Monday, 15 October 2012

Target Keruk Satu Juta Lumpur

Pada tiga Lokasi di Muara Musi

PALEMBANG -- Administrator Pelabuhan (Adpel) Palembang pasang target mengeruk satu juta meter kubik lumpur yang berada di dasar muara Sungai Musi. Ada tiga lokasi pengerukan, yakni ambang luar C2, C3, dan selat Jaran.

Pengerukan menggunakan kapal TSHD Perintis 2000 dan TSHD Inai Kesuma. “Kami mampu mengeruk lumpur satu juta meter kubuk pada tiga lokasi tersebut. Kapal Perintis 2000 mampu mengeruk sekitar 18.150 meter kubik per hari, sedang kapal TSHD Inai Kesuma 11.550 meter kubik,” kata Bakri, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengerukan Sungai Musi, kemarin ( 11/10).

Kapal Perintis 2000 melakukan penghisapan lumpur di dasar Selat Jaran. Lumpur yang didapat lalu diangkut ke dumping area (lokasi pembuangan, red) yang berjarak sekitar 6 km. Lumpur campur pasir itu dibuang dengan sistem open buttom (buka tutup, red) pada bagian bawah kapal.

“Hanya dibutuhkan waktu sekitar lima menit saja, seluruh lumpur yang disedot bisa langsung terbuang,” jelas Bakri. Sementara, kapal TSHD Inai Kesuma melakukan pengerukan di ambang luar Sungai Musi C2 dan C3. Prosesnya menerapkan cara yang sama, hanya pembuangan lumpurnya dengan sistem pompa. Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk seluruh lumpur dibuang dari kapal.

Proyek pengerukan ini diperkirakan rampung 30 Oktober mendatang. Jika pekerjaan ini selesai, kedalaman ambang luar C2 dan C3 serta Selat Jaran bisa mencapai 6-7 meter saat posisi air surut. “Kapal berukuran draf tujuh bisa melintasi alur pelayaran tersebut,” ucapnya.

Dari hasil survei yang dilaksanakan Adpel setiap tahunnya, diketahui ada beberapa titik alur pelayaran yang dangkal. Di antaranya, ambang luar Sungai Musi (C2 dan C3), utara dan selatan Payung, penyeberangan Upang, Selat Jaran, Muara Kumbang serta Sungai Lais.

Sebenarnya, kata Bakri, pelaksanaan pengerukan tersebut tidaklah optimal untuk mengatasi masalah sedimentasi di muara Sungai Musi. Pasalnya, sedimentasi di muara Sungai musi sebagai lokasi pertemuan arus Sungai Banyuasin dan Sungai Musi sangatlah tinggi.

“Diperkirakan, tingkat sedimentasinya mencapai 20 cm per bulan. Artinya, bila pengerukan dilakukan satu tahun sekali, pendangkalannya sekitar 2, 4 meter,” bebernya. Karena itu, sudah semestinya Adpel Palembang memiliki kapal keruk sendiri sehingga pengerukan alur pelayaran bisa dilakukan lebih sering. ”Harga kapal keruk sangat mahal sehingga jumlah yang ada sekarang sangat minim,” tambahnya. Sementara itu, Kasubdit Pengerukan Ditjen Perhubungan Laut, Ir Erlan Abbas MM mengatakan, hari ini pihaknya berencana akan meninjau pelaksanaan pengerukan ketiga lokasi tersebut. (yud/ce2)

Sumatera Ekspres, Jumat, 12 Oktober 2012

Sunday, 14 October 2012

River Side Resto Terapung di Tepi Musi

River Side Resto

Restoran ini bukan hanya terapung, tapi juga menyediakan kapal motor yang bisa disulap menjadi tempat makan prasmanan. Lengkap dengan sebuah dermaga kecil yang akan mengantar pengunjungnya berwisata air di sekitar Musi.

Rasanya tidak sempurna jika jalan-jalan ke Palembang, tanpa mampir ke restoran terapung di tepi Sungai Musi ini. Ya, River Side namanya. Letaknya berada condong ke bibir sungai ternama itu dan tidak jauh dari Benteng Kuto Besak. Panoramanya, sungguh luar biasa. Apalagi restoran ini berada tidak jauh dari jembatan Ampera yang mempesona dengan lampu-lampunya termasuk dari kapal-kapal yang berada di sekitarnya ketika malam hari. Sebuah pemandangan yang menakjubkan dan menambah selera makan.

Restoran ini, kata Eddy Boy, Manager River Side telah beroperasi sejak Maret 2008. Ketika itu, bertepatan dengan tahun pencanangan "Visit Musi". River Side seakan muncul sebagai representasi tempat kuliner khas Palembang sesungguhnya dan berada dekat dengan ikon kota tersebut. Akhirnya, River Side kerap menjadi referensi dan persinggahan terakhir dari tur bila ada agen wisataa yang membawa para pelancongnya.

River Side bukan hanya menjual suasana. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Kapasitasnya bisa mencapai 500 orang yang dibagi dalam beberapa ruangan yang diberi nama-nama ikan. Ruang pertama, misalnya, bernama Betutu atau kerap disebut orang Palembang sebagai “ikan malas”. Kemudian ada Ruang Seruang, dan ruang VIP bernama Ruang Betok.

Ruang Betok ini berkapasitas 75 orang dengan fasilita full AC, dan sound system. Kesannya eksklusif dan mengutamakan privasi. Sedangkan Ruang Betutu berada di lantai dua beranda restoran. Tempat ini berbatasan langsung dengan bibir sungai alias dirancang terapung. Ruang ini berkapasitas 200 orang dan menjadi tempat live music digelar. Di lantai dua ini, pengunjung juga bisa menemukan Ruang Seluang. Berkapasitas 250 orang di mana para pengunjung bisa bersantap sambil menikmati pemandangan Sungai Musi yang romantis.

Di ruang terakhir adalah dermaga. Tempat ini berkapasitas 250 orang. "Ruang Betutu dan Ruang Seruang lebih berkesan formal. Kalau mau bersantai, pengunjung bisa mengambil tempat di teras. Karena didesain terbuka dan santai," tambah Eddy.

Selain menjadi tempat makan favorit, River Side kerap dijadikan tempat menggelar perayaan ulang tahun, pesta pernikahan, atau acara-acara komunitas dan pemerintahan. "Restoran ini cocok hanya makan, acara formal, atau bersenang-senang dan santai," ujar Eddy.

Mungkin ada pengunjung yang khawatir soal sisi keamanan karena restoran ini terapung. Soal itu, jangan khawatir, sebab, kata Eddy, fondasi dan konstruksi restoran ini terbuat dari besi baja yang kuat. Meski baja-baja penyangga itu tidak dicor, tapi ditancapkan. Sebab, ada ketentuan dari Pemerintah Daerah Sumatera Selatan tidak boleh ada pengecoran di sepanjang bibir Sungai Musi.

River Side Resto

Dermaga Kecil



Yang menarik dari restoran ini adalah keberadaan centre point alias dermaga kecil agar perahu pengunjung yang ingin ke restoran dapat langsung merapat. Artinya, akses ke restoran tidak selalu harus dari jalan darat. Centre point itu dibuat lantaran kadang pengunjung yang sedang berwisata mengitari Sungai Musi, ingin segera makan.

Kunjungan itu biasanya datang dari wisatawan yang mampir ke Pulau Kemarau, pulau yang berada di tengah Sungai Musi. Pulau itu merupakan salah satu objek wisata terkenal di Palembang. Sebab, di sana dapat ditemui orang-orang keturunan lengkap dengan klenteng, prasasti kuno, dan tanaman bernama "pohon cinta".

Wisata Air


Untuk menuju ke Pulau Kemarau dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor berkapasitas 60-80 orang dengan jarak tempuh selama 2,5 jam. River Side menyediakan kapal motor tersebut. Jika ingin makan sambil berwisata, setiap pengunjungi bisa menggunakan kapal tersebut.

Soal tarif seharga 3,5 juta rupiah untuk rombongan. Kalau menggunakan kapal motor yang lebih kecil cukup 400 ribu rupiah. Mahal? Sebentar, harga itu sudah termasuk tour guide, solo organ, ruangan ber-AC (kapal motor besar), dan smooking area. noverta salyadi dan frans ekodhanto.

Ada Menu Ikan Malas



Mahal karena ikannya sudah sulit ditemui.
Selain pemandangannya elok, yakni Jembatan Ampera dan Sungai Musi, River Side juga memiliki menu khas Palembang yang sesungguhnya. Salah satunya yang favorit adalah Ekor Tenggiri Bakar. Ya, ekor ikan tenggriri yang beratnya sekitar satu kilogram itu dipotong kemudian dibentuk menyerupai kipas lalu dibakar dengan bumbu khusus. Sedangkan daging ikannya, biasanya dipisahkan untuk dinikmati dalam bentuk lain, yakni pempek dan sebagainya.

Kurang suka ikan? Anda juga bisa menikmati udang atau sotong segar yang ditangkap langsung dari Sungai Musi begitu ada yang memesan. Udang dan sotong itu bisa dimasak sesuai permintaan. Ada yang digoreng mentega atau khas bumbu Palembang, seperti Udang/Sotong Saos Kuto Besak. Menu ini segar dan mengundang selera. Cocok untuk mereka yang suka rasa manis pedas.

Ada pula kepiting yang langsung didatangkan dari Muara Sungsang. Kepiting ini rasanya sangat manis dan segar karena tinggal di hutan bakau yang berada di Muara Sungsang, muara yang berhubungan dengan Selat Bangka. Setiap menu dibanderol sesuai berat seafood yang akan diolah. Sebagai gambaran, Ikan Betutu atau Ikan Mala situ seharga 38 ribu rupiah per ons. Mahal? Bisa jadi ya, tapi Anda perlu tahu bahwa Betutu termasuk ikan yang sulit ditemui alias langka.

Sebagai hidangan penutup, Anda bisa memesan aneka buah lokal seperti potongan sawo, kesemek, papaya, duku, atau durian khas Palembang. Kalau ingin yang dingin-dingin bisa mencoba Es ala River Side yang terbuat dari campuran jeruk kunci dibelender bersama kulitnya. Rasanya asam, manis, dan menyegarkan. noverta salyadi dan frans ekodhanto.

Friday, 12 October 2012

Masjid Syeh Muhammad Azhari



Di Pulau Seribu, Kertapati, Bantu Musafir Beribadah, Tak Masuk Peta Kota Palembang
Menyebut nama Pulau Seribu, ingatan kita pastilah melayang ke kepulauan yang menjadi kawasan objek wisata di Jakarta. Padahal, di metropolis memiliki kawasan dengan nama serupa. Sayangnya, Pulau Seribu yang ada di Palembang berada di Kelurahan Ogan Baru, Kecamatan Kertapati, tidak banyak diketahui orang. Seperti apa tempatnya?

Menyambangi Pulau Seribu tidak begitu sulit. Masuk dari dermaga pasar induk Jakabaring, masyarakat dengan mudah dapat sampai ke sana menggunakan ketek. Ongkos dipatok pun tidak begitu tinggi. Ketika Sumeks Minggu menggunakan jasa angkutan air tradisional ini, pengemudi ketek hanya meminta biaya Rp2.000 hingga Rp3.000.

Tiba di tujuan, bayangan pulau seribu seperti objek wisata yang ada di Jakarta sirna. Bahkan, pulau-pulau seperti yang ada di pulau seribu di Jakarta dan sempat dibayangkan koran ini juga tidak terlihat.

Berdasarkan cerita masyarakat, didapat secara turun menurun, nama Pulau Seribu melekat di kawasan ini, karena dulunya terdapat gundukan-gundukan tanah menyebar di tempat mereka. Gundukan tanah tersebut cukup besar dan tinggi. Dari tiap gundukan tanah dikelilingi air sungai membuat gundukan tanah yang sangat banyak tersebut ibarat pulau.

“Itu cerita dari orang-orang tua kami. Gundukan tanah itu sempat ditanami pohon jeruk dan masih terlihat. Sekarang sudah hilang dirubah dengan tanaman padi,” ungkap H Munir (53), salah seorang warga di Pulau Seribu.

Saat ini, Pulau Seribu tetap menjadi pulau besar, dikelilingi empat sungai. Dibagian depan dibatasi dengan sungai Ogan. Sebelah kanan sungai Tapa, sebelah kiri sungai Sungki, dibelakangnya sungai Remis.

Sempat sedikit berkeliling di kawasan tersebut, Sumeks Minggu melihat daerah tersebut dikelilingi rawa. Jumlah penduduk yang ada tidak begitu banyak, mayoritas berada di pinggiran sungai Ogan. Menurut Munir, jumlah Kepala Keluarga (KK) hanya 29, dibawah naungan satu Rukun Tetangga (RT).

Meski telah dibangun jalan setapak, cor beton menghubungkan daerah tersebut ke kawasan Sungki Kertapati, hingga kini masyarakat di Pulau Seribu masih begitu dekat dengan perahu dan ketek. Untuk mencapai pusat kota Palembang, mereka masih menggunakan transportasi air.

Selain jalan darat yang masih terlalu kecil, tidak begitu banyak masyarakat memiliki kendaraan (motor,red). Lain dari itu, masyakarat setempat terlihat banyak membuat perahu jukung. Pembuatan perahu ini sudah cukup lama dilakukan.

Sejak lama tempat ini sudah dialiri listrik. Hanya saja, kesan terpencil dan tertinggal masih begitu terasa. Nah, cerita Munir pada masa Kesultanan Palembang, tempat ini sebenarnya tidak ditinggali masyarakat.

Tempat Persembunyian Perompak Hingga SMB II
Tempat ini hanya didiami para perompak sebagai persembunyian. Bahkan, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II diyakini pernah bersembunyi ditempat ini. Hal ini diketahui Munir setelah para zuriat SMB II yang ada di Ternate datang ke Pulau Seribu beberapa tahun lalu.

“Dari catatan SMB II yang dibaca para zuriatnya, SMB II pernah bersembunyi dari kejaran Belanda di Pulau Seribu. Zuriat SMB II sudah puluhan tahun mencari pulau ini. Tapi, yang terpikir oleh mereka sejak lama, Pulau Seribu yang ada di Jakarta,” jelas Akhmadi (26), anak dari H Munir.

Ketika satu dua keluarga yang awalnya mantan perompak mulai tinggal di Pulau ini, Munir mengatakan seorang ustad besar, Syeh Muhammad Azhari (1860-1938) yang giat menyiarkan Islam sempat singgah di rumah seorang mantan perompak yang tengah sakit untuk menumpang sholat. “Namanya juga mantan perompak, dia gak punya sajadah. Terus, Syeh Azhari mengobati perompak itu hingga sembuh,” jelas Munir.

Setelah sakitnya disembuhkan Syeh Azhari itulah, mantan perompak itu bertobat dan hendak belajar agama. Ia pun menghibahkan tanah miliknya untuk dijadikan masjid. Tawaran itu cepat diterima Syeh Azhari yang memang ingin membangun sebuah masjid.

Selain masyarakat Pulau Seribu, saat ini memang tak begitu banyak masyarakat yang datang ke masjid dibangun Syeh Azhari. Namun saat itu, ketika masyarakat Sumsel mengandalkan transportasi air, masjid yang dinamakan dari orang yang membangunnya (Syeh Muhammad Azhari,red) ini ramai dikunjungi. Dibangunnya masjid ini sangat membatu para musafir beribadah, menunaikan sholat.

“Orang-orang dari Indralaya dan Sumsel yang mau ke Palembang banyak lewat sini. Mereka mampir untuk sholat di sini,” jelas Munir.

Siapa Syeh Azhari? Munir mengatakan, ia merupakan kakek almarhum KH Zen Syukri. Ia merupakan ulama besar yang sempat menimba ilmu di Arab, Mesir hingga India. Cerita-cerita seputar Syeh Azhari ini, didapat Munir dari almarhum Zen Syukri.

“Saya pernah belajar dengan Abah Zen. Pernah juga jadi pembantunya ketika Abah menjadi anggota DPRD Palembang. Cerita Abah, sedari kecil ia sering main ke Masjid dibangun kakeknya ini. Waktu dia masih sehat, Abah rajin mengajar dan mengisi acara Islam di Masjid Syeh Azhari,” urai Munir.

Sedikit berbeda dengan keterangan Kgs HM Ibnu A SH MSi. Menurut anak ke-13 dari istri kedua almarhum KH Zen Syukri, jika Syeh Azhari sebenarnya adalah mertua ayahnya. Sehingga, dirinya sendiri memanggil Syeh Muhammad Azhari dengan sebutan kakek.

Nah, selama ini kitab-kitab tauhid yang pernah dibuat oleh Syeh Muhammad Azhari banyak dibawa penjajah Belanda ke Negerinya usai kemerdekaan. Keterangan Ibnu ada Sembilan kitab tauhid ditulis Syeh Muhammad Azhari.

Sedangkan wajah Syeh Azhari sendiri baru dilihatnya beberapa tahun lalu. Itu setelah salah seorang keluarganya mengambil copy wajah Syeh Azhari dari Museum di Belanda. “Banyak arsip kita memang dibawa oleh orang Belanda. Masalah ini, zuriat seperti kami tidak cukup. Ini masalah nasional. Pemerintah yang harusnya turun tangan,” tandasnya.

Kayu Kapuk Penopang Masjid Jadi Unglen
Dilihat dari arsitektur aslinya, masjid Syeh Azhari bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Palembang. Berada di pinggiran sungai, masjid berada di atas air. Hingga bangunan harus ditunjang dengan kayu.

Namun kini, hal tersebut tak lagi terlihat. Sejak tahun 1993, bagian depan masjid sudah ditimbuni tanah. Tahun 2005, dengan bantuan Walikota Palembang, Ir Eddy Santana Putra, bagian dalam ditimbuni pasir.



Nah, sejak satu bulan lalu, masjid direhap. Bagian dinding kayu masjd yang sudah mulai ambruk diganti beton. Hanya bagian atas dipertahankan pengurus Masjid. Bagian atasnya sepintas terlihat mengadopsi culture China. Persis seperti masjid Lawang Kidul dan Kyia Merogan.

“Kalau ingin dibongkar dan dibangun baru secara keseluruhan, sudah ada yang bersedia. Tapi, pesan Abah Zen, bagian atas harus dipertahankan,” urai Akhmadi yang kini menjadi Ketua Pengurus Masjid Syeh Muhammad Azhari.

Orang yang ingin memberikan bantuan dengan membangun masjid dimaksud Azhari merupakan zuriat Syeh Azhari di Arah serta Zuriat SMB II di Ternate. Bantuan mereka pun ditolak dengan alasan pesan almarhum Zen Syukri. Alhasil, para pengurus harus mengandalkan dana swadaya untuk merehab masjid.

Dana didapat telah dikumpulkan sejak tujuh tahun lalu. Uang didapat mencapai Rp21 juta. Berjalan satu bulan, uang didapat samasekali tidak cukup. Hingga kini sudah Rp55 juta dikeluarkan pengurus Masjid. “Banyak yang bantu. Dari uang hingga material. Yang pasti, kita sudah sampaikan proposal bantuan sama Allah SWT. Itu ajaran Abah Zen,” jelas Akhmadi.

Cerita menarik dan diyakini warga sekitar seputar tiang penyangga atap masjid. Dari empat tiang utama, satu diantaranya diyakini warga merupakan kayu kapuk. Karena dibagian atasnya terdapat duri.

Hanya saja dari serat dan warna kayu, warga menyakini tiang tersebut merupakan kayu unglen. Hingga kayu tersebut dijuluki warga kayu kapuk yang berubah menjadi kayu unglen.

Bagaimana bisa? Ditanya seperti itu H Munir menjawab seadanya. “Orang besar seperti Syeh Azhari merupakan orang yang dekat dengan Allah SWT. Tentu saja kami yakin beliau memiliki kharomah,” tandasnya.

Sementara Camat Kertapati Zaini dikonfirmasi Kamis (17/5) tak banyak mengetahui sisi sejarah pulau seribu serta masjid Syeh Azhari. Pun begitu ia tak mengelak jika Pulau Seribu yang berada di wilayahnya termasuk terpencil, bahkan sedikit terbelakang.

Diakui Zaini, pulau yang satu ini tidak setenar Pulau Kemarau atau Pulokerto. Hingga tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Tempat ini terpencil karena memang belum banyak sarana yang masuk. Bahkan, diperkirakannya, pulau ini tidak masuk dalam peta kota Palembang.

“Kalau mau pasti, di cek saja di Bapedda. Mereka yang buat peta kota Palembang,” tukasnya.

Benar juga. M Syafri HN Kepala Bapedda Palembang samasekali tidak mengetahui tempat ini. Meski meminta koran ini menghubungi bawahannya Nur Hendratama ST MT di bagian Tata Ruang, Pulau ini juga tidak diketahui. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 22 Mei 2012 11:18 WIB | Sumeks Minggu

Menelusuri Percetakan Al-Qur'an



Pertama di Palembang Tahun 1848


Dibuat Demang Jaya Laksana, Gunakan Mesin Batu Dari Singapura
Kitab suci umat muslim, Al-Qur'an ternyata telah dicetak menggunakan mesin sejak 164 tahun lalu di Palembang. Tepatnya tahun 1848, dimotori Demang Jaya Laksana. Satu dari 105 Al-Qur'an yang sempat dicetak pada masa Kolonial Belanda tersebut hingga kini masih disimpan keturunannya, Baba Azim Amin MHum, dosen IAIN Raden Fatah. Lainnya, diyakini telah menyebar di negara-negara Melayu.

Sebelum mengenal mesin cetak, Al-Qur'an selama ini di produksi secara manual.Para khot atau ahli tulis kaligrafi menulis Al-Qur'an menggunakan tangan. Cara seperti ini diyakini membutuhkan waktu cukup lama.

Kelemahan mushaf (Al-Qur'an dengan tulisan tangan, red) lama kelamaan tentu saja tulisannya terus memudar. Sedikit saja terkena air atau berada di tempat lembab, tinta digunakan akan memudar. Ini juga terlihat dari enam mushaf milik Kms Andi Syarifudin, Imam Masjid Agung.

Ketika memperlihatkan mushaf miliknya, didapat secara turun menurun dari leluhurnya, lembaran-lembaran Al-Qur'an terlihat jelas telah memudar. Padahal, dilihat dari ornamennya cukup indah. Ornamennya menggunakan hiasan kembang berwarna emas, sering kita lihat pada hiasan furniture khas Palembang.

Secara umum, umur mushaf disimpan Andi berusia lebih dari 150 tahun. Tertua, bahkan mencapai 250 tahun dengan lempengan emas 18 karat. “Zaman dulu, Al-Qur'an merupakan barang yang sangat berharga. Karena itu, orang dulu memberikan lempengan emas di cover bagian depan serta belakang,” jelasnya.

Pada perkembangannya, jebolan Tarbiyah Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Raden Fatah angkatan 1990 ini mengatakan, Al-Qur'an kemudian dicetak secara masal. Di Palembang, pencetakan Al-quran pertama kali dilakukan di lorong Jaya Laksana tahun 1848 lalu. Jumlah cetakan Al-Qur'an pertama kali sebanyak 105 buah. “Yang masih menyimpan Al-Qur'an cetakan pertama itu Pak Azim,” tandas Andi.

Cetakan Pertama di Nusantara, Jaga Jati Diri Zaman Kolonial
Baba Azim Amin MHum, dosen IAIN Raden Fatah dimaksud Andi membenarkan cerita tersebut. Ditemui Sumeks Minggu di kediamannya semalam (15/9) di kawasan Lorong Jambangan Darat, Rt 13, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan SU I, Azim mengatakan, dari keterangan dalam Al-Qur'an cetakan pertama yang masih dipegangnya terdapat keterangan jelas. Bahkan, tanggal dibuatnya Al-Qur'an tersebut ditulis dalam lima kalender berbeda. Karena tulisan Al-Qur'an cetakan ini masih sangat jelas, samasekali tidak memudar.

Diterangkan Azim, jika pembuatan Al-Qur'an tersebut merupakan ide dari leluhurnya, Demang Jaya Laksono yang aslinya bernama Baba M Najib bin Demang Wiro Laksono. Lahir tahun 1808, Demang Jaya Laksono sejak berumur 11 tahun telah menjadi anak yatim. Ayahnya Wiro Laksono, ditembak mati penjajah. Pasalnya, Wiro Laksono merupakan seorang petinggi setingkat Menteri dibawah komando Sultan Mahmud Badaruddin (SMB II).

Setelah itu, Jaya Laksono muda dibawa pamannya ke kawasan Tanjung Lubuk, Kabupaten OKI. Saat ia dewasa, ia belajar di Batavia, belajar ilmu pemerintahan serta ilmu agama. Saat usia masih cukup muda, ia kembali ke OKI dan diangkat Demang Jaya oleh Menteri Prabu Anom. Itulah mengapa ia lebih terkenal dengan nama Demang Jaya Laksana.

Tahun 1836, oleh Belanda ia diangkat menjadi Kepala Divisi. Ia kemudian pindah ke Palembang dan membangun rumah limas besar yang kini masih ada di kawasan 3 Ulu, tepatnya di lorong Jaya Laksana. Rumah itupun hingga kini masih berdiri tegak.

Sekitar tahun 1838, ia berkenalan dengan Syeikh M Azhari yang baru saja menimba ilmu di Mekah. Satu orang adiknya, bernama Nona Zaleha kemudian dinikahkannya dengan Syeikh M Azhari. Dari perkenalan inilah, Demang Jaya Laksana memiliki ide untuk mencetak Al-Qur'an secara massal.

“Tujuannya untuk menjaga jati diri bangsa melayu yang mayoritas Islam dari bangsa penjajah,” ungkap Azim Amin.

Syeikh M Azhari sendiri merupakan penulis khot (kaligrafi, red) untuk dicetak. Sedangkan mesin serta tenaga pencetaknya, diyakini Azim didatangkan dari Singapura. Alasannya, pencetak Al-Qur'an bernama Ibrahim Sohib seperti tertera dalam keterangan dalam cetakan Al-Qur'an merupakan murid dari Abdullah bin Abdul Munsyi asal Singapura.

“105 Al-Qur'an itu dicetak di rumah Demang Jaya Laksana di Lorong Jaya Laksana Palembang ini. Tapi mesinnya sekarang tidak ada lagi. Saya yakini, mesin itu dibawa dari Singapura. Atau mungkin disewa. Setelah selesai mencetak Al-Qur'an, mesin dikembalikan,” jelasnya.

Kebanyakan Al-Qur'an yang ada, menurut Azim telah disebar di negara-negara Melayu. Seperti Malaysia, Singapura, Filiphina dan lainnya. Satu tersisa miliknya, didapatnya secara turun menurun. Pasalnya, Azim merupakan keturunan kelima dari Demang Jaya Laksana.

Yang mengejutkan, Azim menyatakan jika cetakan Al-Qur'an pertama di Palembang merupakan cetakan Al-Qur'an pertama di nusantara. Itu diyakininya setelah sempat bertemu dan berdiskusi bersama beberapa kalangan sejarawan dari berbagai pelosok Indonesia.

“Harusnya, Al-Qur'an ini mendapat perhatian dari Kementrian Agama,” tandasnya. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 18 September 2012 12:12 WIB | Sumeks Minggu

Ungkap Sejarah Dibalik Rumah Tua



Di Padang Selasa, Ditempati Empat Keluarga, Dijuluki Rumah Kapiten Tionghoa
Sebutan Kapiten merupakan gelar militer diberikan penguasa Belanda bagi pemimpin etnis China. Salah satu Kapitan terkenal di wilayah Palembang berada di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) 1, kini lebih dikenal dengan sebutan Kampung Kapitan. Namun, masyarakat jalan Padang Selasa, Kelurahan Bukit Lama, Ilir Barat (IB) 1 mengetahui di kawasan mereka terdapat seorang kapiten. Sebuah rumah panggung tua dengan dua pohon Munggur tinggi besar diketahui masarakat merupakan rumah sang Kapiten. Benarkah? Lantas apa hubungan sang Kapiten dengan Kampung Kapitan? Berikut liputan Sumeks Minggu.

Dilihat sepintas, rumah panggung tua depan sasana bulutangkis di jalan Padang Selasa sangat berbeda dengan rumah lain. Dengan halaman luas, dua pohon munggur tinggi besar menghiasi. Cerita masyarakat sekitar dari mulut ke mulut, rumah panggung ini menjadi kediaman mantan Kapiten Tionghoa.

Membuktikan masalah ini pun cukup sulit. Ketika Sumeks Minggu mencoba mengkonfirmasi kepada penunggu rumah yang kini tinggal dibawah, mereka malah menggelengkan kepala. Yang diketahui penunggu rumah tersebut, jika panjang rumah tersebut dulunya mencapai 20 meter lebih. Sekarang, rumah tua tersebut telah dipotong. Dibagian belakang, dibangun dua rumah beton baru.

“Cerita orang-orang tua kami, rumah ini sampai ditinggali empat keluarga sekaligus,” ujar penunggu rumah tua tersebut, dibincangi Rabu (23/5).

Namun, dari keterangan beberapa sanak keluarga, juga dari garis keturunan si empunya rumah, mereka sempat membenarkan jika kakek (pemilik rumah,red) dulunya seorang Kapiten.

“Tapi bukannya kakek kami langsung. Tapi adiknya kakek kami,” ungkap salah seorang keturunan Chinese, di kawasan tersebut. Cerita seputar sang Kapiten baru menemui titik terang ketika koran ini menemui Ir Karnadi Gozali, Dosen Pertanian Unsri, yang juga tinggal di kawasan Padang Selasa.

Dari penuturan pria berkacamata ini, kakeknya bernama Kwee Gan Beng memiliki dua saudara. Salah seorang saudara kakeknya bernama Kwee Gan Kheng inilah diketahui sebagai Kapiten pada masa Belanda. Dilihat dari masa hidup kakeknya, Kwee Gan Beng (1891-1967), Kwee Gan Kheng menjadi Kapiten diperkirakan awal abad ke-20 hingga masa kemerdekaan.

Sayangnya, tak banyak informasi tambahan diketahui Karnadi seputar sosok Kwee Gan Kheng. Pasalnya, usai kemerdekaan, Gan Kheng meninggalkan Palembang dan menetap bersama keluarga di Jakarta.

“Keturunan yang ada di Palembang, khususnya yang tinggal di Padang Selasa sekarang, merupakan keturunan Gan Beng, kakek kami. Keturunan Gan Kheng sudah di Jakarta semua,” ungkap Karnadi.

Ditegaskan Karnadi, jika rumah panggung tua, depan sasana bulutangkis, banyak disebut masyarakat sebagai Kapiten Tionghoa, Kwee Gan Kheng tidak benar. Rumah tersebut milik kakeknya Kwee Gan Beng.

Mengapa bisa disebut masyarakat sekitar sebagai rumah Kapiten Tionghoa, Karnadi mengatakan kemungkinan kakeknya Kwee Gan Beng tinggal serumah dengan adiknya Kwee Gan Kheng.

“Karena rumah tersebut termasuk sangat besar. Rumahnya memanjang ke belakang. Sekarang memang sudah dipotong, di bagian belakang dibangun rumah baru oleh keturunan Gan Beng,” jelas Karnadi.

Alasan lain, Kwee Gan Beng serta Kwee Gan Kheng memiliki tanah luas di kawasan Padang Selasa. Luasnya sekitar lima hektar. Dari luas tanah tersebut, terdapat tanah milik Kwee Gan Beng serta Kwee Gan Kheng.

“Tapi tanah itu lebih banyak dimiliki oleh Gan Beng. Sedikit milik Gan Kheng. Sekarang banyak tanah mereka sudah terjual,” ungkap Karnadi.

Kwee Gan Kheng sendiri dikatakan Karnadi memiliki rumah sendiri, dekat rumah kakeknya Gan Beng. Namun, rumah Gan Kheng tak terlihat lagi bentuk aslinya sudah direhap habis. “Gan Kheng sempat pindah ke Puncak Sekuning, baru hijrah ke Jakarta,” jelas Karnadi.

Lantas apa hubungan Kwee Gan Kheng sebagai seorang Kapiten dengan Kampung Kapitan di Kelurahan 7 Ulu? Karnadi tidak mengetahui pasti. Dia hanya memperkirakan, jika Belanda pada masa pemerintahannya, menunjuk para pemimpin etnis Tionghoa pada kawasan tertentu.

Sehingga, diperkirakannya, Kapiten di Kelurahan 7 Ulu Kampung Kapiten berbeda orang dengan Kwee Gan Kheng adik kakeknya. “Karena di Seberang Ulu ada pemukiman China. Di Seberang Ilir, juga ada pemukiman China. Jadi, Belanda butuh pemimpin yang diberi gelar Kapiten untuk memimpin masyarakat China di Seberang Ulu dan Seberang Ilir,” jelasnya.

Gelar Mayor Hingga Letnan
Sementara itu, Kemas Aripanji SPd, MSi Sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia cabang Sumsel menyatakan, pimpinan etnis Tionghoa pada masa Belanda sangat dibutuhkan. Pada masa kolonial, para pimpinan tersebut sengaja dibentuk.

Jika di Palembang pemberian gelar militer hanya terdengar pada pangkat Kapten (Kapiten de Chinezen), di nusantara ada beberapa pemimpin Tionghoa diberikan gelar Mayor (Majoor de Chinezen) serta Letnan (Luitnant de Chinezen). Para pemimpin ini pun diberikan pakaian seragam, diapakai pada upacara-ucapa tertentu, menunjang fungsinya sebagai pimpinan.

Para pimpinan China (Hoofd de Chinezen) lanjut Aripanji tidak dipilih Belanda. Mereka dipilih secara demokrasi, dari rakyatnya sendiri. Beberapa kriteria para pimpinan China kala itu, kepercayaan masyarakat, kekayaan dimiliki calon pimpinan serta pengaruh besar pimpinan tersebut pada masyarakatnya.

Setelah dipilih, tugas pimpinan etnis ini cukup banyak. Pertama, sebagai perantara atau penghubung. Antara masyarakat Tionghoa yang ingin mengurus sesuatu kepada pemerintah Belanda. Misalnya, pengurusan surat kelahiran, surat kematian, surat nikah, surat cerai, surat jalan, wasiat dan warisan, cacat jiwa, sensus dan lainnya.

Para pimpinan ini juga memiliki tugas menjaga ketertiban, keamaan dalam lingkungan yang mereka pimpin. Termasuk mengadili semua perkara yang terjadi pada masyarakatnya. Selain itu, dalam struktur pemerintahan Belanda, para pemimpin ini menjadi penasehat pemerintah. Terutama mengenai masalah penarikan pajak serta sebagai sarana informasi tentang ketentuan hukum dikeluarkan pemerintah Belanda.

“Jadi, para pemimpin etnis China ini memang dibutuhkan Belanda. Ada masalah, Belanda tidak perlu langsung turun ke masyarakat China. Ibaratnya cukup dengan memangil pemimpinnya saja,” urai Aripanji.

Hanya saja, sejauh ini Aripanji hanya mengetahui para pemimpin etnis China di Palembang berdomisili di Kelurahan 7 Ulu, yakni Kampung Kapitan. Aripanji belum mendengar adanya pemipin etnis berada dari Seberang Ilir, tepatnya di kawasan jalan Padang Selasa. Karena pada abad ke-19, perkampungan China berdasarkan peta Belanda berada di kawasan Seberang Ulu.

“Bisa saja pada perkembangannya, dimana masyarakat China mulai menyebar, mereka mengangkat pimpinan baru. Karena di daerah Ilir Barat 1, ada pemukiman China yang bercocok tanam,” jelasnya.

Sehingga, sosok Kwee Gan Kheng dikatakan masyarakat Padang Selasa merupakan pimpinan etnis Tionghoa di Seberang Ilir, Aripanji memperkirakan bisa saja terjadi. “Cuma masalah itu perlu pembuktian. Paling tidak diceritakan dari keturunan langsung orang disebut Kapiten itu,” tandasnya.

Sekedar Staf Kapiten
Sementara Fauzi Thamrin, tokoh masyarakat Tionghoa dikonfirmasi koran ini menyatakan, jika para pemimpin etnis China di Palembang hanya berasal dari Kampung Kapitan, Kelurahan 7 Ulu. Nah, sosok i pemimpin etnis China di Padang Selasa diketahuinya masyarakat sekitar dikatakan Fauzi hanya sekedar staf Kapiten di Kampung Kapitan.

Meski sekedar staf, Fauzi melihat hal itu sudah membawa pengaruh besar, membuat seseorang terkenal. “Berpengaruh juga jabatan itu pada zaman Belanda,” ungkap mantan ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumsel ini kepada Sumeks Minggu via Short Message Service (SMS), Jum’at (25/5). (wwn)

Written by: Samuji Rabu, 30 Mei 2012 | Sumeks Minggu

Thursday, 11 October 2012

Tembak Aku Bae Men Dio Galak


Maria (kiri) kesal menemukan kusen rumahnya dirobohkan dan terali hilang, Rabu (10/102012).

PALEMBANG - Maria (42), warga RT 27 Kelurahan Sukodadi berteriak histeris meluapkan kekesalannya saat menemukan kusen rumahnya roboh dan teralinya hilang, Rabu (10/10) pagi.

Ia meyakini yang berupaya merobohkan itu oknum TNI AU Lanud Palembang yang selama ini memperingatkannya.

"Dak mungkin masyarakat di sikak yang nak maleng. Ade warga nengar suaranya, mereka merobohkan kusen ini jam 12 malam. Cuma warga dak berani keluar. Warga dak ngelek siape yang jebolnyo. Lihatlah kusen jendelo tumbang ke bawah, terali dimalingnyo. Dinding retak. Siapo lagi kalau dak AURI yang selamo ini ngancam nak ngerobohkan bangunan ini," ujar Maria kesal.

"Ini hak saya, kami punya surat kepemilikan tanah ini dari camat. Saya tuntut dia. Sudah menghadap RT, RW nurut dari hari Sabtu tahan dak begawe lagi bangunan ini. Bukannya ngeroroi masyarakat, malah meresahkan masyarakat. Nak ngehaki hak warga. Kalo dia muncul kukejar dengan mandau," ancam Maria.

Menurut tetangga yang juga pekerja bangunan Imron dan Suyatmo mereka sudah berusaha sabar untuk mengerem sementara tidak meneruskan pengerjaan bangunan hingga permasalahan sengketa lahan dengan AURI jelas.

"Kita istirahat sejak Jumat (5/10/2012) sekitar pukul 15.30 dua anggota AURI datang. Mereka bilang kalau diteruskan kerja, bangunan ini kami robohkan. RT, AURI, kami patuhi, kami tutup kusen pintu dengan palang kayu silang biar nandoke kito tahan idak gaweke bangunan ini," kata Suyatmo.

Musthofa (58) mengaku sudah banyak hutang yang tertanam untuk mendirikan bangunan rumah batako berukuran 21X15 meter yang menelan biaya hingga Rp 58 juta.

Ia pun menyatakan berani membangun rumah karena di atas tanah yang surat kepemilikan dimilikinya.

"Kalau dak katek surat tanah yang kubangun ini, aku rela merobohkannya sendiri. Tapi ini suratnya jelas. Men surat itu palsu, lah lamo ado pak camat di sini, biso diborgol aku. Dengan dirobohkannya ini paling tidak sudah rugi Rp 4 juta. Mending mereka tembak aku bae men dio galak. Keruan, yang punyo dak lagi nuntut. Bangun ini tahan terhutang sekitar Rp 58 juta. Meskipun dijualkan ini belum tertutup hutang ini. Aku samo tigo tukang, Suyatmo, Imron, Hasan gaweke bangunan ini. Belum lagi hutang dengan tukang. Baru aku baru bayar Rp 1 juta per orang katokelah untuk beli beras. Masih Rp 5 juta per orang yang belum dibayar. Mikirkan makmano untuk meneruskan bangunan ini. Besi sudah 100 batang ditanam," tutur Musthofa (58).

Menanggapi tudingan warga ini, Kepala Hukum TNI AU Lanud Palembang Kapten SUS M Ikhwanudin yang juga Pjs Kepala Penerangan dan Perpustakaan membantah robohnya bangunan ini ulah perbuatan anggota AURI.

"Itu saya yakinkan tidak benar. Kita selama ini lisan. Tidak benar dilontarkan ke kita itu kebohongan publik dan pencemaran nama baik," tegas Ikhwanudin.

Namun Iwan mengaku pihaknya memang sudah memperingatkan pemilik bangunan liar selama ini yang berada di atas wilayah yang diklaim borders Lanud Palembang.

Menurutnya perintah untuk penertiban bangunan liar tersebut berdasarkan Radiogram Pangkoop AU 1 tertanggal 12 Agustus 1999.

"Isinya agar menertibkan bangunan yang telah berdiri dan mencegah bertambahnya bangunan baru atau liar yang didirikan masyarakat dalam Borders Lanud Palembang. Selain itu dalam pertemuan dengan Forum Masyarakat Bersatu Perduli di Lanud lebaran 2011 lalu, warga minta kita dicarikan solusi bangunan yang telah mereka bangun. Mereka menyanggupi tidak akan ada bangunan baru. Ternyata makin banyak bangun. Makanya ketika mereka datang lagi ke sini kita tagih. Forum itu kan perwakilan mereka dan bisa mengawasi," jelas Iwan.

Penulis : Abdul Hafiz
Editor : Sudarwan
Sriwijaya Post - Rabu, 10 Oktober 2012

Tuesday, 9 October 2012

Diarak Bareng BGP


NAIK BECAK: Arak-arakan pasangan nikah massal menarik perhatian pengendara motor dan mobil. Wajah bahagia dan sumringah terpancar dari sejumlah pasangan nikah itu. Tak jarang ada pengendara yang mengucapkan selamat kepada mereka.

Pemerintah Kota Palembang kembali menggelar nikah massal yang ke-5 kalinya. Program tersebut sangat membantu masyarakat yang tidak mampu. Beragam komentar dikeluarkan dari pasangan yang menikah. Seperti apa?



----------------------------------------



Pagi itu, pemandangan Kota Palembang tepatnya di sekitar Jembatan Ampera hingga Benteng Kuto Besak (BKB) mendadak ramai. Seluruh mata pengendara kendaraan baik roda dua maupun roda empat tertuju pada arak-arakan pasangan nikah massal yang diselenggarakan Pemerintah Kota Palembang.

Mereka diarak bersama Bujang Gadis Palembang (BGP) dengan menggunakan becak yang telah dihias dari Masjid Al-Fathul Akbar Jakabaring menuju tempat resepsi pelataran BKB. Sebanyak 50 pasangan nikah massal itu tampak bahagia dan selalu mengumbar senyum kepada khalayak ramai. Mereka mengenakan pakaian adat pernikahan yang beragam tetapi dominan adalah pakaian adat asal Palembang. Pengendara motor tampak ada yang memberikan selamat kepada mereka yang merasa seperti raja dan ratu sehari itu.

Sebelumnya, proses akad nikah telah dilangsungkan di Masjid Al-Fathul Akbar Jakabaring. Hadir menjadi saksi pernikahan massal itu di antaranya staf ahli Sosmas Pemkot Palembang, Ketua Pengadilan Negeri Palembang, Ketua Pengadilan Agama Kota, Kapolresta Palembang dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Palembang. Pernikahan itu dibantu 16 penghulu. Peserta nikah massal terlihat tertib menunggu giliran untuk nikah. Proses akad berjalan dengan lancar. Tidak ada yang terbata-bata dalam mengucapkan ijab.

Terdapat lima pasangan pengantin yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk berbulan madu semalam di Hotel The Jayakarta Daira Palembang. Salah satunya, Bambang (30) dan istrinya Diah (27) mengaku sangat senang dengan hadiah tersebut. “Wah, kami malah tidak berharap sebelumnya untuk mendapatkan hadiah itu. Jadi, itu di luar dari yang kami bayangkan,” jelasnya.

Bambang, anak sulung dari 3 saudara itu mengatakan telah tiga tahun berpacaran dengan Diah. “Sebenarnya kami kebetulan mau mengurus nikah ke RT. Nah, ketua RT lantas menginformasikan ada program nikah massal. Saya disuruhnya untuk ikut program nikah massal itu. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung ikut. Nah, karena ramai jadi tidak malu,” terang Bambang yang berkerja sebagai buruh di pelabuhan Tanjung Api-api itu.

Dirinya dan istri berharap agar rumah tangganya dapat berjalan langgeng dan diberikan kemudahan oleh Allah SWT. “Kami pokoknya bersyukur dan berterima kasih kepada Pemkot Palembang. Semoga makin banyak lagi masyarakat yang dapat ikut program nikah massal,” terangnya.

Berbeda dengan Bambang, Andi (30) dan pasangannya Maria (30) mengikuti nikah massal ini untuk memperoleh surat nikah yang sah. “Saya sudah nikah mas pada tahun 2008 yang lalu, tetapi surat nikah belum ada. Jadi kami mendaftar agar memperoleh kejelasan yang benar. Apalagi buku nikah itu sangat penting untuk anak,” ujarnya yang telah mempunyai seorang anak laki-laki berusia 1,5 tahun itu.

Kabag Sosial dan Kesejahteraan Setda Kota Palembang Eka Juarsa melalui Kasubag Agama Al Khaidir mengatakan, program nikah massal 2012 merupakan kegiatan yang ke-5 kalinya diselenggarakan. “Kita mulai sejak 2007. Selama kurun waktu lima tahun, kita telah menikahkan sebanyak 750 pasangan dari 16 kecamatan di Palembang.

Mereka mendapatkan legalitas administrasi yakni buku nikah secara gratis. Kemudian ada juga sejumlah bingkisan dari para sponsor yang terlibat. Kalau dihitung dalam nominal uang, setidaknya satu pasangan mendapat uang sekitar Rp1,5 juta. Tetapi uang tersebut dalam bentuk bingkisan,” terangnya.

Dari tahun ke tahun, antusias masyarakat untuk ikut nikah massal ini cukup tinggi. “Tahun ini saja, ada lima pasangan yang terpaksa tidak dapat kita nikahkan. Program ini memang merupakan program rutin dari pemerintah kota untuk membantu masyarakat yang ingin menikah tetapi tidak mempunyai dana,” jelasnya. Pasangan yang tertua sekitar 64 tahun dan yang termuda berkisar 25 tahun. Daerah yang paling banyak berasal dari Gandus, Seberang Ulu 1 dan Ilir Barat 2.

Bantuan dari pihak sponsor di antaranya voucher belanja sebesar Rp100.000 dari JM Group, dana Rp200.000 dari Pertamina, dan baju batik serta masih banyak bingkisan menarik lainnya. (cj7/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 10 Oktober 2012