ta-T'ang Hsi-yu Ch'iu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang).

Kedua karya I-tsing masing-masing diterjemahkan oleh Junjiro Takakusu, A record of Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Achipelago AD 671-695, by I-tsing, Oxford, London, 1896, dan oleh Edouard Chavannes, Memoire compose a l'epoque de la grande dynastie Tang, sur les Religiuex Eminents qui allerent chercher la loi dans les pay d'Occident, par I-tsing, Ernest leroux, Paris, 1894.

Cuplikan uraian I-tsing juga terdapat dalam karya Gabriel Ferrand, L'Empire Sumatranais de Crivijaya, Imprimerie Nationale, Paris 1922, Bab "Textes Chinois,serta karya Paul Wheatley, the Golden Khersonese, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1961, Bab "Towards the Holy Land." Kemudian Oliver W. Wolters dalam bukunya Early Indonesian Commerce, Cornell University Press, Ithaca, 1967, mengoreksi kekeliruan terjemahan Takakusu dan Chavannes.

Dalam kedua karya itu I-tsing memberikan informasi berharga mengenai letak dan keadaan Sriwijaya. Oleh karena itu dia lama berdiam di Sriwijaya, sudah tentu keterangannya sangat dapat dipercaya. I-tsing menyaksikan keadaan Sriwijaya dengan mata kepalanya sendiri. Uraian-uraiannya merupakan sumber berita dari tangan pertama. Tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan pernyataan I-tsing itu.

Kisah pelayaran I-tsing dari Kanton tahun 671 diceritakannya sendiri sebagai berikut: "Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan.... Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam utnuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri Melayu, di mana saya singgah selama dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah.... Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar).... Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan, lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India)." (Chavannes, h. 119; Ferrand, h. 4; Wheatley, hh. 41-42; Wolters, hh. 207-208).

Perjalanan pulang dari India tahun 685 diceritakan I-tsing sebagai berikut: "Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke China. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya.... Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua.... Kami tinggalkan Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira sebulan, kami sampai di negeri Melayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Melayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan." (Takakusu, h. 34; Wheatley, hh. 41-41; Wolters, hh. 227-228).

Dari uraian I-tsing jelas sekali bahwa Melayu terletak di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Jadi Sriwijaya terletak di selatan atau tenggara Melayu. Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa negeri Melayu berlokasi di Jambi, sebab pada alas arca Amonghapasa yang ditemukan di Jambi terdapat prasasti bertarikh 1208 Saka (1286 M) yang menyebutkan bahwa arca itu merupakan hadiah raja Kertanagara (Singhasari) kepada raja Melayu (Lihat: R. Pitono Hardjowardojo, Adityawarman, Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari abad XIV, Bhratara, Djakarta, 1966, hh. 36-38). I-tsing juga mengatakan bahwa Sriwijaya terletak di muara sungai yang besar (Chavannes, h. 176; Ferrand, h. 6; Wolters, h.226). Maka satu-satunya tempat yang memenuhi syarat sebagai lokasi negeri Sriwijaya adalah PALEMBANG.

Ditinjau dari data arkeologi, pelokasian Sriwijaya di Palembang memperoleh pembuktian yang kuat. Sebagian besar prasasti Sriwijaya ditemukan di Palembang: Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Telaga Batu, lima buah pecahan prasasti, dan batu-batu mengenai siddhayatra'. Pada salah satu pecahan prasasti terdapat keterangan mengenai perdatuan (istana raja). Yang lebih meyakinkan, prasasti Telaga Batu menyebutkan berbagai pembesar tinngi yang hanya mungkin ada di ibukota atau pusat pemerintahan suatu kerajaan, seperti putra mahkota, selir raja, senopati, hakim, para menteri, sampai pembersih dan pelayan istana. Lihat: George Coedes, "Les Inscription Malaises de Crivijaya", BEFEO, tomr 30, 1930, hh. 29-80; Johanes Gijsbertus de Casparis, Prasasti Indonesia II, Dinas Purbakala Republik Indonesia, Masa Baru, Bandung, 1956, hh.1-46.

Ir. J.L. Moens dalam karangannya "Crivijaya, Yava en Kataf," dalam TBG, deel 77, 1937, melokasikan Sriwijaya di Muara Takus yang terletak pada garis khatulistiwa, berdasarkan uraian I-tsing bahwa di Sriwijaya orang yang berdiri pada tengah hari tidak mempunyai bayang-bayang. Tetapi di Muara Takus tidak ada bukti arkeologis yang lebih kuat daripada di Palembang. Pernyataan I-tsing itu tidak harus berarti Sriwijaya pada lintang nol derajat, melainkan dapat ditafsirkan bahwa Sriwijaya terletak di sekitar khatulistiwa.

Palembang pun memenuhi syarat, sebab terletak pada posisi tiga derajat lintang lintang selatan (masih dekat dengan khatulistiwa). Patut diingat I-tsing biasa hidup di negeri China di mana bayang-bayang tengah hari cukup panjang. Dapat dipahami jika dia mengatakan di Sriwijaya (Palembang) tidak ada bayang-bayang tengah hari. Bahwa negeri Sriwijaya tidak terletak pada garis khatulistiwa, melainkan di selatan khatulistiwa, terbukti dari keterangan Al-Biruni yang mengatakan bahwa garis khatulistiwa terletak antara Kedah dan Sriwijaya (Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi Persia, mengunjungi Asia Tenggara tahun 1030 dan menulis catatan perjalanan Tahqiq ma li l-Hind (Fakta-fakta di Hindia). Paul Wheatley, h. 219, menerjamahkan keterangan Al-Biruni: "The equator runs between Kedah and Srivijaya).

Pada tahun 1854, atas perintah Menteri P & K Muhammad Yamin, Dinas Purbakala mengadakan penelitian geomorfologi pantai timur Sumatera. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa pada abad ketujuh Jambi dan Palembang masih terletak di tepi laut. Jambi mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam menguasai lalu lintas pelayaran. Kapal-kapal dari India, China, dan Jawa harus melewati Jambi, sedangkan Palembang hanya dilewati kapal-kapal yang berlayar antara Selat Malaka dan Jawa. Lagi pula, letak pelabuhan Jambi menghadap ke laut bebas, sedangkan pelabuhan Palembang hanya menghadap ke Selat Bangka.

Berdasarkan hasil penelitian itu, Dr. Sukmono dalam tulisannya "Tentang Lokalisasi Crivijaya," Laporan kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama, Jilid V, Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, Djakarta, 1958, cenderung melokasikan Sriwijaya di Jambi. Kiranya pendapat Dr. Sukmono ini terlalu tergesa-gesa. Meskipun Jambi lebih stategis. Tidaklah berarti Sriwijaya harus di Jambi, sebab tidak ada sumber sejarah yang mengatakan letak Sriwijaya strategis. Kata I-tsing, yang selalu disinggahi kapal-kapal adalah Melayu bukan Sriwijaya. Jadi hasil penelitian geomorfologi itu justru membuktikan Jambi sebagai lokasi negeri Melayu!

Sewaktu Kerajaan Sriwijaya baru berdiri pada pertengahan abad ketujuh, negeri itu hanya sering disinggahi pendeta-pendeta China untuk urusan keagamaan. Kata I-tsing, pendeta China yang ingin mempelajari ajaran Buddha di India sebaiknya berdiam dulu di Sriwijaya untuk berlatih (Takakusu, h. 34; Coedes, The Indianized States, h. 81). Ditinjau dari segi keagamaan Sriwijaya memang menonjol. Tetapi dari segi ekonomi dan perdagangan Sriwijaya tertinggal oleh Melayu dan Kedah yang letaknya strategis. Itulah sebabnya pada akhir abad ketujuh Sriwijaya melancarkan ekspansi teritorial untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis di Selat Malaka.

Ketika I-tsing pulang dari India tahun 685, dia mengatakan bahwa Kedah dan Malayu sudah menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya. Jelaslah bahwa dominasi Kerajaan Sriwijaya atas Selat malaka bukanlah karena letak ibukotanya strategis, melainkan karena kerajaan itu mampu menguasai pelabuhan Malayu dan Kedah. Kesimpulannya, ditinjau dari segi manapun (data arkeologi, uraian I-tsing, penelitian geomorfologi), tidak ada tempat lain yang cocok sebagai lokasi negeri Sriwijaya selain Palembang. Seperti kata prof, Oliver W. Wolters, "Srivijaya had its capital at Palembang and nowhere else. In support of this location, there is an impressive consistency between the epigraphic evidence and I-tsing's records" (Wolters, h. 208. Kesimpulan yang sama dikemukakan oleh Coedes, 1968, h. 92).

"Marwuat Wanua "
Banyak ahli sejarah yang mengartikan ungkapan "marwuat wanua" pada prasasti Kedukan Bukit dengan "membuat kota," sehinnga timbul anggapan bahwa pada tahun 682 Dapunta Hyang datang ke Palembang untuk membuat kota Sriwijaya. Padahal pada tahun 671 I-tsing telah singgah di Sriwijaya. Menurut Hsin-T'ang-shu (Sejarah Baru Dinasti Tang), Kerajaan Sriwijaya telah mengirimkan utusan ke China pada periode 670-673. Lihat: Paul Pelliot, "Deux Itineraires de Chine en Inde a la Fin du VIIIe Siecle," BEFEO, tome 4, 1904, h. 334. Hal ini berarti bahwa peristiwa "marwuat wanua" tahun 682 itu bukanlah menyatakan pembentukan negeri Sriwijaya.

Kata wanua memiliki arti ganda: kota (negeri) dan rumah (bangunan). Dalam beberapa bahasa daerah di Sumatera bagian Selatan, sampai sekarang kata wanua berarti "rumah," sering disingkat menjadi nua atau nuo. Prof. George Coedes, dalam karangannya Les Inscriptions malaises de Crivijaya tahun 1930, memberikan arti: wanua = pays, royaume, forteresse (kota, kerajaan, rumah pertahanan). Lihat Coedes, 1930, h. 77. ketika Van ronkel mula-mula menerjemahkan prasasti Kedukan Bukit, dia mengartikan wanua dengan fortress (rumah pertahanan). Lihat Van Ronkel, hh. 20-21. Jadi kata "marwuat wanua" dapat berarti "membuat kota atau "membuat rumah."

jika kita artikan membuat kota, kita terbentur pada kenyataan bahwa kota Sriwijaya sudah ada pada pada tahun 671. Maka satu-satunya pilihan adalah mengartikannya membuat rumah. Pada pecahan prasasti nomor D.161 yang ditemukan di Palembang, yang isinya serupa dengan isi prasasti Kedukan Bukit, tertulis.... wihara ini, di wanua ini (J.G. de Casparis, 1956, hh. 14-15). Jelaslah bahwa wanua (rumah) yang dibuat Dapunta Hyang tahun 682 adalah sebuah wihara (rumah peribadatan).

Persoalan Minanga
Prasati kedukan Bukti mengatakan pada tanggal 7 Jesta 604 (19 Mei 682) Dapunta Hyang berangkat (marlapas) dari Minanga. Oleh karena dia meninggalkan Minanga dengan tentara yang bersukacuta, mudahlah disimpulkan bahwa Minanga merupakan daerah yang baru saja ditaklukan Sriwijaya. Mereka berangkat dari Minanga dengan sukacita--karena baru menang perang--untuk kembali ke ibukota di Palembang.

Di manakah letak Minanga? Anggapan para penyusun Sejarah Nasional Indonesia Jilid III bahwa Minanga terletak di pertemuan Sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan bersumber pada pendapat prof. Dr. R.M.Ng. Purbatjaraka dalam Riwayat Indonesia, I, Jajasan Pembangunan, Djakarta, 1952, h. 35. Alasannya "tamwan" berasal dari kata "temu," lalu Purbatjaraka menafsirkannya "daerah tempat sungai bertemu." Mengapa harus di Kampar, Purbatjaraka tidak memberikan alasan. Pendapat ini dibantah dengan jitu oleh Prof. Dr. J.G. de Casparis yang membuktikan bahwa "tamwan" tidak ada hubungan dengan "temu," sebab kata yang terakhir ini sudah dipakai pada zaman Sriwijaya.

Dalam prasasti Talang Tuwo terdapat enam buah kata temu" (J.G. de Casparis, 1956, h. 13). Penelitian para ahli bahasa mengatakan bahwa kata "tamwan" pada prasasti Kedukan Bukit bukanlah nama tempat, melainkan kata biasa yang sekarang menjadi "tambahan," sebagaimana kata wulan, seribu, wanyak dan marwuat menjadi bulan, seribu, banyak dan membuat. Pendapat Dr. Buchari yang menyatakan Minanga adalah Batang Kuantan (minanga = muara = kuala = kuantan) juga perlu diragukan. Kata "minanga" tidak ada hubungan dengan "muara," sebab kata "muara" juga sudah dipakai pada zaman Sriwijaya. Pada pecahan prasasti A baris ke-16 yang ditemukan di Palembang terdapat kata "muara.' Lihat: J.G. de Casparis, 1956, h. 5.

Buchari sendiri mengakui bahwa di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis yang menunjang pendapatnya, dengan mengatakan (1979, h. 28), "Memang di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis. Tapi kan di sana belum diadakan penggalian? Siapa tahu nanti ada kejutan di sana.

Untuk menetapkan daerah yang cocok bagi lokasi Minanga, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:

(1). Daerah tersebut namanya mirip dengan Minanga.

(2). Daerah itu menurut prasasti Kedukan Bukit berjarak kira-kira sebulan pelayaran dari Palembang.

(3). Daerah itu lokasinya strategis mengingat ekspansi Sriwijaya bertujuan menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan.

(4). Pada daerah itu terdapat peninggalan arkeologis yang membuktikan bahwa daerah itu pernah berperan dalam sejarah.

Kiranya daerah yang cocok bagi pelokasian Minanga adalah Binanga yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur, seperti pendapat Dr. Slamet Mulyana. Daerah Binanga memenuhi persyaratan dari segala aspek:

1. Pada abad ketujuh Binanga masih terletak di tepi laut

2. Tempat itu ideal untuk mengawasi lalu lintas Selat Malaka.

3. Tempat itu dapat digunakan batu loncatan oleh armada Sriwijaya untuk menyerang Semenanjung. Seperti dikatakan I-tsing, pada tahun 685 (tiga tahun setelah penaklukan Minanga, 682) Kedah sudah ditaklukan Sriwijaya.

4. Di daerah Padang Lawas, dekat Binanga, sampai kini terdapat biaro (wihara) Bahal, Sitopayan dan Sipamatung. Ini berarti Binanga pernah berperan dalam sejarah.

5. Perubahan nama Minanga menjadi Binanga sangat mungkin terjadi, sebab fonem m dan b sama-sama huruf bibir (bilabial). Kata mawa dan marlapas pada prasasti Kedukan Bukit kini berbah menjadi bawa dan berlepas (berangkat).

Kesimpulan:
Berdasarkan seluruh uraian di atas, isi prasasti Kedukan Bukit dapat ditafsir sebagai berikut:

Pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682) raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu dari tempat untuk bergabung dengan tentaranya yang baru saja menaklukan Minanga (Binanga).

Lalu pada tanggal 7 Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang memimpin laskarnya meninggalkan Minanga untuk pulang ke ibukota. Mereka bersukacita karena pulang dengan membawa kemenangan. Mereka mendarat di Muka Upang, sebelah timur Palembang, lalu menuju ibukota

Kemudian pada tanggal 5 Asada (16 Juni) Dapunta Hyang menitahkan pembuatan sebuah wanua (bangunan) berupa wihara di ibukota sebagai manifestasi rasa syukur dan gembira. Boleh dipastikan bahwa pembuatan Taman Sriksetra pada tahun 606 Saka (684 Masehi), sebagaimana tercantum pada prasasti Talang Tuwo, masih merupakan rangkaian manifestasi rasa gembira akibat suksesnya siddhayatra (ekspedisi militer) dua tahun sebelumnya,

Oleh karena itu isi prasasti Kedukan Bukit (jugaprasasti Talang Tuwo) menceritakan peristiwa penting dalam perkembangan Kerajaan Sriwijaya, sudah sewajarnya prasasti itu ditempatkan di ibukota kerajaan. dengan demikian, prasasti Kedukan Bukit memperkuat bukti bahwa pusat pemerintahan Sriwijaya berlokasi di Palembang.

Ditulis oleh: Nia Kurnia Sholihat Irfan dalam http://irfananshory.blogspot.com

Penulis adalah alumnus Jurusan Sejarah FKIS IKIP (sekarang FP-IPS UPI) Bandung tahun 1980 dengan artikel "Kerajaan Sriwijaya" yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Girimukti Pasaka, Jakarta, 1983.

Jembatan Ampera, Mahakarya Anak Negeri

Jembatan Ampera

Jembatan Ampera yang terletak di tengah Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), dan membentang di atas Sungai Musi, merupakan jembatan kebanggaan warga Sumsel, khususnya wong Palembang, bahkan rakyat Indonesia secara umum.

Jembatan ini menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Mahakarya anak negeri ini telah menjadi semacam ikon kota (icon of the city). Jadi tak heran jika seseorang datang ke Palembang merasa tidaklah lengkap kalau belum melihat dari dekat atau berpose di jembatan ini.

Sebagai sarana penghubung, keberadaan Jembatan Ampera sangat penting sekali artinya, bahkan boleh dikatakan sangat vital, bagi sebagian besar warga masyarakat kota Palembang.

Warga yang memanfaatkan jembatan ini tiap hari terus bertambah, seiring dengan terus meningkatnya populasi penduduk dan derasnya pertambahan jumlah kendaraan.

Setiap hari, ratusan ribu warga yang ingin melakukan aktivitas rutin mereka, baik yang berjalan kaki maupun dengan kendaraan, melintas di atas jembatan ini.

Tak heran jika Jembatan Ampera kini rawan terjadi kemacetan arus lalu lintas, terutama pada jam-jam sibuk.

Meski telah “berumur” namun jembatan berkonstruksi baja ini tetap kokoh. Kendati demikian Pemerintah Provinsi Sumsel berencana membangun jembatan baru sebagai solusi mengatasi kemacetan arus lalu lintas yang diprediksi akan semakin parah.

Jembatan tersebut rencananya diberi nama Jembatan Musi III. Setelah itu juga direncanakan dibangun Jembatan Musi IV.

Jembatan Ampera dibangun pada masa pemerintahan Soekarno, tepatnya bulan April 1962. Dananya berasal dari hasil pampasan perang pemerintah Jepang. Tenaga ahlinya pun didatangkan dari Jepang.

Saat diresmikan pada Mei 1965, Jembatan Ampera diklaim sebagai jembatan terbesar di Asia Tenggara. Total panjang jembatan mencapai 1.177 meter (3.665 kaki), lebar 22 meter (72 kaki), tinggi 63 meter (207 kaki), dan bentang utama 75 meter (246 kaki).



Ide pembangunan Jembatan Ampera sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang yaitu pada tahun 1906. Tujuannya untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir.

Tahun 1924, saat Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, ide ini dimunculkan kembali. Berbagai usaha dilakukan untuk merealisasikannya. Namun sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.

Setelah merdeka, tepatnya pada sidang pleno 29 Oktober 1956, DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan tersebut. Kala itu disebut Jembatan Musi dengan merujuk nama Sungai Musi yang dilintasinya.

Tahun 1957 dibentuk panitia pembangunan yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, HA Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M Ali Amin, dan Indra Caya.


Ampera Dibangun

Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu. Bung Karno pun setuju dengan syarat di kedua ujung jembatan dibangun taman terbuka (boulevard).

Awalnya jembatan ini dinamai Jembatan Bung Karno, dengan alasan sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Tahun 1966 diubah menjadi Jembatan Ampera, singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Perubahan dilakukan menyusul kuatnya gerakan anti-Soekarno.

Dulu, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat di bawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh bagian tengah jembatan selama 30 menit.

Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah jembatan hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.

Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Apalagi dengan kondisi jumlah kendaraan saat ini. (SUDARWAN)

Sriwijaya Post – Kamis, 12 Mei 2011 22:43 WIB

Bahasa Jawa, Arab, Melayu di Palembang

Keraton Kesultanan Palembang berkomunikasi dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Jawa, Arab, dan Melayu. Bahasa melayu hidup di kawasan ini jauh sebelum Kesultanan berdiri dan di yakini sebagai bahasa masyarakat asli. Tertulis dengan huruf pallawa, bahasa Melayu di gunakan dalam Prasasti Kedukan Bukit (682 M). Prasasti yang ditemukan ditepi Sungai Tatang, sebelah barat Kota Palembang, pada tahun 1920, menandai berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Berbagai temuan sejarah Kerajaan Sriwijaya, termasuk arca dan stupika, menunjukkan bahwa Sriwijaya menjalin kerjasama serta berkomunikasi erat dengan para saudagar dan pemuka agama dari China, India, dan Arab. Hal itu membuktikan bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan yang besar, berpengaruh, dan diperhitungkan. Sriwijaya memiliki rentang wilayah kekuasaan yang luas, meliputi hampir seluruh Sumatera, Semenanjung Malaka, dan Jawa. Setelah keruntuhan Sriwijaya, pada abad ke - 14, Palembang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Namun, kekuasaan Majapahit tidak mengakar dikawasan ini. Majapahit sendiri duguncang perang saudara, tak lama berekspansi ke pulau Sumatera. Palembang nyaris menjadi daerah tak bertuan, hingga kekuasaan baru di bangun Ki Gede Ing Suro bersama para pengikutnya. Kelompok bangsawan ini menyingkir ke Palembang, setelah kalah dalam perseteruan Kesultanan Demak di Jawa Tengah.

Kontinuitas kultural Jawa tertanam sebagai dasar legitimasi Keraton Palembang. Budayawan Palembang, Djohan Hanafiah mencatat, keterkaitan politik ini berakhir setelah Sultan Abdurrahman (1659-1706) memproklamasikan Kesultanan Palembang pada tahun 1675. Jeroen Peeteers dalam Kaum Tuo Kaum Mudo, perubahan religius Palembang 1821-1942 (1997) memaparkan, dikalangan Keraton, Bahasa Jawa Kromo (bahasa Jawa halus) menjadi bahasa resmi. Akan tetapi, pemakaian bahasa ini tidak tersebar luas diluar lingkungan Keraton Palembang.

Merujuk pada sejumlah naskah berbahasa Jawa yang tersimpan di Royal Asiatic Society, Londo, Peeteers menyakini naskah-naskah tersebut juga hanya beredar dilingkungan keraton. Beberapa naskah berbahasa Jawa ini antara lain Teks Panji (1801) yang ditulis atas perintah Sultan Ahmad Najamuddin. Kesultanan Palembang Darussalam menjadikan agama Islam sebagai dasar negara. Oleh karena itu, ulama mendapatkan penghormatan sangat tinggi Sultan yang berkuasa. Mujib Ali dalam tulisan Pemilihan Ulama Kesultanan Palembang (1997), mengungkapkan penelitiannya bahwa ulama Kesultanan yang mendampingi dan menjadi penasehat Sultan selalu dimakamkan ditempat, bilik, dan deretan yang sama dengan sultan.

Pada makam Kesultanan di Candi Walang, Palembang misalnya, makan susuhan abd 'I-Rahman Khalifat 'I Mukminin Sayyid 'I Imam diapit makam permaisuri dan dan makam Imam Sultan bernama Sayyid Mustafa Alaidrus dari negeri Yaman. Penataan serupa terdapat pula pada makam-makam Sultan yang lain di Kebon Gede, Kawah Tengkurep, dan Kampung 1 Ilir.

Selain didampingi ulama, Sultan juga memiliki juru tulis khusus untuk penulisan bahasa Arab. Bahasa dan tulisan Arab digunakan dalam kitab-kitab utama pengajaran Islam di Palembang, termasuk naskah yang berkaitan dengan tasawuf dan tafsir. Sebagian naskah-naskah keagamaan yang ditemukan, merupakan kitab yang langsung dibawa dari Arab. Sebagian lainnya disalin dengan ketelitian yang tinggi di Palembang.

Akan tetapi, seperti bahasa Jawa Kromo yang hanya di kuasai oleh kalangan bangsawan, bahasa Arab juga lebih dikuasai para guru atau kalangan ulama. Sejumlah naskah keagamaan menggunakan bahasa Arab dilengkapi dengan terjemahan bahasa Melayu, walaupun tetapdi tulis dengan huruf Arab. Naskah-naskah sastra, antara lain hikayat yang berbentuk prosa maupun syair, serta berbagai kisah dalam naskah-naskah pada masa Kesultanan lebih banyak ditulis dengan tulisan Arab dalam bahasa Melayu (Arab Melayu). Kegiatan surat-menyurat, antara laindari Gubernur Batavia juga ditemukan dalam bahasa Arab Melayu.

Djohan Hanafiah dalam bukunya Masjid Agung, Sejarah dan Masa Depan (1988) menyebutkan, Abdul Samud Al-Palembani (1704-1788) adalah salah satu penulis keagamaan yang paling menonjol pada masa Kesultanan. Palembani menuntut ilmu di Mekkah dan belajar tarikat pada Muhammad Al-Saman di Madinah. Sebagian karya Palembani ditulis ketika ia masih berada dinegeri Arab. Karya-karya Palembani antara lain, Hikayat Al-Salikin dan Syair Al-Salikin yang merupakan terjamahan karya Al-Ghazali. Disamping dua kitab berbahasa melayu tersebut, terdapat pula Zahrat al Murid fi bayan al Tauhid, dan lima kitab keagamaan lainnya dalam bahasa Arab.

Sebagian buku-buku Al-Palembani merupakan naskah yang masih tersimpan diberbagai perpustakaan, antara lain di Perpustakaan Museum Nasional Jakarta, Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, dan Russian Institute of Oriental Studies di Leningrand Rusia. Mujib menjelaskan, naskah "favorit" Sultan Mahmud Badaruddin II yang ia temukan dalam penelitian adalah Mir'atu at Tulab karya Ar-Raniri. Penelitian pada kantor Deputi urusan Arkeologi inimenjelaskan, kitab ini berisikan pedoman pelaksanaan tata pemerintahan kesultanan.

KOMPAS

Thursday, 4 October 2012

Misteri Makam Buyut Silaberanti



Namanya Siti Zaleha, Peziarahnya Kebanyakan Warga Tionghoa?
Diujung jalan Silaberanti terdapat sebuah makam tua yang usianya diperkirakan mencapai 200 tahun. Makam ini dipanggil masyarakat dengan sebutan makam buyut Silaberanti. Tak banyak catatan sejarah terkait makam tersebut. Hanya saja, buyut tersebut diyakini bernama Siti Zaleha. Banyak warga dari luar kota datang berziarah. Anehnya, kebanyakan mereka adalah warga Tionghoa.

Perjalanan menempuh makam buyut Silaberanti terasa cukup sulit. Ketika koran ini mencari makam tersebut Rabu sore (11/1), masuk dari Gang Slamet diujung jalan Silaberanti, Kelurahan Silaberanti, Kecamatan SU I, air setinggi mata kaki sudah menghadang.

Sebelum mencapai makam, pada sebuah jalan tanah, air sudah meninggi hingga batas dengkul. Bukan saja masalah hujan membuat air masuk ke jalan. Rupanya, makam tersebut berada di pinggir sungai Aur. Air dari anak sungai Musi inilah yang meluap hingga ke jalan.

“Musim hujan seperti ini tiap sore air (sungai,red) pasang. Jadi jalan terendam. Kalau pagi, airnya surut. Jalannya terlihat kok,” ungkap seorang warga.

Ketika air pasang, yang terlihat, makam ibaratnya seperti berada diatas air. Selain berada di bibir sungai, makam tersebut juga dikelilingi rawa yang terendam air.

Dibagian teras depan makam terlihat kotor oleh lumpur sungai. Namun di bagian dalam tampak bersih terawat. Selain terawat, lantainya di keramik.

Nah, sang penjaga makam, bernama Hasan (56) akrab dipanggil Mang Hasan. Kondisinya sangat memprihatinkan. Pria asal Jawa ini sejak kecil tidak bisa melihat. Pendengarannya pun sedikit terganggu. Bicaranya dengannya harus dengan suara extra keras.

Sebatas Cerita Tutur
Tak banyak didapat dari mulut Mang Hasan seputar sejarah buyut Silaberanti. Apalagi, dirinya termasuk baru menjadi kuncen. Sejak tahun 2006 lalu.

Bukanya karena mendapat wangsit, atau diturunkan dari orang tuanya seperti penjaga makam pada umumnya, Mang Hasan mengaku menjadi kuncen karena terpanggil untuk merawat. Karena setelah penjaga makam sebelumnya meninggal, tidak ada orang yang merawat makam tersebut.

Tak seperti kuncen lain yang sekedar menjadi penjaga, Mang Hasan tampaknya sekalian tinggal dalam makam. Aktivitas makan, minum dan tidurnya tampaknya berada dalam makam tersebut.

Meninggal tahun 1811. Itulah yang pasti diketahui Mang Hasan dari orang dalam makam tersebut. Ketika kecil, ia pernah melihat langsung tulisan pada batu nisan yang menerangkan tahun meninggalnya sang buyut. Lain dari keterangan tersebut yang disampaikan Mang Hasan hanya didapat dari keterangan dari mulut ke mulut (cerita tutur, red).

Apa saja? Seperti nama, dikatakannya Siti Zaleha. Siapa Siti Zaleha hingga kini menjadi misteri. Dari namanya diyakini ia sebagai muslim. Bahkan seorang muslim yang taat beragama, suka menolong sesama, membuatnya hingga kini dihormati.

Itu terlihat dari orang-orang yang datang berziarah ke makam. Layaknya kebanyakan makam keramat, tentu saja orang datang meminta kepada sang pencipta. Hanya saja melalui makam tersebut, diyakini cepat terkabul.

Anehnya, warga Palembang sendiri tak banyak berziarah. Keterangan Mang Hasan, ditambah Ruslan (56) yang sejak tahun 1960 tinggal di dekat makam, orang luar malah banyak menziarahi makam buyut Silaberanti.

Mereka berdatangan dari Baturaja, Muara Enim, Sungai Lilin, Jambi hingga pulau Jawa. Dari keterangan Ruslan yang banyak berbincang dengan peziarah mereka umumnya seperti mendapat pesan atau panggilan. Entah melalui mimpi atau bisikan, mereka diminta datang berkunjung. Untuk berobat dan ragam keperluan lain. Itu terjadi sejak dirinya masih kecil hingga berkepala lima saat ini.

Tanda tanya besar karena makam ini banyak dikunjungi oleh warga keturunan Tionghoa. Memang banyak meyakini Siti Zaleha ini merupakan warga keturanan. Alasannya banyak orang-orang Tionghoa yang secara rutin (tiap tahun) mengunjungi makam tersebut.

Anehnya, sebelum mengunjungi makam Siti Zaleha, mereka terlebih dulu mendatangi makam perempuan bernama Siti Fatimah di Pulau kemarau. Dari rangkaian inilah, warga sekitar menyakini jika Siti Zaleha merupakan saudara Siti Fatimah.

Tak Dikenal Tokoh Masyarakat Tionghoa
Cerita ini tentu saja masih perlu banyak dikaji. Apalagi sosok Siti Fatimah, putri Raja asal Palembang hanya dikenal sebatas legenda.

Apalagi, seputar banyaknya warga Tionghoa berziarah ke makam buyut Silaberanti, ternyata malah tidak diketahui para tokoh masyarakat Tionghoa di Palembang. Ketika koran ini menghubungi Fauzi Thamrin, yang kini menjadi Dewan Kehormatan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), ia baru mengetahui tentang makam tersebut. Begitupun Harun SE SH MH, Humas Tri Dharma Komda Sumsel.

Pun begitu, cerita seputar misteri makam buyut Silaberanti sudah mengakar pada warga sekitar. Dari cerita warga, sejak dulu aroma mistis selalu menyertai. Cerita Ruslan, ketika kecil terdapat sebuah lubang pada makam tersebut. Orang berziarah yang memasukan tangannya ke lubang tersebut, akan mendapatkan hal yang berbeda.

“Ada yang dapat bunga pertanda baik. Kalau jelek, mereka masukin tangan dapat buntang tikus atau ular pertanda buruk. Ada juga tongkat dalam makam tersebut. Tongkat itu kalau diukur oleh peziarah panjangnya berubah. Kadang memanjang, bisa juga memendek. Sekarang, lubang serta tongkat itu sudah hilang,” ujar Ruslan.

Selain itu, ketika kecil, ketika sungai Aur masih lebar, Ruslan mengaku pernah melihat buaya putih diyakininya sebagai penjaga makam buyut Silaberanti. “Buaya putih itu aku lihat berkelahi dengan buaya biasa. Sekarang tidak nampak lagi karena sungai aur sudah menyempit,” tandasnya.

Lain dari itu, cerita seorang warga dulu ketika belum banyak perumahan di sekitar makam, banyak monyet berada di sekitar makam. Ketika rumah penduduk mulai dibangun, monyet-monyet tersebut pergi. Itu pun ke makam Ratu Bagus Kuning kawasan Plaju.

“Tahun 2005 dan 2010 lalu ketika ada banjir besar, ada monyet besar mungkin dari makam Ratu Bagus Kuning datang ke kampung kami. Monyet itu datang sebelum terjadinya banjir,” ungkap salah seorang warga.

Nama jalan Silaberanti sendiri diyakini berasal dari sang buyut. Yang ketika meninggal tengah duduk bersila. “Sila artinya bersila. Beranti itu tengah berhenti. Dari orang-orang tua, buyut ini merupakan putri yang merantau dan tiba di Palembang tempatnya dimakamkan sekarang bersama panglima dan pengawalnya. Salah satu makam disamping buyut itu kami tahu seorang Panglimanya. Dia meninggal waktu bersila ditambah beranti biar warga luar itu mampir, sehingga jadi silaberanti,” tandas warga tersebut. (wwn)

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *



Written by: Samuji Selasa, 17 Januari 2012 12:00 | Sumeks Minggu

Tuesday, 2 October 2012

Patenkan Tarian Asli Mura


DIPATENKAN: Salah satu tarian asal Bumi Musi Rawas yang akan dipatenkan ke HAKI Sumsel

MUSI RAWAS - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Mura akan mengajukan tari Silampari dan Piring Gelas sebagai tarian asli Mura ke Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Sumsel.

“Tapi, memang tak gampang melakukan proses hak paten, bisa-bisa memakan waktu tiga sampai empat tahun,” kata Kepala Disbudpar Mura Yamin Fabli melalui Kabid Kebudayaan Drs Hamam Santoso.

Dikatakannya, masih ada ada beberapa tarian khas Mura yang belum terdata. “Kita akan terus berupaya mencari tahu dan melakukan pendataan agar nantinya tarian tersebut akan menyusul untuk dipatenkan sebagai kekayaan budaya, khususnya kesenian,” jelasnya.

Disbudpar berusaha melestarikan khazanah kesenian Mura, khusunya tari Silamparai dan Piring Gelas pada kalangan remaja. “Sehingga seni tari khas Mura dapat dilestarikan dan dikenal hingga ke level internasional,” ujarnya.

Selain tarian, Disbudpar juga akan mengajukan hak paten untuk 70 lagu kesenian Mura. Di antaranya lagu berjudul Lakitan, Ngarap, Cacam Bate, Layang Estede, dan Mangun Dusun.

Tokoh Pemuda Mura Taufik mengatakan, kesenian harus terus dilestarikan jangan sampai diklaim negara lain. “Generasi muda sekarang harus ingat adat istiadat yang ada. Minimal paham dan tahu, jangan sampai dicaplok orang lain. Untuk itu, generasi muda harus ikut melestarikan kebudayaan dan kesenian, khususnya Mura,” pungkasnya. (wek/ce5)

Sumatera Ekspres, 3 Oktober 2012

Mengenal Dewi Kwan Im

Mengenal Dewi Kwan Im

Oleh : Florencia Marcelina Ramadhona

Setiap perayaan Tahun Baru Imlek, puluhan ribu warga Tionghoa di Palembang merayakannya di klenteng Dewi Kwan Im, 10 Ulu, Palembang. Lalu, tahukah Anda siapa Dewi Kwan Im itu?

Kwan Im adalah penjelmaan Buddha Welas Asih di Asia Timur. Kwan Im sendiri adalah dialek Hokkian yang dipergunakan mayoritas komunitas Tionghoa di Indonesia. Nama lengkap dari Kwan Im adalah Kwan She Im Phosat yang merupakan terjemahan dari nama aslinya dalam bahasa Sanskrit, Avalokite?vara.

Dalam bahasa Jepang, Kwan Im disebut Kannon’ atau secara resmi Kanzeon. Dalam bahasa Korea disebut Gwan-eum atau Gwanse-eum, dan dalam bahasa Vietnam Quán Âm atau Quan Th? Âm B? Tát.

Avalokitesvara sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki di India, begitu pula pada masa menjelang dan selama Dinasti Tang (tahun 618-907). Namun pada awal Dinasti Sung (960-1279), berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita yang kemudian dilukis oleh sejumlah seniman. Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita lebih jelas pada masa Dinasti Yuan (1206-1368). Sejak masa Dinasti Ming, atau berkisar pada abad ke 15, Kwan Im secara menyeluruh dikenal sebagai wanita.

Kwan Im pertama diperkenalkan ke Cina pada abad pertama SM, catat Wikipedia, bersamaan dengan masuknya agama Buddha. Pada abad ke-7, Kwan Im mulai dikenal di Korea dan Jepang karena pengaruh Dinasti Tang. Pada masa yang sama, Tibet juga mulai mengenal Kwan Im dan menyebutnya dengan nama Chenrezig. Dalai Lama sering dianggap sebagai reinkarnasi dari Kwan Im di dunia.

Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih (“Dewi Welas Asih”). Di kemudian hari, Beliau identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara.

Pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah:

• “Avalokita” (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah (“Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (Sansekerta:lokita)).

• Kata “Isvara” (Im / Yin), berarti suara (suara jeritan mahluk atas penderitaan yang mereka alami).

Kwan Im sebagai seorang Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon. Dalam perwujudannya sebagai pria, beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biauw Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 (tiga puluh) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol dari Bodhisattva yang mempunyai kekuasaan besar.

Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Pho To San) di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai “Buddha Vairocana”, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie*), salah satu Klenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im (Koan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia). Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatnya.

Beberapa Legenda Dewi Kwan Im


Mengenal Dewi Kwan Im

Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal-usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab Hong Sin Yan Gi / Hong Sin Phang (“Penganugerahan Dewa”) disebutkan bahwa sebelum ia dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, ia dikenal dengan nama Chu Hang. Ia merupakan salah satu murid dari Cap Ji Bun Jin (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).

Selain itu, menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada zaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM.

Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang, tulis Wikipedia, sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan). Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Ia malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhikuni di Klenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).

Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya. Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.

Setelah kematianNya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia.

Secara ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga. Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Buddha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Buddha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

Sembilan tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat. Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat. Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong.

Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan. Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti ketiga putrinya sangat luar biasa. Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Buddha.

Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan. Buddha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan. Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya. Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka.

Ia berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis. Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, di antaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping.

Buddha O Mi To Hud (Amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan “Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia.

Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa). Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala” dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau “Jejaka Emas”.

Pada mulanya, Long Ni adalah cucu dari Raja Naga (Liong Ong), yang diberi tugas untuk menyerahkan mutiara ajaib kepada Kwan Im, sebagai rasa terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Namun ternyata Long Ni justru ingin menjadi murid Kwan Im dan mengabdi kepadaNya. Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda. Versi pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Buddha. Ia ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik.

Versi lain dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya.

Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai. Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.

Dalam sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 (tiga puluh tiga) rupa perwujudan Kwan Im Pho Sat, antara lain : 1. Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera; 2. Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga; 3. Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu; 4. Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri; 5. Kwan Im Berdiri Membawa Anak; 6. Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera; 7. Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu; 8. Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.

Selain perwujudan Beliau yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain. Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan .Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.

Sumber: beritamusi.com

Monday, 1 October 2012

Kambang Iwak



Kolam Retensi Pertama Peninggalan Belanda
Terhubung Dengan Terowongan Bawah Tanah, Tembus ke Sungai Musi? Kambang Iwak (KI) yang selama ini dikenal masyarakat Palembang sejatinya sekedar kolam retensi. Tempat pembuangan air pada sebuah pemukiman dan kini banyak bertebaran di sudut kota. Namun, kolam yang dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda ini, diyakini memiliki banyak kelebihan. Salah satunya terhubung dengan terowongan bawah tanah dan tembus ke sungai Musi. Benarkah?

Ditinjau dari kacamata sejarah, mungkin tidak banyak hal menarik dari KI. Paling tidak itu disampaikan secara tersirat oleh Kemas Aripanji SPd MSi, Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Sumsel.

Kepada Sumeks Minggu, Aripanji yang juga dosen Fakultas Adab IAIN Raden Fatah menilai, berdasarkan fakta sejarah, KI merupakan bagian dari pemukiman Belanda. Dibangun di kawasan Talang Semut, Bukit Kecil awal abad ke-20 lalu.

Pemukiman tersebut dirancang dekat dengan pusat pemerintahan, kantor ledeng. Itulah sebabnya, yang bisa dilihat hingga kini, perumahan di kawasan tersebut masih banyak menyisakan arsitektur Kolonial. Termasuk beberapa gereja tua yang memang dibangun pada masa penjajahan.

Yang menonjol, rumah dinas Walikota di Jl Tasik sebelah KI yang dulunya bekas rumah Residen Belanda. Dibawah tahun 1960, Rumah Dinas Walikota ini sempat juga menjadi tempat kuliah dengan nama Perguruan Tinggi (PT) Sjakhyakirti, yang merupakan cikal bakal terbentuknya Universitas Sriwijaya (Unsri).

“Dulu nama jalan di kawasan Talang Semut menggunakan nama-nama Belanda. Sejak zaman kemerdekaan memang sudah dirubah,” ujar Aripanji dibincangi, Rabu malam (30/11) lalu.

Hal berbeda didapat koran ini ketika berbincang dengan Kepala Badan Lingkungan Hidup Palembang, Ir Kms Abubakar. Dimintai komentarnya masalah KI, pria yang dikenal concern menjaga kualitas lingkungan di metropolis langsung terlihat interest.

Karena pria berkacamata ini melihat KI dari sisi tata ruang, kualitas lingkungan yang hingga kini tidak bisa ditandingi oleh pemukiman lain di metropolis.

Ikuti Pasang Surut Sungai Musi
Dibincangi koran ini di ruang kerjanya, Kamis (1/12) lalu, blak-blakan Abubakar memberikan acungan jempol terhadap rancangan tata ruang oleh pemerintah Belanda. Menurutnya, konsep dibangun kolonial membangun kawasan Talang Semut dirancang sedemikian rupa. Dengan teknologi kala itu yang termasuk tinggi dan perhitungan mendetail, kawasan tersebut sengaja dibangun dan dipersiapkan hingga puluhan tahun ke depan.

Hasilnya, tanah serta perumahan di kawasan tersebut mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Jauh dibanding pemukiman lain. Selain tata ruang, lingkungan yang mengedepankan penghijauan membuat nilai kawasan membumbung tinggi.

“Yang namanya perumahan, kalau sudah ada embel-embel green (hijau, red) itu harganya pasti tinggi. Yang bisa menyaingi Kambang Iwak, itu cuma perumahan Ciputra yang kawasanya masuk Palembang dan Banyuasin. Perumahan Ciputra itu, ruang hijaunya mencapai 68 persen. Kalau KI, sejak awal dibangun, ruang hijaunya mencapai 70 persen,” ungkap Abubakar panjang lebar.

Dengan tingginya ruang terbuka hijau dimiliki KI, hingga kini kawasan tersebut menjadi pusat percontohan. Bahkan, dua kali tercatat KI dianugerahi Taman Kota Terbaik di Indonesia. Itu terjadi tahun 2008 serta 2010 lalu.

Keunikan lain dimiliki KI, ternyata naik turunya permukaan air berhubungan dengan pasang surut sungai Musi. Sejak lama diperhatikan, Abubakar melihat tiap kali sungai Musi pasang, permukaan air KI ikut naik. Sungai Musi turun, permukaan KI ikutan turun.

Apa hubunganya? Dikatakan Abubakar dari cerita masyarakat yang pernah didengarnya, pembuangan air di KI dihubungkan oleh terowongan bawah tanah ke sungai Musi.

Hingga kini, Abubakar sendiri mengaku belum pernah melihat terowongan tersebut. Namun, ia sangat menyakini adanya terowongan tersebut.

“Kalau dicari pasti ada. Soalnya memang KI berhubungan dengan sungai Musi. Lihat saja teori Archimides. Ketika dua permukaan diisi dengan air, tinggi air akan sama. Ini yang terjadi pada KI dan sungai Musi,” jelasnya. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 06 Desember 2011 12:25 | Sumeks Minggu