Monday, 22 October 2012

Dewan Sumsel Ajak Diskusi Gending Sriwijaya

Terkait kontroversi Film Gending Sriwijaya yang menuai kontroversi karena budayawan dan peneliti sejarah menilai telah terjadi pembaisan sejarah, Ketua Komisi V DPRD Sumsel, MF Ridho, mengatakan, pihaknya tidak menemukan adanya anggaran yang dialokasikan untuk pembuatan film tersebut pada kegiatan mitra kerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel.

"Saya tidak tahu menggunakan anggaran Satuan Kerja Pelaksana Daerah (SKPD) mana, silakan cek saja," katanya.

Pembuatan film Gending Sriwijaya merupakan bagian kegiatan seni dan budaya. Tujuannya sangat positif sebagai media promosi seni dan budaya Sumsel. Tinggal bagaimana kita meluruskan perbedaan pendapat diantara budayawan, sejarawan dan produser film.

Untuk menciptakan persamaan pendapat, perlu dilakukan diskusi yang melibatkan semua unsur yang mengerti sejarah dan film.
<"Kita semua bukan pelaku sejarah, jadi jangan sampai menganalisa dan memberikan pendapat itu di waktu yang berbeda. Mungkin dengan melibatkan orang-orang tua kita yang mengerti sejarah bisa membantu meluruskan perbedaan yang ada," ujar Ridho.



Selain meluruskan pendapat, diskusi juga sangat bermanfaat untuk mencari data faktual mengenai sejarah di Sumsel. Sutradara juga belum bisa dinilai salah atau benar. Mungkin ia memiliki alasan dan referensi yang berbeda dalam merumuskan jalan cerita film.

"Sebenarnya saya juga belum membaca dan melihat bagaimana jalannya cerita film dibuat itu. Dengan demikian belum bisa memberikan penilaian tentang film itu," kata dia.

Budayawan seharusnya juga bersikap pro aktif untuk menciptakan pertemuan agar tidak terjadi silang pendapat dengan jarak yang jauh. Bisa membuat surat ke legislatif atau pemerintah provinsi. Setahu saya, belum ada surat yang masuk ke kami untuk membicarakan perbedaan pendapat mengenai sejarah Sriwijaya yang difilmkan itu.

Secara terpisah, Ketua DKSS Sumsel, dr Zulkhair Ali, mengatakan, kita harus lihat dari sisi positif, film ini akan membangkitkan kembali semangat Kerajaan Sriwijaya ke dalam jiwa pemuda. Persoalan yang diperdebatkan oleh budayawan benar adanya, akan tetapi ide membuat film ini juga perlu diapresisasi karena mengangkat kebesaran nama Kerajaan Sriwijaya.

"Film ini karya seni hiburan tanpa mengedepankan sisi alur sejarah yang sebenarnya. Saya hadir dalam acara gelar budaya dan silaturahim budayawan, seniman, serta tokoh masyarakat Sumsel bersama pemeran film Gending Sriwijaya 5 Agustus lalu di Griya Agung. Di sana sutradara sudah menyatakan film ini bukanlah film sejarah," katanya.

"Saya dan DKSS baru mengetahui pembuatan film ini ketika diundang dalam acara tersebut. Kami memang tidak pernah dihubungi untuk berdiskusi. Kemudian hari saya baru mengetahui jika film ini karya seni yang tidak dilandasi riwayat sejarah, karena bukan film sejarah Kerajaan Sriwijaya," ujar Zulkhair.

Diskusi dan dialog baru dapat dilakukan jika karya seni ini mengisahkan cerita sejarah yang sebenarnya dalam konsep film dokumenter. Di luar konsep itu karya film bisa dijadikan karya fiksi.

Kalau film dokumenter memang harus dilakukan riset, karena tidak boleh ada unsur fiksinya. Apa yang disampaikan oleh para seniman dan budayawan benar, tetapi film ini juga tidak salah, karena bukan film sejarah dan konsepnya juga ada unsur fiksi.

Menurut dia, dalam konteks promosi suatu daerah, konsep film dokumenter kurang bisa mencapai target karena sulit dijual dan penontonnya juga kalah bersaing dengan film hiburan. Film ini bukan berada dalam konteks film dokumenter.

Perbedaan inilah yang harus disampaikan kepada publik secara terang-terangan, sebelum film tersebut ditayangkan. Dengan adanya keterangan unsur fiksi di dalam film ini nantinya diharapkan penonton tidak terjebak pada alur cerita yang sesuai dengan sejarah yang sebenarnya.

Sebelum dimulai, seharusnya sutradara menyampaikan pesan terlebih dulu, yang menyatakan film ini merupakan karya fiksi, sehingga tidak ada yang salah menilainya. Budayawan tidak ingin kontroversi film ini dikedepankan ketimbang sisi positifnya. Persoalan tersebut bisa diatasi dengan dialog. Peluang dialog dan komunikasi itu masih terbuka.

"Saya sependapat dengan pak Nurhadi Rangkuti, selagi bisa dialog ya lakukan, jangan kita lihat dari sisi kontroversinya". (iam/wan)

Editor : Aang Hamdani
Tribun Sumsel

Gending Sriwijaya Undang Kontroversi

PALEMBANG - Film Gending Sriwijaya yang disutradarai Hanung Bramantyo menuai kontroversi. Sejumlah budayawan dan peneliti sejarah di Sumsel protes karena menilai alur cerita (plot) film menyimpang dari sejarah Kerajaan Sriwijaya. Pakaian songket dan kemben yang dikenakan bintang film itu juga dianggap keliru.

"Harus direvisi sebelum ditayangkan karena bisa jadi pembiasan sejarah," tegas Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti, Minggu (21/10).

Film Gending Sriwijaya digarap Hanung Bramantyo bekerjasama dengan Pemprov Sumsel menggunakan dana APBD senilai Rp 11 miliar. Dalam anggaran disebutkan film yang akan dibuat berjenis film dokumenter. Setelah selsai film ini dikelola Badan Aset Daerah. Tender film dimenangi Putar Production pada April 2012. Ini kerjasama kedua setelah film Mengejar Angin.

Nurhadi menilai kelemahan film Gending Sriwijaya terletak pada cerita pertentangan dan perebutan tahta oleh dua anak raja (dalam film disebut Raja Dapunta Hyang Srijayanasaa. Nama Dapunta Hyang terukir di Prasasti Kedukan Bukit, 864 Masehi).

Menurut Nurhadi, dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya tidak pernah terjadi pertentangan. Kehancuran Sriwijaya yang pernah menjadi kerajaan maritim terbesar di Nusantara disebabkan faktor eksternal, tidak ada sejarah yang mengisahkan perebutan tampuk kekuasaan di antara keturunan raja.

"Pertentangan dan kehancuran kerajaan diriwayatkan terjadi karena ada serangan dari luar kerajaan," tegas Nurhadi.

Ketua Yayasan Kebudayaan Tandipulau, Erwan Suryanegara, protes lebih keras. "Saya berani pasang leher untuk menentang film ini," katanya. Budayawan yang mendapat Magister Seni Rupa dan Desain dari Institut Teknologi Bandung ini mengatakan, kisah yang diceritakan terkesan mengada-ada karena menggabungkan Gending Sriwijaya dengan cerita Kerajaan Sriwijaya.

Dua hal ini merupakan objek yang berbeda. Gending Sriwijaya merupakan nama tarian yang diciptakan pada tahun 1943 ketika zaman penjajahan Jepang sebagai tarian penyambut petinggi Jepang ketika itu. Tari ini diciptakan Sukainah Arozak, syair diciptakan A Muhibat. Sementara Kerajaan Sriwijaya dikisahkan dalam sejarah mengalami kejayaan pada abad ke-7 hingga ke-13 masehi.

"Dua hal ini merupakan kisah yang berbeda, tidak dapat disatukan. Selisih waktu diantara keduanya jauh, berabad-abad," jelasnya.

Erwin mempermasalahkan riset yang dilakukan sutradara dan penulis skenario film karena menurutnya film ini tidak didukung riset yang cukup akan latarbelakang sejarah Sriwijaya. Kekeliruan riset juga ditunjukkan dengan kostum yang dikenakan para pemain tidak sesuai pada masanya. Para pemain mengenakan pakaian yang tidak bercirikan pakaian melayu ketika itu.

"Kemben yang digunakan itu bukan pakaian sehari-hari masyarakat ketika itu. Bagi kami, pakaian itu merupakan pakaian khusus untuk ke sungai jika hendak mandi," ungkap budayawan yang juga menjadi pengajar Palembang ini.

Sama seperti Nurhadi, perebutan kekuasaan antara kedua anak raja kerajaan yang diceritakan dalam film ini juga dipertanyakan Erwin. Sinopsis film Gending Sriwijaya mengisahkan perebutan tahta kerajaan antara dua orang anak Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa (dipesankan Slamet Rahardjo), yakni Awang Kencana (Agus Kuntjoro) dan Purnama Kelana (Syahrul Gunawan).

"Tidak ada sejarah yang mengisahkan perebutan kekuasaan oleh dua anak raja Kerajaan Sriwijaya," tegasnya.

Masyarakat Awam
Revisi yang dimaksud Nurhadi terkait tujuan awal pembuatan film dan alur cerita. Jika memang ditujukan hiburan, tanpa mengambil tema sejarah, memang dapat dibenarkan. Akan film ini tidak sekedar film hiburan yang fiktif belaka.

"Di dalam sinopsis dan judulnya, sudah jelas film ini mengangkat cerita sejarah Kerajaan Sriwijaya dan karya seni tari dan musik, Gending Sriwijaya," katanya. Nurhadi khawatir penonton film Gending Sriwijaya bisa terjebak dalam alur cerita yang ditampilkan. Ini akan membiaskan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Pemilihan judul menjadi persoalan mendasar karena tidak dapat digabungkan dengan pemahaman cerita sejarah kerajaan.

"Kalau yang menonton itu masyarakat awam, dikhawatirkan akan terjadi pembiasan sejarah, karena mereka tidak mengerti benar dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Lain halnya jika yang menonton adalah yang mengerti sejarah, tentunya tidak akan berpengaruh," katanya.

Proses produksi film yang menggunakan latar belakang sejarah, kata Nurhari, harus didahului oleh riset agar tidak bertentangan dengan sejarah sebenarnya. Gali informasi dari berbagai sumber.

"Kami tidak pernah diajak berdiskusi tentang pembuatan film ini. Seharusnya diproduksi berangkat dari data, tidak ngarang," katanya.

Jalan satu-satunya agar film ini tidak menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, menurut Nurhadi, harus diadakan diskusi dengan sejarawan, budayawan, dan yang mengerti tentang Kerajaan Sriwijaya.

"Mumpung masih ada waktu sebelum dirilis, coba diskusikan kembali dengan tokoh lokal di Sumsel. Kalau pun sudah masuk tahap editing, kan bisa direvisi sebelum tayang," ujarnya bijak.

Dikonfirmasi terkait kontroversi itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel menilai Film Gending Sriwijaya merupakan sarana promosi bagi pemerintah daerah untuk memasarkan potensi pariwitasa Sumsel ke tingkat nasional dan internasional.

"Ini merupakan satu sarana promosi kita bagi pengembangan pariwisata Sumsel di tingkat nasional dan Internasional," ujar Kadisbudpar Sumsel, Tony Panggarbesi, Jumat (19/10).

Ia menilai kontroversi kehadiran film ini di kalangan budayawan merupakan hal yang wajar, akan tetapi film ini bukan merupakan film dokumentar yang harus sesuai dengan alur sejarah. Nilai besar kerajaan Sriwijaya ditonjolkan dengan adanya film ini, sehingga menarik perhatian investor untuk menanamkan modal di Sumsel.

"Kalau film dokumenter itu tugasnya universitas dan budayawan. Ini hanya film untuk menarik perhatian dunia luar pada Sumsel, sehingga mendatangkan wisatawan dan investor," terangnya.

Disbudpar tidak terlibat langsung atas proses pembuatan film ini. Menurut Toni, proyek pembuatan film dianggarkan oleh Humas Sekretariat Daerah Provinsi Sumsel.

Dia menambahkan, pro dan kontra atas pembuatan film ini menurutnya merupakan hal yang wajar. Toni berharap agar sudut pandang terhadap kehadiran film ini juga harus disamakan sebagai alat promosi bagi daerah agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Kita harus ambil positifnya, film ini harus dilihat dari sudut pandang alat promosi bagi Sumsel. Promosi pariwisata dan menciptakan iklim investasi yang baik bagi investor, sehingga film ini tidak hanya menjadi alat hiburan semata," ungkapnya.

Film Dokumenter
Ditemui secara terpisah, Plt Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sumsel, Irene Camelyn Sinaga, mengatakan, pihaknya hanya menyeleksi perusahaan yang berminat menggarap film itu melalui tender. Sedangkan materi film diserahkan kepada sutradara.

“Panitia pengadaan barang dan jasa menyeleksi perusahaan yang berminat, setelah itu ditenderkan. Kami hanya menentukan durasi, anggaran, dan tema film. Tidak dari sudut materi, kami tidak menulis konsep skrip. Dari spesifikasi yang masuk, sebuah perusahaan dengan Hanung Bramayatho sebagai sutradaranya memenangkan tender,” ungkap Irene.

Menurut dia, dalam anggaran yang disiapkan, film yang akan dibuat berjenis film dokumenter. Tidak sebatas membicarakan sejarah, bisa juga bermakna cerita rakyat, mitos, dan improvisasi.

Terhadap kritikan yang diutarakan beberapa budayawan dan pakar sejarah yang mengatakan isi film menyimpang, Irene menganggap semua itu sebagai perhatian yang luar biasa kepada Pemprov Sumsel. Irine berjanji saran dan kritikan itu akan disampaikan pada saat tim panitia penyelenggara lelang memeriksa hasil film yang dibuat di Jakarta, Senin (22/10) ini.

Karena tidak ikut campur pada materi film, Irene mengaku belum mengetahui dengan persis jalannya cerita Gending Sriwijaya. Oleh sebab itu, ia juga tidak bisa mengatakan film itu layak atau tidak.

“Selama ini belum tahu materinya karena proses syuting masih terus berlangsung. Saya juga tidak bisa menilai film itu salah atau tidak. Fakta sejarahnya bagaimana, apakah film itu hanya kreativitas mereka saja atau tidak. Setelah diperiksa baru diketahui bagaimana isi film itu. Saya juga akan sampaikan masukan dan saran dari masyarakat,” jelasnya.

Menurut Irene, pihaknya tetap mengedepankan dan menghormati kerjasama antara Pemprov Sumsel dan perusahaan pemenang tender. Apabila isi film melenceng, pihaknya tetap membicarakan hal itu dengan produser film.

Tujuan awal pembuatan Film Gending Sriwijaya agar masyarakat Indonesia lebih mengenal budaya, dialek bahasa, dan daerah-daerah di Sumsel. Setelah diserahkan ke Badan Pengelolaan Aset Daerah, diharapkan ada kerjasama dengan pihak luar untuk mengenalkan film ini ke luar negeri.

Disebutkan Irene, Pemprov Sumsel tidak terlibat dalam riset dan studi awal pembuatan film, semua dilakukan oleh sutradara dan penulis cerita. Adapun anggaran pemenang tender film Gending Sriwijaya sekitar Rp11 miliar. Lebih besar dibandingkan Pengejar Angin, film pertama dibuat Pemprov Sumsel menggunakan dana Rp9 miliar.

"Film ini ditujukan untuk semua kalangan. Beberapa orang asli Sumsel yang sebelumnya lolos casting diberikan kepercayaan untuk memerankan beberapa tokoh di film Gending Sriwijaya," kata dia.

Syuting Selesai
Pernyataan Irene didukung Direktur Utama Putar Production, Doni, yang dibincangi Tribun melalui telepon, Jumat (19/10). Menurut dia, Film Gending Sriwijaya akan diserahkan kepada Pemprov Sumsel sebelum ditayangkan di bioskop. Putar Production sebagai perusahaan pemenang tender hanya bertugas membuat film. Kapan waktu penayangan, keuntungan, dan sasaran penonton ditentukan oleh Pemprov Sumsel.

“Film ini nantinya akan dikelola oleh Badan Aset Daerah. Semua keuntungan dari tayangan bioskop dan penjualan film masuk ke kas daerah. Namun kami masih membantu untuk kegiatan promosinya,” kata Doni.

Dia menjelaskan, film yang mengambil lokasi syuting di Kabupaten Lahat dan Pagaralam ini telah selesai dibuat. Rencananya pada 22 Oktober akan dilakukan preview penanyangan film bersama Pemprov Sumsel.

“Sriwijaya itu adalah kerajaan besar tetapi tidak meninggalkan banyak bukti sejarah. Visi dan misi film ini ingin menampilkan kebesaran itu agar bisa diketahui orang banyak,” ujar pria yang telah dua kali membuat film untuk Pemprov Sumsel ini.

Doni yakin film ini bakal lebih sukses dibandingkan produk sebelumnya Mengejar Angin. Sebagai sutradara, Hanung Bramantyo, menampilkan efek yang lebih teliti dan melibatkan banyak pemain berpengalaman. Pemain itu diantaranya Agus Kuncoro, Mathias Muchus, Sahrul Gunawan, Slamet Rahardjo, dan Julia Perez.

“Untuk riset dan isi film dilakukan Hanung. Kami itu mempunyai job desk yang berbeda. Perusahaan sebagai pihak yang mengikuti tender saja,” pungkasnya. (iam/wan)

Penulis : Ilham Yafiz
Editor : M. Taufik
Tribun Sumsel

Wednesday, 17 October 2012

Mengukur Kekuatan Kandidat Gubernur Sumatera Selatan 2013-2018

Genderang Pemilihan Gubernur (Pilgub) sudah ditabuh sejak beberapa bulan lalu. Kini, peta kekuatan masing-masing kandidat sudah mulai mengerucut. Setidaknya ada lima hingga delapan nama yang mencuat ke permukaan. Sebut saja incumbent Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra, Bupati OKI H Ishak Mekki, Bupati OKU Timur H Herman Deru, Bupati Musi Rawas H Ridwan Mukti, dan Wakil Gubernur Sumsel H Eddy Yusuf. Beberapa lain muncul sebagai calon independen, seperti mantan Pankostrad TNI yang kini jadi Komisaris PT Pusri, Letjen TNI (purn) Burhanuddin Amin, dan mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Susno Duadji.

Nama yang paling intens muncul di media dan diperkirakan memiliki kekuatan terbesar ada pada Alex Noerdin, Eddy Santana, Ishak Mekki, dan Herman Deru. Hanya saja belum ada survei yang menyatakan dukungan signifikan untuk para bakal calon gubernur Sumsel periode 2013-2018 tersebut. Beberapa pengamat politik yang juga akademisi malah melihat kekuatan para calon dari apa yang sudah mereka lakukan selama ini ketika menjadi kepala daerah. Maklum, beberapa nama yang mulai mengisi ruang publik hampir rata-rata kepala daerah aktif yang juga impinan parpol atau ormas di Sumsel.

Pengamat politik dari Universitas Sriwijaya, Dra Diah Hapsari ENH MSi mengatakan, kekuatan kandidat belum belum bisa dikatakan signifikan tanpa ada kajian ilmiah melalui survei. "Saya belum bisa sebutkan siapa yang paling kuat dan siapa yang kurang. Sebab, semua harus melalui kajian survei," kata Diah kepada Sumatera Ekspres, kemarin.

Selain itu, Lanjut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tersebut, hampir semua kandidat sudah melakukan sosialisasi untuk merebut hati rakyat. "Kita lihat pendidikan politik di Sumsel sudah mulai dewasa. Tampak di banner-banner, spanduk, kunjungan di lapangan dan sosialisasi tampil di media massa," kata Diah.

Pengamat dari IAIN Raden Fatah, Prof Dr Ris'an Rusli MA mengatakan, kandidat yang diperkirakan mendapat hati di masyarakat yaitu kandidat yang sudah melaksanakan amanah dengan baik. "Masyarakat kita sudah pandai menilai mana calon pemimpin yang baik mana yang hanya kamuflase. Saat ini yang terpenting jualan program. Jualan agama malah tidak terlalu laku lagi," ujar pria yang menjabat Direktur Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang itu.

Ris'an mengatakan, kandidat perlu menampilkan kesederhanaan tidak bermewah-mewah. "Coba perhatikan fenomena Jokowi di DKI. Dia menunjukkan program apa yang akan lakukan ketika dipilih, bagaimana cara dia memperjuangkan rakyat kecil di bantaran Sungai Ciliwung Jakarta, dan bagaimana pedagang kaki lima akan dicerahkan nasibnya," ujarnya.

Pengamat politik Dr Andries Lionardo SIP MSi menilai, kandidat harus memiliki instrumen atau indikator agar bisa dipilih. Hanya saja, dia yakin pertarungan Pilgub Sumsel 2013 bakal seru dan panas. Soalnya masing-masing kandidat mempunyai lumbung massa dan jarinngan yang hebat-hebat.

Menurut Andries, minimal ada empat hal yang harus diperhatikan masing-masing kandidat. Pertama, apa yang telah diperbuat oleh masing-masing kandidat ketika menjadi kepala daerah. "Kan nama-nama yang muncul sebagai calon gubernur sekarang rata-rata sedang menjadi kepala daerah. Jadi masyarakat sudah tahu apa yang mereka lakukan, mengena untuk masyarakat dan yang tidak mengena untuk masyarakat," ujarnya.

Dia mencontohkan, Eddy Santana unggul di bidang sektor transportasi dengan adanya TransMusi. Herman Deru unggul dengan program pertanian. Alex Noerdin unggul dengan program kesehatan dan pendidikan gratis. "Masyarakat pasti bisa melakukan evaluasi terhadap kebijakan publik yang dilakukan ole para kandidat selama menjabat kepala daerah, bupati, atau gubernur," kata Andries.

Kedua, dilihat dari dukungan parpol. "Walaupun citra parpol sekarang sedang diragukan karena ada kesan hanya mencari duit, namun mesin parpol masih efektif untuk menggerakkan massa . Parpol masih menjadi andalan untuk membantu mendongkrak simpati masyarakat untuk kandidat," kata dia.

Ketiga, pendidikan politik bagi rakyat. Pendidikan politik itu dilihat dari visi misi atau program ke depan. Apa yang akan dijual kepada masyarakat? Kandidat harus benar-bennar menyampaikan program secara riil, bukan kamuflase. Sebab, lanjut Andries, rakyat sudah tahu janji kandidat hanya bualan atau program nyata tulus keluar dari hati. "rakyat kita sudah pintar." Dia mencontohkan, Alex Noerdin mempunyai peluang karena incumbent, dia ketua partai Golkar Sumsel, serta memiliki program kesehatan gratis dan pendidikan gratis. "Masyarakat sendiri yang bisa mengevaluasi atasprogram yang yang sudah digulirkan selama ini," kata Dosen FISiP Unsri itu.

Contoh lain, Eddy Santana. Dia memiliki mempunyai kelebihan sukses membaawa Kota Palembang makin maju, hanya saja Eddy kurang populer di pedesaan. "Makanya mesin parpol juga mempengaruhi untuk Eddy di luar kota," ulasnya. Untuk Herman Deru, kata Andries, mempunyai keunggulan karena menjadikan kabupateen pemekaran OKU Timur menjadi salah satu kabupaten lumbung pangan nasional. Hal serupa terjadi pada Ridwan Mukti, daerahnya berhasil menjadi salah satu penghasil beras untuk cadangan nasional. Begitu pula Ishak Mekki, dia memiliki jaringan parpol Demokrat hingga kepelosok desa. "Memang Ishak bellum dikenal merata di Sumsel, tapi mesin parpol yang harus bergerak," ujarnya. Untuk Eddy Yusuf, walau bukan ketua parpol atau ormas di Sumsel, namun Eddy Yusuf pernah menjadi Bupati di OKU. Eddy juga sedang menjabat Wakil Gubrnur. Hanya saja program Eddy Yusuf tidak kelihatan karena dinilai mengekor satu paket dengan program gubernur.

Keempat, faktor yang mempengaruhi masyarakat ialah calon wakil gubernur, yang akan menjadi pasangan kandidat gubernur. "Calon wakil gubernur juga penting. Apakah dia berasal dari parpol, gendernya apa, birokrat, pengusaha, tokoh agama, politisi, pebisnis sdan sebagainya. Jangan anggap enteng calon wakil gubernur, karena pasangan bisa mberpengaruh besar untuk membantu mendulang suara," pungkasnya. (asm/ce1)

No 1. Ir H Alex Noerdin SH



Kekuatan:
- Incumbent Gubernur Sumsel

- Ketua DPD Golkar Sumsel

- Basis massa antara lain di Empat Lawang, Lahat, Muba, Pagaralam, Muara Enim

- Mempunyai program Sekolah Gratis dan Kesehatan Gratis

- Sukses menjadi tuan rumah SEA Games 2011

Kelemahan:
- Kalah dalam pemilukada DKI

- Kurang basis massa di Komering

- Belum sampaikan program 2013-2018 (Basemah, Lematang, dan Musi)
No 2. Ir H Eddy Santana Putra MT



Kekuatan:
- Wali Kota Palembang

- Ketua DPD PDI Perjuangan Sumsel

- Basis massa di Palembang, OKI, OI, Banyuasin dan Lematang (Komering dan Musi)

- Sukses dengan Piala Adipura 6 kali berturut-turut

- Terkenal luas di Palembang sebagai basis kekuatan massa

- Sukses dengan program transportasi publik dan perumahan rakyat

Kelemahan:
- Kurang terkenal di pedesaan

- Kurang basis di Besemah

- Belum sampaikan program 2013-2018
No 3. H Herman Deru SH MH



Kekuatan:
- Bupati OKU Timur

- Ketua Ormas Nasdem Sumsel

- Sukses dalam program Lumbung Pangan Nasional

- Mempunyai basis massa di Komering, seperti OKU Timur, OKU, OKU Selatan, OKI

Kelemahan:
- Tidak memiliki parpol sendiri

- Kurang basis massa di kota, Musi, Besemah, dan Lematang

- Belum sampaikan program 2013-2018
No 4. Ir H Ishak Mekki MM



Kekuatan:
- Bupati Ogan Komering Ilir

- Mantan anggota DPR RI

- Ketua DPP Partai Demokrat Sumsel

- Sukses dengan program dan kesehatan gratis

- Memiliki basis massa di Komering, OKI dan OI

Kelemahan:
Kurang terkenal di pedesaan selain OKI dan OI

- Kurang terkenal di Kota Palembang

- Belum sampaikan program 2013-2018
No 5. H Ridwan Mukti SH MH



Kekuatan:
- Bupati Musi Rawas

- Mantan anggota DPR RI

- Ketua DPP Partai Golkar

- Mempunyai basis massa di Musi, Mura dan Lubuklinggau
- Ketua ICMI Sumsel

Kelemahan:
- Kurang terkenal di Kota Palembang

- Belum sampaikan program 2013-2018
N0 6. H Eddy Yusuf SH MH



Kekuatan:
- Wakil Gubernur Sumsel

- Mantan Bupati OKU

- Memiliki basis massa di Komering, OKU dan OKI, Lematang, dan Musi

- Tidak sebagai ketua partai

Kelemahan:
- Kurang dikenal programnya, karena terkesan mengikuti program gubernur (satu paket)

- Tidak memiliki basis massa di Besemah

- Belum sampaikan program 2013-2018


Sumatera Ekspres, Selasa, 16 Oktober 2012

Monday, 15 October 2012

Target Keruk Satu Juta Lumpur

Pada tiga Lokasi di Muara Musi

PALEMBANG -- Administrator Pelabuhan (Adpel) Palembang pasang target mengeruk satu juta meter kubik lumpur yang berada di dasar muara Sungai Musi. Ada tiga lokasi pengerukan, yakni ambang luar C2, C3, dan selat Jaran.

Pengerukan menggunakan kapal TSHD Perintis 2000 dan TSHD Inai Kesuma. “Kami mampu mengeruk lumpur satu juta meter kubuk pada tiga lokasi tersebut. Kapal Perintis 2000 mampu mengeruk sekitar 18.150 meter kubik per hari, sedang kapal TSHD Inai Kesuma 11.550 meter kubik,” kata Bakri, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengerukan Sungai Musi, kemarin ( 11/10).

Kapal Perintis 2000 melakukan penghisapan lumpur di dasar Selat Jaran. Lumpur yang didapat lalu diangkut ke dumping area (lokasi pembuangan, red) yang berjarak sekitar 6 km. Lumpur campur pasir itu dibuang dengan sistem open buttom (buka tutup, red) pada bagian bawah kapal.

“Hanya dibutuhkan waktu sekitar lima menit saja, seluruh lumpur yang disedot bisa langsung terbuang,” jelas Bakri. Sementara, kapal TSHD Inai Kesuma melakukan pengerukan di ambang luar Sungai Musi C2 dan C3. Prosesnya menerapkan cara yang sama, hanya pembuangan lumpurnya dengan sistem pompa. Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk seluruh lumpur dibuang dari kapal.

Proyek pengerukan ini diperkirakan rampung 30 Oktober mendatang. Jika pekerjaan ini selesai, kedalaman ambang luar C2 dan C3 serta Selat Jaran bisa mencapai 6-7 meter saat posisi air surut. “Kapal berukuran draf tujuh bisa melintasi alur pelayaran tersebut,” ucapnya.

Dari hasil survei yang dilaksanakan Adpel setiap tahunnya, diketahui ada beberapa titik alur pelayaran yang dangkal. Di antaranya, ambang luar Sungai Musi (C2 dan C3), utara dan selatan Payung, penyeberangan Upang, Selat Jaran, Muara Kumbang serta Sungai Lais.

Sebenarnya, kata Bakri, pelaksanaan pengerukan tersebut tidaklah optimal untuk mengatasi masalah sedimentasi di muara Sungai Musi. Pasalnya, sedimentasi di muara Sungai musi sebagai lokasi pertemuan arus Sungai Banyuasin dan Sungai Musi sangatlah tinggi.

“Diperkirakan, tingkat sedimentasinya mencapai 20 cm per bulan. Artinya, bila pengerukan dilakukan satu tahun sekali, pendangkalannya sekitar 2, 4 meter,” bebernya. Karena itu, sudah semestinya Adpel Palembang memiliki kapal keruk sendiri sehingga pengerukan alur pelayaran bisa dilakukan lebih sering. ”Harga kapal keruk sangat mahal sehingga jumlah yang ada sekarang sangat minim,” tambahnya. Sementara itu, Kasubdit Pengerukan Ditjen Perhubungan Laut, Ir Erlan Abbas MM mengatakan, hari ini pihaknya berencana akan meninjau pelaksanaan pengerukan ketiga lokasi tersebut. (yud/ce2)

Sumatera Ekspres, Jumat, 12 Oktober 2012

Sunday, 14 October 2012

River Side Resto Terapung di Tepi Musi

River Side Resto

Restoran ini bukan hanya terapung, tapi juga menyediakan kapal motor yang bisa disulap menjadi tempat makan prasmanan. Lengkap dengan sebuah dermaga kecil yang akan mengantar pengunjungnya berwisata air di sekitar Musi.

Rasanya tidak sempurna jika jalan-jalan ke Palembang, tanpa mampir ke restoran terapung di tepi Sungai Musi ini. Ya, River Side namanya. Letaknya berada condong ke bibir sungai ternama itu dan tidak jauh dari Benteng Kuto Besak. Panoramanya, sungguh luar biasa. Apalagi restoran ini berada tidak jauh dari jembatan Ampera yang mempesona dengan lampu-lampunya termasuk dari kapal-kapal yang berada di sekitarnya ketika malam hari. Sebuah pemandangan yang menakjubkan dan menambah selera makan.

Restoran ini, kata Eddy Boy, Manager River Side telah beroperasi sejak Maret 2008. Ketika itu, bertepatan dengan tahun pencanangan "Visit Musi". River Side seakan muncul sebagai representasi tempat kuliner khas Palembang sesungguhnya dan berada dekat dengan ikon kota tersebut. Akhirnya, River Side kerap menjadi referensi dan persinggahan terakhir dari tur bila ada agen wisataa yang membawa para pelancongnya.

River Side bukan hanya menjual suasana. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Kapasitasnya bisa mencapai 500 orang yang dibagi dalam beberapa ruangan yang diberi nama-nama ikan. Ruang pertama, misalnya, bernama Betutu atau kerap disebut orang Palembang sebagai “ikan malas”. Kemudian ada Ruang Seruang, dan ruang VIP bernama Ruang Betok.

Ruang Betok ini berkapasitas 75 orang dengan fasilita full AC, dan sound system. Kesannya eksklusif dan mengutamakan privasi. Sedangkan Ruang Betutu berada di lantai dua beranda restoran. Tempat ini berbatasan langsung dengan bibir sungai alias dirancang terapung. Ruang ini berkapasitas 200 orang dan menjadi tempat live music digelar. Di lantai dua ini, pengunjung juga bisa menemukan Ruang Seluang. Berkapasitas 250 orang di mana para pengunjung bisa bersantap sambil menikmati pemandangan Sungai Musi yang romantis.

Di ruang terakhir adalah dermaga. Tempat ini berkapasitas 250 orang. "Ruang Betutu dan Ruang Seruang lebih berkesan formal. Kalau mau bersantai, pengunjung bisa mengambil tempat di teras. Karena didesain terbuka dan santai," tambah Eddy.

Selain menjadi tempat makan favorit, River Side kerap dijadikan tempat menggelar perayaan ulang tahun, pesta pernikahan, atau acara-acara komunitas dan pemerintahan. "Restoran ini cocok hanya makan, acara formal, atau bersenang-senang dan santai," ujar Eddy.

Mungkin ada pengunjung yang khawatir soal sisi keamanan karena restoran ini terapung. Soal itu, jangan khawatir, sebab, kata Eddy, fondasi dan konstruksi restoran ini terbuat dari besi baja yang kuat. Meski baja-baja penyangga itu tidak dicor, tapi ditancapkan. Sebab, ada ketentuan dari Pemerintah Daerah Sumatera Selatan tidak boleh ada pengecoran di sepanjang bibir Sungai Musi.

River Side Resto

Dermaga Kecil



Yang menarik dari restoran ini adalah keberadaan centre point alias dermaga kecil agar perahu pengunjung yang ingin ke restoran dapat langsung merapat. Artinya, akses ke restoran tidak selalu harus dari jalan darat. Centre point itu dibuat lantaran kadang pengunjung yang sedang berwisata mengitari Sungai Musi, ingin segera makan.

Kunjungan itu biasanya datang dari wisatawan yang mampir ke Pulau Kemarau, pulau yang berada di tengah Sungai Musi. Pulau itu merupakan salah satu objek wisata terkenal di Palembang. Sebab, di sana dapat ditemui orang-orang keturunan lengkap dengan klenteng, prasasti kuno, dan tanaman bernama "pohon cinta".

Wisata Air


Untuk menuju ke Pulau Kemarau dapat ditempuh dengan menggunakan kapal motor berkapasitas 60-80 orang dengan jarak tempuh selama 2,5 jam. River Side menyediakan kapal motor tersebut. Jika ingin makan sambil berwisata, setiap pengunjungi bisa menggunakan kapal tersebut.

Soal tarif seharga 3,5 juta rupiah untuk rombongan. Kalau menggunakan kapal motor yang lebih kecil cukup 400 ribu rupiah. Mahal? Sebentar, harga itu sudah termasuk tour guide, solo organ, ruangan ber-AC (kapal motor besar), dan smooking area. noverta salyadi dan frans ekodhanto.

Ada Menu Ikan Malas



Mahal karena ikannya sudah sulit ditemui.
Selain pemandangannya elok, yakni Jembatan Ampera dan Sungai Musi, River Side juga memiliki menu khas Palembang yang sesungguhnya. Salah satunya yang favorit adalah Ekor Tenggiri Bakar. Ya, ekor ikan tenggriri yang beratnya sekitar satu kilogram itu dipotong kemudian dibentuk menyerupai kipas lalu dibakar dengan bumbu khusus. Sedangkan daging ikannya, biasanya dipisahkan untuk dinikmati dalam bentuk lain, yakni pempek dan sebagainya.

Kurang suka ikan? Anda juga bisa menikmati udang atau sotong segar yang ditangkap langsung dari Sungai Musi begitu ada yang memesan. Udang dan sotong itu bisa dimasak sesuai permintaan. Ada yang digoreng mentega atau khas bumbu Palembang, seperti Udang/Sotong Saos Kuto Besak. Menu ini segar dan mengundang selera. Cocok untuk mereka yang suka rasa manis pedas.

Ada pula kepiting yang langsung didatangkan dari Muara Sungsang. Kepiting ini rasanya sangat manis dan segar karena tinggal di hutan bakau yang berada di Muara Sungsang, muara yang berhubungan dengan Selat Bangka. Setiap menu dibanderol sesuai berat seafood yang akan diolah. Sebagai gambaran, Ikan Betutu atau Ikan Mala situ seharga 38 ribu rupiah per ons. Mahal? Bisa jadi ya, tapi Anda perlu tahu bahwa Betutu termasuk ikan yang sulit ditemui alias langka.

Sebagai hidangan penutup, Anda bisa memesan aneka buah lokal seperti potongan sawo, kesemek, papaya, duku, atau durian khas Palembang. Kalau ingin yang dingin-dingin bisa mencoba Es ala River Side yang terbuat dari campuran jeruk kunci dibelender bersama kulitnya. Rasanya asam, manis, dan menyegarkan. noverta salyadi dan frans ekodhanto.

Friday, 12 October 2012

Masjid Syeh Muhammad Azhari



Di Pulau Seribu, Kertapati, Bantu Musafir Beribadah, Tak Masuk Peta Kota Palembang
Menyebut nama Pulau Seribu, ingatan kita pastilah melayang ke kepulauan yang menjadi kawasan objek wisata di Jakarta. Padahal, di metropolis memiliki kawasan dengan nama serupa. Sayangnya, Pulau Seribu yang ada di Palembang berada di Kelurahan Ogan Baru, Kecamatan Kertapati, tidak banyak diketahui orang. Seperti apa tempatnya?

Menyambangi Pulau Seribu tidak begitu sulit. Masuk dari dermaga pasar induk Jakabaring, masyarakat dengan mudah dapat sampai ke sana menggunakan ketek. Ongkos dipatok pun tidak begitu tinggi. Ketika Sumeks Minggu menggunakan jasa angkutan air tradisional ini, pengemudi ketek hanya meminta biaya Rp2.000 hingga Rp3.000.

Tiba di tujuan, bayangan pulau seribu seperti objek wisata yang ada di Jakarta sirna. Bahkan, pulau-pulau seperti yang ada di pulau seribu di Jakarta dan sempat dibayangkan koran ini juga tidak terlihat.

Berdasarkan cerita masyarakat, didapat secara turun menurun, nama Pulau Seribu melekat di kawasan ini, karena dulunya terdapat gundukan-gundukan tanah menyebar di tempat mereka. Gundukan tanah tersebut cukup besar dan tinggi. Dari tiap gundukan tanah dikelilingi air sungai membuat gundukan tanah yang sangat banyak tersebut ibarat pulau.

“Itu cerita dari orang-orang tua kami. Gundukan tanah itu sempat ditanami pohon jeruk dan masih terlihat. Sekarang sudah hilang dirubah dengan tanaman padi,” ungkap H Munir (53), salah seorang warga di Pulau Seribu.

Saat ini, Pulau Seribu tetap menjadi pulau besar, dikelilingi empat sungai. Dibagian depan dibatasi dengan sungai Ogan. Sebelah kanan sungai Tapa, sebelah kiri sungai Sungki, dibelakangnya sungai Remis.

Sempat sedikit berkeliling di kawasan tersebut, Sumeks Minggu melihat daerah tersebut dikelilingi rawa. Jumlah penduduk yang ada tidak begitu banyak, mayoritas berada di pinggiran sungai Ogan. Menurut Munir, jumlah Kepala Keluarga (KK) hanya 29, dibawah naungan satu Rukun Tetangga (RT).

Meski telah dibangun jalan setapak, cor beton menghubungkan daerah tersebut ke kawasan Sungki Kertapati, hingga kini masyarakat di Pulau Seribu masih begitu dekat dengan perahu dan ketek. Untuk mencapai pusat kota Palembang, mereka masih menggunakan transportasi air.

Selain jalan darat yang masih terlalu kecil, tidak begitu banyak masyarakat memiliki kendaraan (motor,red). Lain dari itu, masyakarat setempat terlihat banyak membuat perahu jukung. Pembuatan perahu ini sudah cukup lama dilakukan.

Sejak lama tempat ini sudah dialiri listrik. Hanya saja, kesan terpencil dan tertinggal masih begitu terasa. Nah, cerita Munir pada masa Kesultanan Palembang, tempat ini sebenarnya tidak ditinggali masyarakat.

Tempat Persembunyian Perompak Hingga SMB II
Tempat ini hanya didiami para perompak sebagai persembunyian. Bahkan, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II diyakini pernah bersembunyi ditempat ini. Hal ini diketahui Munir setelah para zuriat SMB II yang ada di Ternate datang ke Pulau Seribu beberapa tahun lalu.

“Dari catatan SMB II yang dibaca para zuriatnya, SMB II pernah bersembunyi dari kejaran Belanda di Pulau Seribu. Zuriat SMB II sudah puluhan tahun mencari pulau ini. Tapi, yang terpikir oleh mereka sejak lama, Pulau Seribu yang ada di Jakarta,” jelas Akhmadi (26), anak dari H Munir.

Ketika satu dua keluarga yang awalnya mantan perompak mulai tinggal di Pulau ini, Munir mengatakan seorang ustad besar, Syeh Muhammad Azhari (1860-1938) yang giat menyiarkan Islam sempat singgah di rumah seorang mantan perompak yang tengah sakit untuk menumpang sholat. “Namanya juga mantan perompak, dia gak punya sajadah. Terus, Syeh Azhari mengobati perompak itu hingga sembuh,” jelas Munir.

Setelah sakitnya disembuhkan Syeh Azhari itulah, mantan perompak itu bertobat dan hendak belajar agama. Ia pun menghibahkan tanah miliknya untuk dijadikan masjid. Tawaran itu cepat diterima Syeh Azhari yang memang ingin membangun sebuah masjid.

Selain masyarakat Pulau Seribu, saat ini memang tak begitu banyak masyarakat yang datang ke masjid dibangun Syeh Azhari. Namun saat itu, ketika masyarakat Sumsel mengandalkan transportasi air, masjid yang dinamakan dari orang yang membangunnya (Syeh Muhammad Azhari,red) ini ramai dikunjungi. Dibangunnya masjid ini sangat membatu para musafir beribadah, menunaikan sholat.

“Orang-orang dari Indralaya dan Sumsel yang mau ke Palembang banyak lewat sini. Mereka mampir untuk sholat di sini,” jelas Munir.

Siapa Syeh Azhari? Munir mengatakan, ia merupakan kakek almarhum KH Zen Syukri. Ia merupakan ulama besar yang sempat menimba ilmu di Arab, Mesir hingga India. Cerita-cerita seputar Syeh Azhari ini, didapat Munir dari almarhum Zen Syukri.

“Saya pernah belajar dengan Abah Zen. Pernah juga jadi pembantunya ketika Abah menjadi anggota DPRD Palembang. Cerita Abah, sedari kecil ia sering main ke Masjid dibangun kakeknya ini. Waktu dia masih sehat, Abah rajin mengajar dan mengisi acara Islam di Masjid Syeh Azhari,” urai Munir.

Sedikit berbeda dengan keterangan Kgs HM Ibnu A SH MSi. Menurut anak ke-13 dari istri kedua almarhum KH Zen Syukri, jika Syeh Azhari sebenarnya adalah mertua ayahnya. Sehingga, dirinya sendiri memanggil Syeh Muhammad Azhari dengan sebutan kakek.

Nah, selama ini kitab-kitab tauhid yang pernah dibuat oleh Syeh Muhammad Azhari banyak dibawa penjajah Belanda ke Negerinya usai kemerdekaan. Keterangan Ibnu ada Sembilan kitab tauhid ditulis Syeh Muhammad Azhari.

Sedangkan wajah Syeh Azhari sendiri baru dilihatnya beberapa tahun lalu. Itu setelah salah seorang keluarganya mengambil copy wajah Syeh Azhari dari Museum di Belanda. “Banyak arsip kita memang dibawa oleh orang Belanda. Masalah ini, zuriat seperti kami tidak cukup. Ini masalah nasional. Pemerintah yang harusnya turun tangan,” tandasnya.

Kayu Kapuk Penopang Masjid Jadi Unglen
Dilihat dari arsitektur aslinya, masjid Syeh Azhari bisa dikatakan sebagai salah satu masjid tertua di Palembang. Berada di pinggiran sungai, masjid berada di atas air. Hingga bangunan harus ditunjang dengan kayu.

Namun kini, hal tersebut tak lagi terlihat. Sejak tahun 1993, bagian depan masjid sudah ditimbuni tanah. Tahun 2005, dengan bantuan Walikota Palembang, Ir Eddy Santana Putra, bagian dalam ditimbuni pasir.



Nah, sejak satu bulan lalu, masjid direhap. Bagian dinding kayu masjd yang sudah mulai ambruk diganti beton. Hanya bagian atas dipertahankan pengurus Masjid. Bagian atasnya sepintas terlihat mengadopsi culture China. Persis seperti masjid Lawang Kidul dan Kyia Merogan.

“Kalau ingin dibongkar dan dibangun baru secara keseluruhan, sudah ada yang bersedia. Tapi, pesan Abah Zen, bagian atas harus dipertahankan,” urai Akhmadi yang kini menjadi Ketua Pengurus Masjid Syeh Muhammad Azhari.

Orang yang ingin memberikan bantuan dengan membangun masjid dimaksud Azhari merupakan zuriat Syeh Azhari di Arah serta Zuriat SMB II di Ternate. Bantuan mereka pun ditolak dengan alasan pesan almarhum Zen Syukri. Alhasil, para pengurus harus mengandalkan dana swadaya untuk merehab masjid.

Dana didapat telah dikumpulkan sejak tujuh tahun lalu. Uang didapat mencapai Rp21 juta. Berjalan satu bulan, uang didapat samasekali tidak cukup. Hingga kini sudah Rp55 juta dikeluarkan pengurus Masjid. “Banyak yang bantu. Dari uang hingga material. Yang pasti, kita sudah sampaikan proposal bantuan sama Allah SWT. Itu ajaran Abah Zen,” jelas Akhmadi.

Cerita menarik dan diyakini warga sekitar seputar tiang penyangga atap masjid. Dari empat tiang utama, satu diantaranya diyakini warga merupakan kayu kapuk. Karena dibagian atasnya terdapat duri.

Hanya saja dari serat dan warna kayu, warga menyakini tiang tersebut merupakan kayu unglen. Hingga kayu tersebut dijuluki warga kayu kapuk yang berubah menjadi kayu unglen.

Bagaimana bisa? Ditanya seperti itu H Munir menjawab seadanya. “Orang besar seperti Syeh Azhari merupakan orang yang dekat dengan Allah SWT. Tentu saja kami yakin beliau memiliki kharomah,” tandasnya.

Sementara Camat Kertapati Zaini dikonfirmasi Kamis (17/5) tak banyak mengetahui sisi sejarah pulau seribu serta masjid Syeh Azhari. Pun begitu ia tak mengelak jika Pulau Seribu yang berada di wilayahnya termasuk terpencil, bahkan sedikit terbelakang.

Diakui Zaini, pulau yang satu ini tidak setenar Pulau Kemarau atau Pulokerto. Hingga tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Tempat ini terpencil karena memang belum banyak sarana yang masuk. Bahkan, diperkirakannya, pulau ini tidak masuk dalam peta kota Palembang.

“Kalau mau pasti, di cek saja di Bapedda. Mereka yang buat peta kota Palembang,” tukasnya.

Benar juga. M Syafri HN Kepala Bapedda Palembang samasekali tidak mengetahui tempat ini. Meski meminta koran ini menghubungi bawahannya Nur Hendratama ST MT di bagian Tata Ruang, Pulau ini juga tidak diketahui. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 22 Mei 2012 11:18 WIB | Sumeks Minggu

Menelusuri Percetakan Al-Qur'an



Pertama di Palembang Tahun 1848


Dibuat Demang Jaya Laksana, Gunakan Mesin Batu Dari Singapura
Kitab suci umat muslim, Al-Qur'an ternyata telah dicetak menggunakan mesin sejak 164 tahun lalu di Palembang. Tepatnya tahun 1848, dimotori Demang Jaya Laksana. Satu dari 105 Al-Qur'an yang sempat dicetak pada masa Kolonial Belanda tersebut hingga kini masih disimpan keturunannya, Baba Azim Amin MHum, dosen IAIN Raden Fatah. Lainnya, diyakini telah menyebar di negara-negara Melayu.

Sebelum mengenal mesin cetak, Al-Qur'an selama ini di produksi secara manual.Para khot atau ahli tulis kaligrafi menulis Al-Qur'an menggunakan tangan. Cara seperti ini diyakini membutuhkan waktu cukup lama.

Kelemahan mushaf (Al-Qur'an dengan tulisan tangan, red) lama kelamaan tentu saja tulisannya terus memudar. Sedikit saja terkena air atau berada di tempat lembab, tinta digunakan akan memudar. Ini juga terlihat dari enam mushaf milik Kms Andi Syarifudin, Imam Masjid Agung.

Ketika memperlihatkan mushaf miliknya, didapat secara turun menurun dari leluhurnya, lembaran-lembaran Al-Qur'an terlihat jelas telah memudar. Padahal, dilihat dari ornamennya cukup indah. Ornamennya menggunakan hiasan kembang berwarna emas, sering kita lihat pada hiasan furniture khas Palembang.

Secara umum, umur mushaf disimpan Andi berusia lebih dari 150 tahun. Tertua, bahkan mencapai 250 tahun dengan lempengan emas 18 karat. “Zaman dulu, Al-Qur'an merupakan barang yang sangat berharga. Karena itu, orang dulu memberikan lempengan emas di cover bagian depan serta belakang,” jelasnya.

Pada perkembangannya, jebolan Tarbiyah Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Raden Fatah angkatan 1990 ini mengatakan, Al-Qur'an kemudian dicetak secara masal. Di Palembang, pencetakan Al-quran pertama kali dilakukan di lorong Jaya Laksana tahun 1848 lalu. Jumlah cetakan Al-Qur'an pertama kali sebanyak 105 buah. “Yang masih menyimpan Al-Qur'an cetakan pertama itu Pak Azim,” tandas Andi.

Cetakan Pertama di Nusantara, Jaga Jati Diri Zaman Kolonial
Baba Azim Amin MHum, dosen IAIN Raden Fatah dimaksud Andi membenarkan cerita tersebut. Ditemui Sumeks Minggu di kediamannya semalam (15/9) di kawasan Lorong Jambangan Darat, Rt 13, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan SU I, Azim mengatakan, dari keterangan dalam Al-Qur'an cetakan pertama yang masih dipegangnya terdapat keterangan jelas. Bahkan, tanggal dibuatnya Al-Qur'an tersebut ditulis dalam lima kalender berbeda. Karena tulisan Al-Qur'an cetakan ini masih sangat jelas, samasekali tidak memudar.

Diterangkan Azim, jika pembuatan Al-Qur'an tersebut merupakan ide dari leluhurnya, Demang Jaya Laksono yang aslinya bernama Baba M Najib bin Demang Wiro Laksono. Lahir tahun 1808, Demang Jaya Laksono sejak berumur 11 tahun telah menjadi anak yatim. Ayahnya Wiro Laksono, ditembak mati penjajah. Pasalnya, Wiro Laksono merupakan seorang petinggi setingkat Menteri dibawah komando Sultan Mahmud Badaruddin (SMB II).

Setelah itu, Jaya Laksono muda dibawa pamannya ke kawasan Tanjung Lubuk, Kabupaten OKI. Saat ia dewasa, ia belajar di Batavia, belajar ilmu pemerintahan serta ilmu agama. Saat usia masih cukup muda, ia kembali ke OKI dan diangkat Demang Jaya oleh Menteri Prabu Anom. Itulah mengapa ia lebih terkenal dengan nama Demang Jaya Laksana.

Tahun 1836, oleh Belanda ia diangkat menjadi Kepala Divisi. Ia kemudian pindah ke Palembang dan membangun rumah limas besar yang kini masih ada di kawasan 3 Ulu, tepatnya di lorong Jaya Laksana. Rumah itupun hingga kini masih berdiri tegak.

Sekitar tahun 1838, ia berkenalan dengan Syeikh M Azhari yang baru saja menimba ilmu di Mekah. Satu orang adiknya, bernama Nona Zaleha kemudian dinikahkannya dengan Syeikh M Azhari. Dari perkenalan inilah, Demang Jaya Laksana memiliki ide untuk mencetak Al-Qur'an secara massal.

“Tujuannya untuk menjaga jati diri bangsa melayu yang mayoritas Islam dari bangsa penjajah,” ungkap Azim Amin.

Syeikh M Azhari sendiri merupakan penulis khot (kaligrafi, red) untuk dicetak. Sedangkan mesin serta tenaga pencetaknya, diyakini Azim didatangkan dari Singapura. Alasannya, pencetak Al-Qur'an bernama Ibrahim Sohib seperti tertera dalam keterangan dalam cetakan Al-Qur'an merupakan murid dari Abdullah bin Abdul Munsyi asal Singapura.

“105 Al-Qur'an itu dicetak di rumah Demang Jaya Laksana di Lorong Jaya Laksana Palembang ini. Tapi mesinnya sekarang tidak ada lagi. Saya yakini, mesin itu dibawa dari Singapura. Atau mungkin disewa. Setelah selesai mencetak Al-Qur'an, mesin dikembalikan,” jelasnya.

Kebanyakan Al-Qur'an yang ada, menurut Azim telah disebar di negara-negara Melayu. Seperti Malaysia, Singapura, Filiphina dan lainnya. Satu tersisa miliknya, didapatnya secara turun menurun. Pasalnya, Azim merupakan keturunan kelima dari Demang Jaya Laksana.

Yang mengejutkan, Azim menyatakan jika cetakan Al-Qur'an pertama di Palembang merupakan cetakan Al-Qur'an pertama di nusantara. Itu diyakininya setelah sempat bertemu dan berdiskusi bersama beberapa kalangan sejarawan dari berbagai pelosok Indonesia.

“Harusnya, Al-Qur'an ini mendapat perhatian dari Kementrian Agama,” tandasnya. (wwn)

Written by: Samuji Selasa, 18 September 2012 12:12 WIB | Sumeks Minggu